# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 21771

article-new_ehow_images_a08_2l_lu_difference-between-displacement-sublimation-800x800Untuk sebuah alasan yang sama sekali tidak musikal, saya merasa harus …… harus kembali bermain dan menekuni gitar (silahkan tebak itu … kata kuncinya adalah ‘sublimasi’ :)  Gitar adalah sesuatu yang dulu pernah menjadi fokus, sehingga ketika pada jaman sebelum Facebook, saya membuat sebuah mailing list yang sempat ramai: IGN. Sekarang pun mungkin tidak akan bisa mencurahkan perhatian secara sepenuh-penuhnya karena kondisinya saya sekarang adalah bekerja. Tapi sebagai sebuah sideline, saya memutuskan untuk kembali lagi. Apalagi perkembangan Internet sekarang ini benar-benar menawarkan peluang-peluang baru yang dulu tidak pernah terbayangkan.

Sementara itu, karena sebuah masalah, saya tidak bisa mengakses semua gitar koleksi saya. Tapi saya ingat bahwa belum pernah saya punya gitar akustik elektrik steel string (aess) yang bagus. Karena sejak awal terkondisikan ke lingkungan klasik dengan senar nilon, saya selalu merasa gitar aess kurang playable, neck-nya sempit, dan memerlukan tenaga ekstra untuk memainkannya, apalagi kalau harus ekspresif. Lalu perhatian saya tertuju pada Yamaha APX-500-II, species yang sempat booming dan di Kaskus banyak yang memujinya. Tapi ketika saya mencobanya langsung di sebuah toko musik, kesan lama saya itu kembali. Sampai akhirnya via Kaskus saya menemukan petunjuk untuk sebuah tempat dengan nama Kitharra.

Timberland Guitar - ARG-7C-EASebelum saya memutuskan untuk datang ke tempat itu, saya sudah membuka-buka situsnya di www.kitharra.com. Perhatian saya tertuju pada dua species dengan merek Timberline. Langsung terlihat melalui gambarnya bahwa dari body ke head, neck-nya relatif tidak mengerucut, alias lebar fret-nya lebih luas. Saya mikir, apakah ini yang selama ini saya cari ? Hari Sabtu ini saya putuskan untuk ke tempat itu. Lokasinya dekat jalan masuk di sebelah pom bensin di Jalan Pahlawan. Ingat betul jalan ini karena kolega senior saya yang sudah almarhumah dulu tinggal tak jauh dari sini.

Tempatnya tidak seluas yang saya bayangkan, tapi berbagai jenis gitar ada di situ, termasuk ukulele, guitalele, bass akustik, yang bersenar 12, dsb. Toko ini sepi, dan itu menyenangkan buat saya karena saya bisa berharap bisa fokus ditangani oleh penjaganya. Tapi saya langsung kecewa karena gitar yang saya cari itu, Timberline, ternyata tidak ada. Saya sudah ubek-ubek situsnya Kitharra jadi saya hapal betul semua merek yang dipajang. Ketika saya tanyakan satu-satu merek dan tipe yang lain, ternyata hampir semuanya juga tidak ada terpajang di situ. Saya hampir urung dan memutuskan pergi. Tapi lalu muncul penjaga toko yang mungkin lebih tahu banyak dan saya bicara lebih banyak dengannya. Saya dipersilahkan lihat-lihat dan mencoba. Ada merek Faith yang terkenal di Inggris itu, dan yang harganya di atas budget saya :( .. Ada Brunswick nilon persis dengan yang saya punya tapi dengan neck lebih pendek, ada Gillmore yang desainnya seperti inovatif, Babics yang harganya selangit, bahkan Yamaha APX-500-II pun ada, juga ada Crafter, dan beberapa merek lain.

yamaha_apx500IISaya coba lagi si APX-500-II dan kesan saya tetap bertahan. Entah kenapa saya tidak nyaman memainkannya. Apa yang bisa saya mainkan dengan baik di gitar dengan senar nilon seperti …… pokoknya saya merasa tidak bisa main gitar. Saya coba lagi APX ini dengan warna yang lain dengan jenis senar lain. Ya lebih baik, tapi tetap saja secara keseluruhan saya tidak merasa nyaman. Kata si penjaganya, APX ini sudah bagus. Lebih disarankan APX daripada Gillmore. Kayunya sudah bukan lagi triplex dan sudah banyak yang pakai. Ya tapi nampaknya ini bukan gitar saya, meski harganya terjangkau. Lalu saya diminta mencoba merek Crafter. Saya tahu harga gitar ini di atas budget saya, tapi daripada tidak mencoba sama sekali, ya saya coba saja. Hanya berapa detik memainkannya saya langsung merasa WOW! Aneh, benar-benar aneh. Secara fisik lebar neck-nya hampir sama dengan APX, tapi kenapa yang ini jauh lebih nyaman, lebih playable. Saya jadi asyik sendiri main dengan gitar ini, mencobanya dengan dan tanpa ampli. Sound projection-nya bagus, bright. Amplifikasinya juga OK. Saya lihat tipe gitar Crafter ini adalah: AGE 500 TM / VS. Karena menyenangkan, meskipun mungkin tidak akan membeli gitar ini, terpikir juga untuk mencoba Faith, yang gembar gembor iklannya di Inggris dan foto-fotonya di Internet itu bikin penasaran.

P1010729Belum sempat meminta untuk mencoba Faith ada sejumlah orang masuk dan sebuah mobil parkir di jalan masuk toko. Saya agak tidak mempedulikan itu, tapi belakangan saya tahu bahwa itu adalah pemilik Kitharra, yang juga sekaligus vokalis grup D’Cinnamons. Terus terang saya tidak begitu memperhatikan grup musik ini meskipun namanya pernah dengar, jadi saya cuek saja. Saya terus main-main coba-coba gitar Crafter itu. Tiba-tiba ada ribut-ribut kecil, entah apa itu … sampai saya menoleh dan saya melihat kue tart. Nampaknya ada yang ulang tahun, … dan eh, ternyata yang ulang tahun itu adalah pemilik tempat ini. Iseng sempat beberapa detik saya mengiringi mereka menyanyi lagu ulang tahun … (ha, ha …. bener-bener kebetulan sekali). Tapi yang super duper menyenangkan adalah karena ulang tahun itu, maka semua gitar yang dijual di toko ini didiskon cukup besar, dan diskonnya hanya sehari saja. OMG!

Gara-gara diskon itulah gitar Crafter yang beberapa menit sebelumnya langsung bikin saya jatuh cinta, harganya jadi masuk ke dalam budget saya. Yes! Hari ini barangkali memang hari keberuntungan saya :) Saya pikir bakal masih lama lagi saya akan punya gitar aess yang ok. Ternyata waktunya adalah hari ini!

mendodo

OK tulisan ini saya buat karena rasa bahagia saya hari ini dengan gitar baru. Juga untuk mengucapkan terima kasih pada yang berulang tahun, untuk diskon dan sepotong kue tart-nya :) Saya juga mengucapkan selamat ulang tahun :) Tidak lupa juga terima kasih untuk keramahtamahan staf di sana. Review tentang gitar Crafter itu sendiri barangkali akan saya tulis nanti lagi.

Bagikan pada media sosial :