# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3772

Setelah mengikuti Musyawarah Lokal (Muslok) Orari Lokal Bojonagara tanggal 20 Januari 2013 lalu, yang ditandai dengan semakin berkurangnya jumlah anggota, dan aktifitas komunikasi pada frekuensi, saya merasa terinspirasi untuk sesuatu yang mendasar tentang keamatirradioan. Saya tuangkan pada tulisan berikut.

Muslok Orari Lokal Bojonagara di PT. DI - Bandung

Di era yang semakin ditandai dengan kehadiran dan penggunaan perangkat komunikasi portabel dengan tarif murah, tidak sulit untuk memahami mengapa orang tidak memandang Komunikasi Radio sebagai sebuah pilihan praktis. Komunikasi radio tentu saja adalah cara kita berhubungan dengan orang lain menggunakan perangkat elektronik khusus yang bukan hanya menerima, tapi juga sekaligus memancar, atau disebut transceiver. Dalam bentuknya yang praktis, itu bisa seperti handy transceiver (HT), mobile radio seperti yang ada pada taksi, atau yang ditempatkan secara stasioner. Di seluruh dunia, untuk melakukan ini tidak bisa dengan cara sembarangan: membeli radio, memasang antena, lalu memancar. Frekuensi tidak bisa digunakan secara sesuka hati. Untuk itu harus ada izin. Oleh karena itu mereka yang menggunakan frekuensi untuk melakukan komunikasi harus masuk ke dalam organisasi yang mewadahinya. Untuk bergabung ke dalam organisasi itu harus dipenuhi syarat-syarat, bahkan harus lulus ujiannya pula.

orari pKarena begitu prosedurnya, maka komunikasi yang kita lakukan tentu tidak bisa dengan sembarang orang. Komunikasi hanya bisa dilakukan dengan sesama anggota organisasi itu. Di Indonesia ada dua yang diakui, yaitu Orari dan Rapi. Dengan begitu maka tambah lagi alasan bagi publik umum untuk tidak menganggap kegiatan komunikasi radio sebagai kegiatan yang layak dipilih. Kira-kira mungkin mereka akan berkata, “Kalau tujuannya komunikasi, buat apa menggunakan alat yang hanya bisa membuat kita berhubungan dengan orang-orang tertentu saja ? Apalagi untuk itu harus masuk organisasi, ikut ujian, bayar iuran, dan sebagainya ?”

Bisa jadi, itu sebuah kemungkinan yang dapat muncul pada benak anggota masyarakat tentang Komunikasi Radio. Sebuah jalan berpikir yang barangkali dapat dipahami. Tapi apakah jalan berpikir itu juga sebenarnya ada pada mereka yang sudah menjadi anggota ? Sebagai seorang anggota Orari dan juga sarjana Komunikasi, saya punya pandangan yang mungkin agak berbeda. Saya tidak selalu aktif pada kegiatan temu-darat, bahkan karena kesibukan pada pekerjaan, saya pun tidak selalu terlibat setiap saat pada kegiatan mengobrol di frekuensi, meskipun Radio saya selalu on dan stand by pada frekuensi tertentu. Meskipun untuk waktu yang cukup lama saya seperti itu, saya tidak pernah memutuskan untuk menjadi tidak aktif sama sekali, apalagi keluar dari organisasi. Oleh karena itu saya sangat menyayangkan mengapa pada Muslok yang saya hadiri kemarin itu, saya melihat jumlah yang datang sedikit. Bahkan, ada indikasi penurunan karena yang cukup banyak yang tidak memperpanjang keanggotaannya (alias, keluar dari organisasi).

Pertanyaannya adalah, apakah sinyalemen yang saya utarakan di awal tadi dapat menjadi latar belakang tidakaktifnya banyak anggota ? bahkan keluarnya anggota dari organisasi ?Termasuk, apakah itu juga semakin membuat Komunikasi Radio menjadi kurang daya tariknya bagi anggota masyarakat ?

Komunikasi (menggunakan) Radio dapat didefinisikan sebagai begini atau begitu. Saya sendiri tidak hapal. Akan tetapi barangkali agak aneh kalau saya sendiri bahkan akhirnya menghayati bahwa Keamatirradioan sebenarnya pertama-tama bukanlah soal komunikasi. Saya tidak sedang menyangkal apa yang diuraikan secara formal somewhere pada dokumen-dokumen keorganisasian amatir radio, tapi ini adalah penghayatan subyektif saya. Saya melihat, justru mereka yang niat awalnya menggunakan radio hanya untuk komunikasi, kemudian bergabung ke dalam organisasi, adalah mereka yang berpotensi (sekali lagi saya tulis: b e r p o t e n s i) tidak setia bergabung dengan organisasi, bahkan berujung pada bosan, dan akhirnya tidak menggunakan radionya lagi sama sekali.

yaesuSudah menjadi rahasia umum di kalangan anggota amatir radio bahwa ada mereka yang ikut bergabung ke dalam organisasi sebenarnya hanya sekedar ingin melegalkan penggunaan perangkat komunikasi yang telah dimilikinya. Artinya, sebelumnya mereka sudah melakukan Komunikasi dengan Radio yang dimilikinya. Lalu, karena khawatir suatu ketika akan terkena razia karena penggunaan radio / frekuensi secara ilegal, maka mereka masuk ke dalam organisasi, mendapatkan callsign, sehingga dibenarkan untuk menggunakan radio secara sah.

Orang-orang seperti itu dapat diidentifikasi dengan mudah. Segera setelah mendapatkan callsign, mereka tidak pernah terdengar ada di frekuensi. Frekuensi yang saya maksud tentu adalah frekuensi khusus yang dialokasikan. Apakah sebenarnya mereka menggunakan radionya tapi di frekuensi ilegal yang tidak dialokasikan ? Itu bisa jadi sebuah kemungkinan juga. Tapi yang absurd barangkali adalah mereka yang akhirnya memiliki callsign, tapi memancar pun tidak. Barangkali malah radionya pun tidak pernah dipasang sama sekali. Saya menduga demikian ketika membuka sebuah booklet yang isinya adalah daftar anggota aktif Lokal Bojonagara. Terlalu banyak rasanya callsign yang belum pernah saya dengar muncul di frekuensi Lokal Bojonagara, atau di frekuensi lain. Bahkan pada kegiatan net lokal pun tidak pernah saya dengar. Apakah di sini saya harus menyisakan sebuah kemungkinan yang paling optimis, seperti misalnya, … mereka tidak pernah muncul secara voice karena yang mereka lakukan adalah komunikasi data atau eksperimen komunikasi satelit ?

Kalaupun kemungkinan itu ada dan benar kenyataannya, saya duga callsigners yang demikian amat sangat sedikit. Saya ingin katakan, sama-sekali-tidak-digunakannya frekuensi untuk berkomunikasi adalah sebuah kesia-siaan (lebih tepatnya mungkin penyianyiaan) dari sebuah potensi yang bisa kita dapatkan dari komunitas. Bukankah benar, bahwa kalau kita bergabung ke dalam sebuah organisasi berarti kita bergabung dengan sebuah komunitas ? Dan komunitas berarti adalah sekumpulan orang-orang yang menekuni sesuatu secara lebih spesifik ? Oke, kalaupun tidak mesti seserius itu, bukankah dengan kontak dengan orang-orang baru berarti memperluas networking / keterhubungan sosial kita yang penting artinya untuk survival diri kita dalam kehidupan ini ? Heran, kalau niat orang-orang yang akhirnya mendapatkan callsign itu tidak sekedar melegalkan kepemilikan radio, apakah hal-hal itu tidak pernah terbersit dalam pikiran mereka ? Mengapa mereka tidak pernah terdengar di frekuensi lokal ?

chatDi satu sisi ada yang tidak pernah terdengar callsign-nya digunakan, di sisi lain ada yang justru terdengar berlebih-lebihan. Ini modus lain lagi. Justru karena ada sebuah medium penyaluran baru, maka radio digunakan sebagai ajang mengobrol. Dan kalau sudah mengobrol, apapun bisa diobrolkan. A p a p u n. Barangkali pada keamatirradioan hal seperti itu tidak ada yang bisa menyalahkan ‘secara normatif’, apalagi bila ada yang berpikir, “daripada frekuensi sepi”. Barangkali akhirnya obrolan menjadi terlalu pribadi / intim, sehingga diputuskan untuk pindah ke frekuensi yang lain, bahkan ke frekuensi yang tidak diperuntukkan bagi amatir radio. Saya pikir ini bisa jadi kemungkinan salah satu modus yang terjadi, meski tidak semua harus dibayangkan buru-buru dengan konotasi yang negatif. Soalnya ada yang lain, misalnya, callsigner yang kebetulan adalah seorang lansia. Sangat mudah untuk dibayangkan bahwa mereka sudah tidak punya orang dekat lagi yang bisa diajak bicara tentang apapun. Oleh karena itu mengobrol menggunakan radio adalah penyalurannya.

Tapi berlebih-lebihan dalam hal apapun adalah buruk. Buat saya, tidak pernah muncul di frekuensi untuk melakukan sosialisasi dengan rag-chewing (slang untuk mengobrol menggunakan radio komunikasi) adalah jelek. Sama juga, terlalu mengeksploitasi frekuensi untuk mengobrolkan hal-hal yang terlalu remeh temeh adalah sesuatu yang kurang terhormat. Mungkin akan ada yang terpikir, “kalau begitu batas kepantasannya seperti apa ?” Buat saya, itu adalah sebuah pertanyaan yang jawabannya agak sulit. Kalau kedua ujung ekstem itu adalah buruk, maka yang baik belum tentu selalu ada di tengahnya. Atau barangkali akan debatable untuk menjawab pertanyaan itu secara to the point. Akan tetapi secara subyektif saya ingin mengatakan keamatirradioan bukanlah pertama-tama soal komunikasi, meskipun perangkat yang menjadi medium interaksi anggota amatir radio adalah alat komunikasi.

Agak lama saya berpikir di sini untuk menemukan kata-kata yang tepat. Di satu sisi saya adalah anggota amatir radio yang dari hari ke hari akhirnya bisa menangkap nuansa apa yang sebenarnya jadi inti dari kegiatan organisasi. Namun di sisi lain dari bidang kesarjanaan saya, Ilmu Komunikasi atau Komunikologi, ada terasa hal yang aneh bila fenomena keamatirradioan ini dilihat dari sudut pandang atau common sense yang sudah mentradisi pada ilmu itu. Tapi memang sebaiknya tidak perlu ada upaya untuk menyatukan itu atau membuat sebuah cara pandang tunggal. Sesuatu menjadi khas karena riwayatnya. Demikian pula keamatirradioan, yang menurut saya, menjadi tidak begitu saja sebuah atribut sosial yang akan memampukan seseorang untuk memiliki akses pada sebuah alat komunikasi.

Intinya, yang mau saya katakan adalah bahwa keamatirradioan adalah tentang eksplorasi teknik. Khususnya teknik radio. Dulu komunikasi menggunakan medium elektronik begitu sulit. Diperlukan eksperimen, dan eksperimen untuk itu tidak bisa dilakukan sendirian. Diperlukan orang lain sebagai counterpart. Lalu karena ada masalah soal jangkauan pancaran, maka tentu saja diperlukan lebih banyak orang lagi yang terlibat sehingga diperlukan komunitas. Komunitas akhirnya menimbulkan semangat berbagi, yang bisa membantu menyempurnakan hasil eksperimen yang dilakukan per individu.

Kini komunikasi dengan media elektronik sudah mudah. Tapi etos pada eksplorasi teknik itu bukan berarti tidak relevan lagi, tapi menemukan konteks atau pemaknaan baru. Bukankah selalu saja ada hal yang bersifat teknik yang harus kita apresiasi pada hal-hal yang akan membuat hidup kita lebih berkualitas ? Pengertian ‘teknik’ itu bukan saja soal teknik radio, tapi bisa saja ke elektronika yang lebih luas. Bahkan kata ‘radio’ itu sendiri mendapat pemaknaan baru ketika Internet dapat disalurkan melalui gelombang radio, sehingga akhirnya ada konvergensi antara keamatirradioan dengan euforia Internet sekarang ini. Tapi ini bukan berarti jalannya linier. Selalu tetap relevan untuk melakukan eksperimen mengenai hal-hal teknik mendasar karena pengalaman teknis seseorang tidak selalu bisa direplikasi dengan sukses oleh orang lain. Maka keamatirradioan adalah sebuah bentuk pemaknaan dari semangat atau etos eksplorasi teknik itu. Ini menurut saya yang utama.

Maka apa yang bisa kita bayangkan bila masuk menjadi anggota amatir radio dengan sedikitpun tanpa ada orientasi ke arah itu ? Saya bukannya mulai memandang rendah mereka yang mungkin merasa demikian. Seperti yang saya sudah katakan di atas, tidak ada yang akan menyalahkan bila motivasi seseorang menjadi anggota amatir radio adalah untuk melakukan komunikasi saja, dalam arti mengobrol. Tapi, bukankah bila melakukan itu tanpa ada sense sedikitpun ke arah teknik sebenarnya tidak akan membuat perbedaan antara yang menjadi anggota dan tidak-menjadi-anggota amatir radio ? Maksud saya, kalau melulu ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja bukankah itu akan sama saja dengan mereka yang bukan anggota amatir radio ? Selain itu, saya katakan ini tidak dengan tendensi semua orang jadi harus belajar apapun yang sifatnya teknis. Menurut saya yang penting adalah ditumbuhkembangkannya apresiasi. Misalnya, mulai dengan sikap bahwa sebaiknya kita tidak sekedar bisa menggunakan perangkat elektronik secara praktis, tapi juga benar-benar tahu semua fiturnya, tahu apa yang harus dilakukan kalau ada gangguan kecil, tahu apa yang harus dilakukan kalau penerapannya di tempat berbeda, tahu hubungannya dengan perangkat-perangkat lain, tahu adanya perangkat dari merek lain dengan fungsi sejenis, … dan sebagainya… Bukankah hal-hal sederhana ini sangat mungkin ada dalam ‘jangkauan’ orang-orang biasa sehari-hari ? Lebih jauh lagi, bukankah juga hal-hal itu bisa berkenaan dengan perangkat-perangkat lain selain radio ? Dan bukankah pula, tidak ada tempat yang lebih baik untuk melakukan diskusi semacam itu selain di komunitas amatir radio ? (meski ada kata ‘radio’ di situ).

csItu barangkali dari cara saya melihat semua ini sebagai anggota amatir radio. Saya ingin tulis juga di sini apa yang bisa saya katakan kalau ini dilihat dari bidang keilmuan yang saya tekuni (bahkan saya ajarkan), yaitu Ilmu Komunikasi atau Komunikologi. Ada banyak detil, ada banyak kemungkinan bahasan. Tapi yang menonjol adalah semacam ironi. Ketika membicarakan hal yang teknis menggunakan perangkat radio ada pembenarannya tersendiri, bahkan saya angkat sebagai karakteristik utama keamatirradioan, maka hingga taraf tertentu itu bisa terdengar aneh. Pertanyaannya, mengapa yang dibicarakan menggunakan medium komunikasi adalah mediumnya itu sendiri ? Seolah-olah Komunikasi telah mengalami fiksasi dan berhenti membicarakan tentang situasi komunikator dan komunikan. Alih-alih yang menjadi bahan pembicaraan malah alat yang digunakan untuk menyampaikan pesannya (medium). Bukankah ini aneh ? Bukankah analog dengan, misalnya, dua orang saling menelpon menggunakan telpon selular, dan yang dibicarakan dua orang itu adalah telpon selularnya, bukan tentang urusan-urusan atau kepentingan tertentu yang melibatkan mereka berdua. Saya paling sering menemukan kasus ini di 40m, ketika orang saling mengomentari kualitas audio satu sama lain, atau yang satu berusaha membantu yang lainnya mengeset kualitas audio penerimaan, apakah condong ke treble atau bass. Anyway, dengan mengungkapkan ini saya sekedar memberikan deskripsi, bukan sebuah judgement. Sekaligus memberikan petunjuk kecil, bahwa analisis komunikologis pada fenomena keamatirradioan bisa terdengar aneh kalau kita tidak ungkap latar belakangnya.

Kembali lagi, ….

Saya sendiri tidak merasa ahli dan mampu dalam banyak sekali hal. Justru dengan bergabung di Organisasi Amatir Radio saya bisa bertemu dengan banyak orang yang ahli dalam bidang tertentu, … Dan, mengobrol di frekuensi dengan membahas hal-hal teknis sejauh ini telah memperkaya saya, tidak hanya dengan pengetahuan dan ketrampilan, tapi juga networking dengan teman-teman baru. Bayangkan, dalam keadaan biasa, mana mungkin atau mana mudah saya bisa kenal dengan: … spesialis pemasang antena, pemasang pompa air, ahli mesin, pengusaha bubut, instalatur jaringan, penjual komponen elektronik, ahli audio mobil, spesialis komunikasi penerbangan, … bahkan dokter, hingga pilot helikopter, dan masih banyak lagi. Itu mungkin yang strict berhubungan dengan yang teknis. Dalam pengertian networking dengan profesi lain, bisa ada banyak yang lain. Tapi juga harus buru-buru ditambahkan, bukan berarti menjadi anggota amatir radio harus ada dalam profesi yang distinguished. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa, menjadi anggota amatir radio membukakan kita pada potensi kontak dengan banyak orang, … yang nampaknya akan lebih mudah terjaga nuansa positifnya hubungan, manakala fokusnya adalah sesuatu yang teknis, … suatu benda yang ‘dioprek’ bersama, dibahas bersama.

Yang terakhir ini adalah sesuatu yang mungkin mudah membuat saya tergelincir. … Karena kerelatifan selamanya akan ada dalam hal apapun. Tapi yang terjadi pada saya, saya merasa sama sekali belum pernah mendapatkan sesuatu yang jelek karena saya bergabung menjadi anggota amatir radio. Maka saya mau mengatakan bahwa, bodoh sekali kalau percaya pada mitos bahwa menjadi anggota amatir radio itu akan membuat kita menghabiskan waktu ngobrol dengan orang yang tidak jelas, dengan urusan tidak jelas. Barangkali itu bisa benar, kalau motivasi menjadi anggota amatir radio adalah hanya sekedar komunikasi saja, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya.

Sambutan Perwakilan Orari Daerah Jawa Barat oleh OM Agus Gunarso - YB1LS

Lalu mengapa orang-orang itu menggantung mike-nya ? Menjual radionya ? Tidak memperpanjang lagi keanggotaannya ? Keluar dari organisasi ? Mengapa pula anggota masyarakat umum kurang tertarik bergabung ke dalam organisasi ini ? Ada bisa 1001 kemungkinan jawaban barangkali. Tapi intinya menurut saya, keamatirradioan itu bukan pertama-tama tentang / untuk komunikasi. Pertama adalah pemaknaan semangat eksplorasi teknik. Kedua, perluasan jaringan pertemanan. Baru komunikasi pada tempat ketiga. Apakah sulit bagi orang untuk mengakui ini sebagai sesuatu yang memberikan nilai positif ?

Saya bertahan hingga sekarang dengan penghayatan seperti itu. Tapi mungkin memang ini tidak untuk semua orang.

Bagikan pada media sosial :