# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3518

statSuatu ketika, saya baca sebuah berita di okezone. Judulnya langsung menyentak saya. Katanya, “70% Warga Jakarta Gila Belanja Online”. Saya tidak percaya. Menurut sebuah situs, jumlah penduduk Jakarta tahun 2010 diperkirakan mencapai 9,5 juta jiwa. Berarti 70% dari angka itu adalah 6.650.000 orang! Saya kira ini tidak masuk akal. Mana mungkin orang sebanyak itu telah mengubah pola belanjanya dari yang biasa ke online ? Setelah saya baca, ternyata angka 70% itu sebenarnya bukan dari penduduk Jakarta, tapi dari total pengunjung sebuah situs jual beli. Pertanyaannya, ini memang kesalahan naif atau disengaja sekedar untuk mencari sensasi ? Tahu lah, judul berita selalu harus dibuat heboh supaya orang mau baca.

gilabelanjaonlinePada setiap hitungan statistik yang menunjukkan kecenderungan yang berimplikasi pada klaim sebuah fenomena, selalu dipertanyakan reliabilitas dari angka yang muncul. Artinya, apakah pengukuran yang melatarbelakanginya telah benar-benar representatif menunjukkan keadaan yang ‘sebenarnya’ ? Atau apakah, misalnya, bila dilakukan pengukuran lagi, maka akan menghasilkan angka yang relatif sama / berdekatan ? Sayangnya banyak penyajian angka-angka yang di klaim sebagai hasil perhitungan / pengukuran / penelitian tidak menjelaskan itu, yang untuk sebagian memang masuk akal, karena publik tidak membutuhkan semua kerumitan itu. Tapi masalahnya adalah, bukankah di balik angka itu ada pertanggungjawaban ? Untuk kepentingan sesaat, apalagi sekedar menarik perhatian, apa barangkali tidak diperlukan tanggungjawab ?

Dalam kaitan itu, Indonesia akhir-akhir ini sering mengemuka dengan dilansirnya beberapa berita yang menyatakan bahwa negara kita ini ternyata menempati urutan tertinggi dalam beberapa hal yang terkait dengan Internet. Mulai dari soal Facebook, yang katanya Indonesia itu menempati urutan kedua dalam hal jumlah pengguna. Lalu katanya, akses web via ponsel itu terbanyak dilakukan dari Indonesia yang juga ditambahkan situs lain, bahwa dalam kaitan itu browser yang paling banyak digunakannya adalah Opera Mini, sehingga dinyatakan pula bahwa Indonesia adalah pengguna Opera Mini terbanyak di dunia. Terakhir, yang saya tahu adalah dari sebuah situs koran di Inggris, the Guardian. Koran ini bilang, pengguna Twitter terbesar di dunia adalah Indonesia, meski ini adalah negara yang katanya where millions of people are so poor they’ve never even used a computer. Apa yang harus kita katakan tentang ini ?

Untuk satu hal yang pasti semua peringkat itu adalah sebuah indikasi bahwa penetrasi Internet di Indonesia telah mengalami peningkatan yang sangat signifikan beberapa tahun terakhir ini. Tapi kalau didalami lebih jauh, saya bertanya, apakah itu sekedar angka, atau juga menunjukkan tingkat aktifitas ? Kita, pengguna Internet, tahu betul bahwa terdaftar menjadi anggota pada sebuah situs layanan berbasis web adalah satu hal, sedangkan aktif menggunakan layanan itu adalah hal lain. Maksud saya, sangat mudah untuk sekedar terdaftar, tapi untuk aktif menggunakannya itu tentu mengasumsikan beberapa hal lain. Seseorang yang aktif pada sebuah layanan web tidak saja diasumsikan punya komputer atau perangkat portabel yang terkoneksi dengan Internet, tapi juga mindset, pola kebiasaan, serta kebutuhan untuk memanfaatkannya. Dengan pikiran ini saja, saya cenderung berpendapat bahwa peringkat yang diperoleh Indonesia itu hanya sekedar angka kasar partisipan terdaftar, bukan partisipan aktif.

Yang menarik adalah, yang mengemukakan data itu nampaknya bukan dari pihak Indonesia. Karena hal ini, maka tidak akan ada alasan untuk bilang bahwa Indonesia mau jual tampang dengan angka-angka itu Akan tetapi apakah karena peringkat itu Indonesia patut bangga ? Saya khawatir sebenarnya somewhere ada pihak yang punya statistik lain yang lebih bermakna dari itu, tapi tidak dikemukakan. Misalnya, seberapa produktif konten dihasilkan dari para pengakses Indonesia ? Atau berapa banyak orang yang mencoba mengakses situs porno dari Indonesia ? Berapa banyak orang Indonesia yang mengakses dan mengunduh konten ilegal dari Internet ? Berapa banyak pengguna Facebook Indonesia yang dalam sehari meng-update statusnya ? Berapa banyak dari Indonesia yang dalam sehari memposting twit ke Twitter ? .. dan masih banyak lagi yang bisa jauh lebih bermakna daripada sekedar angka besar dengan tag “terbanyak di dunia” tadi.

Tapi sayangnya, meskipun mungkin ada, nampaknya statistik itu tidak akan mudah diperoleh. Baru tadi malam saya mendapat info dari seorang teman yang punya chart tentang tingkat produktifitas nara blog di situs blogdetik, tapi kata yang empunya, chart itu tidak boleh disebarluaskan. Saya duga, angka apapun yang menunjukkan kecenderungan di Internet bisa memiliki nilai strategis. Bisa untuk kepentingan periklanan, bisa untuk kepentingan informasi tentang seberapa populernya platform yang digunakan, yang ujung-ujungnya adalah …. :) Ya itu lagi, itu lagi.

Menjadi yang “ter” untuk sesaat mungkin bisa bikin kita terhenyak. Tapi siap-siap saja, lebih detil lagi dari angka-angka yang “ter” itu barangkali adalah sebuah kenyataan yang belum tentu manis. Apakah itu sebabnya ada gerakan Internet Sehat di Indonesia ? (yang sekaligus sebuah pengakuan bahwa penggunaan Internet di Indonesia masih jauh dari sehat ?).

Bagikan pada media sosial :