# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3674

ghostcompBarangkali ini tulisan saya yang paling tidak ilmiah, tapi jelas sangat empiris (berdasarkan pengalaman). Karena pekerjaan saya di Bandung ini selalu berurusan dengan komputer, kadang-kadang saya menemukan hal-hal yang tidak dapat dijelaskan dengan akal; mengapa sesuatu mendadak berhenti berfungsi, mengapa sesuatu tiba-tiba rusak, mengapa ada orang minta pertolongan untuk sesuatu yang tidak berfungsi di komputernya dan ketika saya datang problemnya langsung teratasi tanpa saya melakukan apapun, … Semua itu yang saya maksud. Untuk sebagian barangkali akal sehat kita akan mengasalkan itu semua pada kebetulan atau kecerobohan kita, tapi sebagai orang yang membuka diri pada perspektif apapun, akhirnya saya terusik juga untuk mengeksplorasi kemungkinan: “Apakah itu semua karena adanya intervensi dari sesuatu yang tidak kasat mata ?” Iya betul, saya menunjuk ke fenomena seperti makhluk halus itu.

Ini terutama untuk menyimpulkan pengalaman saya selama bulan puasa yang baru lalu. Di awali dengan cerita seorang teman di acara buka puasa bersama, kemudian sesuatu yang nyata yang saya alami sendiri karena saya jadi memfokuskan perhatian tentang ini di lingkungan kerja saya. Teman saya itu seorang IT Expert di sebuah BUMN yang pekerjaannya berhubungan dengan hal yang cukup kritis pada pelayanan customer. Dia cerita bahwa ada sebuah server yang bertingkah sangat aneh. Semua sudah dicek dengan baik, segalanya sudah benar, tapi tetap saja ada gangguan, bahkan mati. Langkah ekstrem pun dilakukan dengan mengganti total servernya. Masalah tetap ada. Dia sendiri merasa kesulitan harus menjelaskan masalahnya ke dewan pimpinan. Tapi akhirnya sebuah solusi yang tidak biasanya dilakukan, yaitu mengadakan pengajian di sekitar (entah, apakah mungkin di dalam) ruang server, dan masalahnya hilang. Aneh, tapi nyata :)

speedy-1Tentang saya sendiri, barangkali ada cukup banyak hal-hal remeh dalam rangka itu, tapi saya tidak pernah mencatatnya. Hanya ada satu hal yang selalu jadi perhatian saya, yaitu koneksi Internet Speedy yang dipakai kantor. Pada beberapa orang di kantor, saya adalah orang yang mungkin cukup sering jadi sasaran kesal, karena ketika mereka sedang butuh koneksi Internet, tiba-tiba koneksinya putus. Mereka (semua adalah pengguna office dan aplikasi dasar Internet) barangkali menuduh saya tidak becus mengurus Internet. Sudah saya jelaskan, tapi tampaknya tidak ada yang benar-benar maklum bahwa sering masalahnya di luar kemampuan saya, dan saya sendiri pun sering tidak bisa menggunakan Internet karena masalahnya “dari Telkom-nya sendiri”, atau: IP dari provider tidak terdeteksi, lampu modem ADSL tidak nyala, atau margin SNR pada line lebih kecil dari 15dB.

remoteSebenarnya, perhatian saya baru terarah pada kemungkinan intervensi yang halus-halus itu tadi malam. Sejak libur Idul Fitri di kantor tanggal 17 Agustus lalu persisnya saya sudah tiga kali datang ke kantor malam-malam, termasuk tadi malam. Sementara itu sudah jadi kebiasaan saya untuk melakukan koneksi remote dari rumah ke kantor. Selama bulan puasa ini, entah kenapa koneksi remote selalu lancar. Sebelumnya saya suka paranoid dengan membuat 2 dekstop dan 1 laptop dalam keadaan nyala terus dan saling terkoneksi. Kalau komputer utama remote-nya rusak, suka kepikiran masalahnya belum tentu karena koneksi Internet, maka saya remote ke komputer yang lain yang terkoneksi ke komputer utama via LAN. Demikian pula komputer satu lagi (laptop) saya gunakan sebagai cadangan. Selama bulan puasa, dua komputer cadangan itu sama sekali belum pernah saya akses. Koneksi selalu lancar. Tapi saya belum berpikir / menyadari tentang ini hingga tadi malam. Ketika saya datang ke kantor, selalu koneksi nyala mati, dan saya merasa biasa saja karena memang sudah biasanya begitu. Lalu saya gunakan modem wireless saja. Demikian juga ketika kunjungan berikutnya. Semalam, karena saya menghabiskan waktu lebih lama, saya baru sadar: kenapa kalau remote dari rumah koneksi Internet di kantor selalu lancar, tapi kalau saya datang ke kantor koneksi nyala mati ?

Masih_Dunia_LainOk cukup dengan cerita pengalaman, sekarang saya harus masuk ke yang umum. Semua saya kira harus mulai dari pernyataan “karena sesuatu tidak terdeteksi oleh indra kita, belum tentu sesuatu itu tidak ada”. Apa yang keluar dari remote control TV benar-benar tidak dapat kita lihat, tapi toh membuat perubahan pada TV. Kita tidak bisa mendengar apapun pada udara, padahal pada frekuensi di udara ada gelombang radio, misalnya. Pada wilayah yang tidak terjangkau oleh indra itulah saya kira makhluk-makhluk itu berada. Karena dikatakan makhluk, maka mereka adalah hidup. Asumsinya berangkat dari sana (Saya tahu barangkali orang yang ultra rasionalis tidak akan setuju dengan ini). Dari sini saya ingin mengaitkan dengan apa yang pernah dikatakan Citra Prima, paranormal yang mendampingi host acara “Masih Dunia Lain”, bahwa makhluk-makhluk itu memiliki tingkat energi yang rendah, sehingga bila kita berada di sekitarnya dan kita merasa takut, maka rasa takut kita yang sebenarnya merupakan energi itu bisa digunakan mereka untuk memunculkan dirinya sehingga nampak oleh kita – meskipun sebenarnya penampakan itu juga variabelnya ditentukan oleh tingkat kepekaan indra penglihatan seseorang. Ada orang-orang yang memang peka dan bisa melihat mereka, ada yang tidak, tapi konon yang tidak peka itu dengan cara tertentu bisa dibuat untuk jadi peka. Saya selalu merasa yang bisa melihat keberadaan yang halus-halus itu adalah orang yang punya kelebihan. Sementara saya dalam hal ini benar-benar buta. Saya hanya mengandalkan akal sehat, rasional, tapi membuka diri pada kemungkinan apapun.
BTW: teori yang dikatakan Citra Prima itu sebenarnya konsisten dengan apa yang pernah saya tonton di acara Ghost Lab di Discovery Channel. Pada sebuah episode digambarkan sebuah rumah besar di pinggir pantai yang penampakannya sering terlihat ketika sedang ada badai. Tim Ghost Lab akhirnya menyimpulkan bahwa makluk-makhluk itu menggunakan energi yang ada pada petir yang kerap muncul pada badai itu. Soal digunakannya energi oleh makhluk halus ini, buat saya, Amat Sangat Menarik. Tentu salah satunya karena berkaitan dengan Hukum Termodinamika itu.

elcpuKomputer, terutama yang menyala 24 jam seperti server, jelas adalah sebuah tempat di mana terdapat akumulasi energi. Dihubungkan dengan uraian di atas, maka jelaslah komputer menjadi tempat yang sangat mungkin menarik perhatian makhluk-makhluk itu. Apalagi kalau kita sadari betapa dalam komputer ada proses-proses yang bervariasi berkenaan dengan konversi, transfer, dan perubahan energi listrik lainnya. Saya yakin pada level mikro, pasti ada perbedaan fluktuasi energi antara sekedar memencet tombol enter dan melakukan defrag harddisk; merekam audio secara streaming dan menjalankan file mp3 atau multimedia lainnya; lalu misalnya apakah tegangan 5 volt itu menghasilkan kondisi yang sama ketika kita gunakan untuk flash disk atau ketika kita tancapkan ke printer atau scanner ? Dengan digunakannya bermacam-macam software pada harddisk, apakah ketika kita operasikan akan memberikan efek induksi yang sama pada komponen-komponen lain di dalam CPU ? Maksud saya dengan mengatakan ini semua adalah, siapa tahu di antara berbagai macam fluktuasi energi itu salah satunya mungkin ada yang cocok atau polanya match dengan kebutuhan makhluk halus tertentu untuk menunjang ‘hidup’nya, sehingga dia tertarik menggunakannya dan terus-menerus berada di sekitar komputer itu. Di sini saya tertarik untuk berhipotesis, apakah semakin banyak jenis hardware yang dipasang dan semakin beragam software yang digunakan, maka semakin besar kemungkinan di sekitar komputer itu ada makhluk halus ?
BTW: Inspirasi saya menuliskan soal ‘pola yang match’ itu sebenarnya dari filem Star Trek. Misalnya di episode Nemesis digambarkan pesawat Klingon dapat menembus shield-nya enterprise ketika kacamata-nya Geordi telah dimodifikasi oleh Soron sehingga ketika Geordi balik ke Enterprise awak Klingon bisa melihat ‘frekuensi’ shield Enterprise. Atau masih di episode yang sama, ketika Enterprise akhirnya bisa membuka cloak dari pesawat Klingon. Ini semua artinya, agar ‘Energi’ dapat melakukan penetrasi atau dimanfaatkan potensinya secara optimal dari satu situasi ke situasi yang lain, energi itu harus memiliki pola yang cocok atau ‘match’.
Dalam konteks makhluk halus di komputer ini, berangkat dari asumsi saya karena di dalam CPU ada bermacam-macam fluktuasi energi listrik maka mereka lebih banyak punya pilihan untuk menyerapnya daripada mendekati sebuah kompor listrik, misalnya.

Anyway, saya tidak tahu validitas dan reliabilitas dari apa yang saya tuliskan. He, he. Saya coba search, saya belum menemukan yang membahas ini dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris ada, meski tidak dalam semangat yang sama dengan saya. Ada yang kehadirannya sampai menimbulkan efek kinetik (menggerakkan sesuatu). Ada yang ingin menguasai dan terusik dengan kehadiran kita. Barangkali harus search lebih jauh untuk mendapatkan kesaksian-kesaksian yang lebih menarik. Tapi barangkali lebih penting untuk membicarakan bagaimana sebaiknya sikap kita tentang ini, entah dalam konteks penggunaan komputer atau dalam konteks yang lebih luas. Alternatifnya adalah :

  1. Mengusir mereka tanpa kecuali
    OK, tidak perlu melihat apakah ada gejala atau tidak. Langsung datangkan saja ‘orang yang bisa’. Lakukan ritual dan usir mereka. Kita bisa langsung melihat potensi abuse di sini, selain akan meningkatkan demand untuk ahli mistik dan klenik :) Tapi kalau sudah terbukti ada gangguan yang nyata, seperti pada kasus teman saya di atas, atau adanya gangguan fisik yang lebih serius, saya kira masuk akal kalau pengusiran harus dilakukan. Tapi kalau masalahnya belum jelas (seperti yang ‘mungkin’ saya alami), apakah pengusiran itu perlu ?
  2. Menganggap mereka tidak ada
    Maslow bilang soal aktualisasi diri sebagai tingkat tertinggi motivasi manusia. Saya tidak bilang bahwa makhluk halus itu juga ingin aktualisasi diri, tapi saya kira hasrat untuk dianggap ada itu nampaknya tidak hanya untuk yang hidup normal seperti manusia di alam nyata ini. Kalau kita tafsirkan, sebenarnya yang disebut ‘penampakan’ itu berasal dari sebuah keinginan mereka untuk diakui keberadaannya oleh makhluk lain (dalam hal ini manusia). Dalam kaitan ini saya suka membayangkan, kalau pada acara “Masih Dunia Lain” digunakan manusia dan muncul bayangan atau suara-suara, bagaimana kalau dalam situasi yang sama tidak pakai manusia, tapi mikropon sensitif dan kamera video saja, sementara di sekitarnya sama sekali tidak ada manusia. Apakah mereka masih akan mungkin muncul ?
    Saya berpikir, menganggap makhluk halus tidak ada malah justru akan menimbulkan ‘semangat’ yang lebih tinggi dari mereka untuk membuktikan keberadaannya. FYI, karena sebuah pengalaman pribadi, saya ingin mengatakan bahwa keinginan untuk dianggap ada itu tidak hanya pada, katakanlah, yang infra-human, tapi juga pada yang supra-human, alias yang membawa sesuatu yang divine pada dirinya. (Ketika kita diam-diam tidak percaya pada mereka, dengan ‘cara lain’ mereka membuktikan keberadaannya pada kita).
  3. Mencoba koeksis dengan mereka
    Ini yang saya pikirkan. Betapa egoisnya manusia ingin hidup sendiri di bumi ini ! He, he. Pertanyaannya, apakah mungkin kita hidup berdampingan dengan mereka ? Buat yang ‘bisa’ dan punya kemampuan supranatural, pertanyaan saya ini pasti terdengar super duper naif. Tapi maksud saya begini, kalau kita bisa berdampingan tanpa mengganggu satu sama lain, so what ? Tentu saja dengan penegasan dulu, yaitu kalau kita tanpa sengaja ternyata mengganggu mereka, mereka harus maklum karena kita tidak tahu, dan terutama karena kita manusia sebagian besar tidak bisa melihat keberadaan mereka. Atau haruskah saya bilang bahwa mereka, para makhluk halus itu, terlalu bodoh dan egois untuk mau diajak hidup bersama tanpa mengganggu satu sama lain ? Eh, atau hakikat mereka itu memang mengganggu ? (He, he, .. mungkin di sini akan ada yang mengingatkan saya pada sebuah ayat di kitab suci).

Balik lagi fokus ke soal komputer, saya ingin merangkumkan apa yang ada di pikiran saya, plus selain yang di atas, sekaligus juga pertanyaan-pertanyaan saya :

  1. Mereka adalah manifestasi energi – saya kira sudah jelas.
  2. Eksistensi mereka ingin diakui – sudah saya tuliskan di atas.
  3. Mereka tidak ingin bisa ditebak / diantisipasi.
    Saya ingin ungkapkan ini dengan seabstrak mungkin: Kalau deduksi pengalaman menginspirasi kita untuk sebuah pengulangan fenomena, maka ketika situasi membawa kita berpikir kita akan menghadapi lagi fenomena yang sama, yang terjadi justru fenomena itu tidak muncul. Di Psikologi Eksistensial ini disebut Intensi Paradoksikal (Paradoxical Intention). Contoh kongkritnya misalnya, kalau saya download file penting, dan download-nya sudah mencapai 99%, dan saya menunjukkan tidak sabar atau terburu-buru, maka download itu suka gagal :) He, he, .. tidak, selamanya memang ini akibat intervensi mereka, tapi siapa tahu ? Soalnya kalau saya menunjukkan biasa-biasa saja, maka segalanya akan baik-baik saja. Ini termasuk pengalaman saya: mengapa kalau tidak ada pekerjaan penting semuanya baik-baik saja, tapi kalau ada yang mendesak dan harus segera selesai, maka mulai ada gangguan ini itu, rusak, dan sebagainya ?
  4. Tingkat Intervensi Tidak Bisa Digeneralisir
    Seberapa mengganggunya mereka tidak sama. Dengan menggunakan frase ‘makhluk halus’ saya menunjuk entitas yang karakteristiknya bisa beragam, dan bagaimana kemungkinan interaksinya dengan manusia tidak sama.
  5. (Apakah Lebih) Memperhatikan Gerak-Gerik Manusia ?r
    Ini lebih bersifat pertanyaan saya. Kalau mereka mengganggu, berarti sebelumnya mereka harus punya informasi tentang apa yang potensial untuk diganggu dari kita, dan nampaknya mereka mendasarkan informasi itu dengan ‘membaca’ yang visual dari gerak-gerik kita. Masalahnya, apakah mereka membaca email kita ? Apakah mereka tahu apa yang ada di Internet ? Apakah mereka membaca tulisan saya ini ? Somehow, saya yakin mereka memiliki keterbatasan ‘indra’, tapi entah jelasnya bagaimana.
  6. (Apakah) Mereka Tidak Mengerti Bahasa Asing ?
    Bahasa jelas adalah sebuah variabel penting dalam komunikasi. Berhubung ini di Indonesia, maka apakah mereka hanya mengerti bahasa Indonesia, atau bahkan bahasa daerah lokal ?
  7. (Apakah) Mereka Tidak Mengikuti Proses di Dalam Komputer ?
    Sama. Ini juga sebuah pertanyaan. OK ada sebuah perkiraan logis bahwa mereka menyerap energi dari komputer, tapi apakah mereka mengikuti atau tahu semuanya itu dilakukan untuk tujuan apa ? BTW, apakah mereka punya kemampuan belajar ? Termasuk belajar komputer ?
  8. (Apakah) Pengaruh Intervensi Ada Dalam Batas Teritori ?
    Ini yang terakhir saya alami. Mengapa kalau saya jauh dari komputer kantor, dan melakukan remote, koneksi Internetnya baik-baik saja, tapi kalau saya ada di dekatnya maka koneksi nyala-mati ? Apakah karena saya sedang berada di teritori makhluk halus itu maka intervensi mereka bisa berdampak, sedangkan kalau jauh tidak ? Ini memang baru tiga kali. Mungkin kebetulan juga. Makanya perlu dicoba terus menerus, sebelum mengatakan ‘remote computing adalah solusi gangguan makhluk halus pada komputer’ :))

Saya yakin ada cukup banyak orang yang mengalami gangguan atau keanehan, atau yang tidak terjelaskan dalam kaitannya dengan penggunaan komputer. Iya betul kita harus tetap rasional. Rasionalitas adalah kemampuan kita untuk memahami hal-hal yang tercerap oleh indra. Tapi kita juga punya Irasionalitas. Apakah kita akan membuang itu begitu saja ? Saya tidak tahu dengan anda, tapi kalau saya, saya membuka diri pada apapun juga, termasuk pada fenomena yang irasional.

Bagikan pada media sosial :