# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 4189

wwwarrows Saya masih ingat pada sebuah seminar tentang Ilmu Komunikasi di Bandung, ketika saya bertanya tentang pentingnya kajian Ilmu Komunikasi pada fenomena penggunaan komputer dan Internet. Responnya sungguh tidak memuaskan bahkan ada terkesan penghindaran. Saya maklum karena waktu itu (sekitar awal tahun 2000-an), saya sudah sangat aktif menggunakan email dan Internet, tapi pada saat yang sama sangat banyak orang menganggap sarana komunikasi ini kalau tidak terlalu teknis, masih tidak terjangkau, tidak ramah pengguna, atau malah dibayangkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Komunikasi! Ingatan saya juga masih kuat ketika saya berbicara tentang ini ke seorang pendiri PTS di Bandung yang mengkhususkan diri dalam bidang Ilmu Komunikasi; respon yang diberikan malah seperti sebuah penolakan. Nah, sekarang sudah tahun 2010. Kalau saja seminar semacam itu diadakan lagi, apakah saya akan mendapatkan respon yang, sekurangnya, apresiatif?

cmcok Ekosistem komunikasi kita dalam 10 tahun ini sudah amat sangat berubah, terutama tentu yang berkaitan dengan infrastruktur dan media. Perubahan itu membawa akibat pada bagaimana cara kita berinteraksi satu sama lain. Apakah dulu bisa dibayangkan dalam sebuah ruangan orang mengirim SMS ke orang lain di ruangan yang sama hanya karena tidak mungkin untuk berbicara dengannya langsung? Dulu komunikasi via Internet yang murah adalah email dan ada tekanan bahwa semua yang web-based itu mahal, tapi hari ini kita melihat orang membuat janji kopi darat via Facebook. Tahun 2000an mungkin sama sekali tidak ada public figure yang mengaksentuasikan dirinya secara langsung via Internet; sekarang ada twitter yang bikin heboh itu. Pernah ada saatnya telpon selular begitu eksklusif sehingga dengan memiliki nomornya saja sudah mengesankan gengsi tertentu; sekarang, meski tidak baru, tapi handset bekas bahkan dijual di emper jalan; masih berfungsi dengan amat baik dan sangat murah (kita juga tinggal menunggu waktu sebelum handset Blackberry itu adalah barang rongsokan yang bisa kita temui di pasar loak). Aneh sekali, sudah ada begitu banyak fenomena komunikasi baru, masa Ilmu Komunikasi Indonesia tidak memberikan respon sama sekali? Apakah mau dikatakan bahwa conceptual framework yang lama masih bisa dipakai untuk menjelaskan fenomena komunikasi apapun?

jcmc Kalau saya mengatakan “Ilmu Komunikasi Indonesia” mungkin itu sedikit berlebihan, tapi maksud saya adalah, saya belum melihat adanya sebuah representasi institusional yang merefleksikan adanya respon memadai dunia perguruan tinggi Indonesia pada fenomena ini. Bentuknya apa lagi kalau bukan sebuah program studi atau mungkin pusat kajian. Somewhere mungkin ada, tapi sejauh yang didapat melalui Google, temuan tentang ini masih sedikit, bahkan terlalu sedikit. Kalau kita search dengan keywords “Computer Mediated Communication” dan memilih “laman dari Indonesia” maka yang akan kita dapatkan adalah beberapa tulisan blog, cuplikan dari skripsi, satu dua orang dosen yang memberikan materinya via web, atau abstrak dari perpustakaan yang punya ekstensi online-nya. Ya memang kita tidak bisa berharap dengan cepat kita akan punya seperti JCMC di Universitas Indiana itu, yang sudah sejak 1995 online dan menampung berbagai tulisan yang menarik tentang topik ini, tapi sekurangnya saya ingin menggarisbawahi bahwa sebuah peluang nyata untuk pengembangan Ilmu Komunikasi, yang kontemporer dengan perkembangan dewasa ini adalah Computer-Mediated Communication.

tekom Kalau bentuknya sebuah jurusan barangkali tidak sederhana. Ada birokrasi yang harus ditempuh, dan masalah besarnya adalah SDM. Sekurangnya di dalamnya ada pengajar-pengajar yang menguasai materi yang berkaitan dengan internet (yang teknis, semi teknis, maupun non-teknis), Ilmu Komunikasi, dan Psikologi Sosial. Ketiganya harus dengan syarat bahwa materinya tidak saja introduksi murni, tapi juga diarahkan langsung pada field of study-nya, pada objek-nya langsung. Sebuah pusat kajian barangkali lebih memungkinkan, karena levelnya mungkin intra-institusi, meski lagi-lagi pasti akan terbentur soal SDM, dan mungkin akan ada pertanyaan kepentingan: untuk apa semua ini dibuat? Bentuk lainnya saya kira adalah sebuah mata kuliah. Saya kira perguruan tinggi yang punya Fakultas Ilmu Komunikasi sudah tidak bisa lagi memasukkan topik ini pada mata kuliah “Teknologi Komunikasi”. Nama itu terlalu luas untuk bisa menampung sebuah bahasan yang memiliki rincian topik yang sungguh banyak. Apakah kira-kira isi dari mata kuliah ini ? Apapun itu jangan sampai the same old teacher’s trick itu digunakan keterlaluan: beri saja mahasiswa tugas untuk setiap pertemuan dan setiap pertemuan isinya adalah diskusi dari makalah yang dibuat oleh mereka sendiri. Dosen tinggal kasih komentar sana sini.

sq Kira-kira apakah untuk beberapa alternatif bentuk itu ada kemungkinan resistensi? Mengapa pula saya mesti mempertanyakan ini? Ya saya masih merasa yakin bahwa bila segala syarat yang penting dipenuhi, akan ada saja hal-hal yang tidak esensial yang menjadi penghalang (Inilah Indonesia!). Hal-hal yang saya maksud bisa berkisar dari soal visi sampai soal politis interpersonal. Soal visi, barangkali akan ada yang menganggap bahwa CMC sekedar tren sesaat, masih bisa dimasukkan ke Teknologi Komunikasi, prospek ke depannya belum jelas, atau bahkan kadar ilmiahnya kurang (!). Kalau soal interpersonal, ya seperti biasa itu semua akan berupa hasil imajinasi / persepsi mereka yang berada di status quo. Bisa jadi mereka membayangkan bahwa kalau sudah berhubungan dengan komputer / internet, maka yang lain, yang tradisional, akan jadi tidak berlaku, usang, tidak akan terpakai, bahkan tersingkirkan. Boleh jadi mereka merasa akan ada counter credibility, padahal yang sebenarnya sama sekali tidak demikian. Masalah ini sebenarnya terkait dengan komunikasi antargenerasi yang amat sangat sangat sangat sangat sulit! Para senior sudah sulit untuk adaptif pada perkembangan baru (apalagi untuk mengadopsi dan menguasai) sementara pada saat yang sama mereka kurang punya kepercayaan pada yang muda. Karena inilah saya menduga, kalaupun ada sebuah tempat di mana CMC dikembangkan dengan serius di Indonesia, besar kemungkinan orang-orangnya terdiri dari mereka yang berusia di bawah 45 tahun!

grey Saya sendiri berpandangan, kalaupun berbagai bentuk representasi ilmiah tentang fenomena CMC di Indonesia pada level perguruan tinggi adalah sebuah kelangkaan atau kemewahan, sekurangnya pada berbagai kalangan, terutama para pemerhati Ilmu Komunikasi, harus ada apresiasi yang memadai tentang ini. Wilayah abu-abu (grey area) antara Ilmu Komunikasi, Informatika, dan Psikologi itu kini telah menjadi fenomena yang marak, menciptakan ekosistem komunikasi baru, dan ada cukup banyak hal yang tidak bisa dimasukkan begitu saja ke dalam kerangka konseptual Ilmu Komunikasi yang lama. Memang, untuk segalanya yang lebih dari sekedar apresiasi, harus ditempuh jalan yang berliku agar niat baik itu menjadi kenyataan. Ini terutama di negeri, di mana yang dipentingkan adalah agar para alumni cepat mendapat pekerjaan setelah lulus.

Bagikan pada media sosial :