# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 33611

learning Sudah beberapa saat sejak saya terbitkan tulisan blog dengan judul itu. Karena langsung di feed ke akun saya di Facebook, maka tanggapan banyak datang dari lingkaran pertemanan di Facebook. Apalagi saya men-tag beberapa orang. Tanggapan-tanggapan pada tulisan saya itu sungguh sangat menarik buat saya, karena menggambarkan bagaimana persepsi sebagian orang tentang CMC, sembari saya jadi bertanya-tanya juga dalam hati: “Jangan-jangan memang beginilah persepsi sebagian besar kalangan pemerhati / aktivis Ilmu Komunikasi di Indonesia”. Saya tidak berasumsi persepsi saya paling representatif, tapi ada beberapa hal pada tanggapan-tanggapan itu yang saya tidak sepakati. Untuk itulah saya merasa harus memberikan ulasan balik yang memadai, sekaligus menambahkan apa yang belum saya uraikan di tulisan pertama.

Kalau saya ringkaskan per poin, ada tiga dari tanggapan-tanggapan itu yang perlu untuk segera saya bahas, yaitu :

  1. Domain Ilmu Komunikasi ada pada tataran sosial, sehingga bahasan teknis yang berkaitan dengan komputer seharusnya dikaji oleh Fakultas yang orientasinya teknik; Informatika (atau mungkin juga Elektronika).
  2. CMC membahas bagaimana pesan dipilih dan disusun, bagaimana feedback tersampaikan melalui komputer. Belum ada kepastian apakah CMC itu merupakan sebuah bentuk komunikasi.
  3. Teori-teori yang kini telah ada pada Ilmu Komunikasi telah memadai dan dapat diterapkan pada CMC: Teori Agenda Setting, Uses and Gratification, Difusi Inovasi, Kredibilitas Media.

Yang pertama, dengan semakin digunakannya komputer dalam kehidupan, hadirnya koneksi Internet dengan tarif yang murah, fasilitas-fasilitas interaksi yang semakin beragam di Internet, dan begitu banyaknya orang yang kian hari memiliki akses pada jaringan ini, apakah kita masih bisa mengatakan bahwa domain Ilmu Komunikasi ada pada tataran sosial? Atau, lebih tepatnya, apakah untuk melakukan komunikasi manusia harus menggunakan sisi sosialnya? Apa sebenarnya pengertian sosial di sini? Sesuatu disebut sosial manakala itu menunjukkan sifat adanya keterlibatan dari dua orang lebih dengan mengacu pada hubungan-hubungan yang lebih luas pada kehidupan kemasyarakatan. Barangkali lebih detil bisa dirujuk sebuah uraian pada file ini. Tanpa didefinisikan pun barangkali kita sudah bisa merasakan nuansa kata itu, tapi masalahnya tidak akan sederhana manakala itu pada konteks komunikasi di Internet.

social-networking Saya berpendapat, ada kegiatan komunikasi melalui Internet yang masih bisa dikatakan sebagai berada pada tataran sosial dari para pelakunya. Ini menunjuk pada konteks bila kita melakukannya pada orang yang telah kita kenal, orang yang sehari-hari menjadi kolega, teman yang sering bertemu, atau pernah kenal. Saya mengatakan ini karena dalam konteks itu komunikasi melalui Internet adalah ekstensi dan/atau komplemen dari komunikasi yang dilakukan secara konvensional (tatap muka). Akan tetapi bukankah melalui Internet kita bisa melakukannya dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal? Barangkali bagi mereka yang (maaf) baru menggunakan Internet pernyataan saya itu akan terdengar sebagai sekedar sebuah kemungkinan saja, yang toh mungkin akan jarang terjadi karena bukankah kita hanya melakukan kontak dengan orang yang kita kenal? Salah besar. Malah mungkin kita harus mendefinisikan ulang pengertian “kenal” itu sendiri. Pada mailing list atau chat room, misalnya, kita bisa melakukan komunikasi dengan orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal, belum pernah kita jumpai, bahkan kita pun tidak tahu mereka ada di mana, pekerjaannya apa, kalau perlu bahkan kita pun bisa tidak tahu mereka itu laki-laki atau perempuan karena mereka menggunakan ID yang uniseks atau avatar yang tidak merujuk ke gender tertentu.

nonsocial Lalu komunikasi seperti apa yang kita lakukan pada mereka? Macam-macam. Saya, misalnya, malah menemukan bahwa saya sudah merasakan komunikasi seperti itu sebagai sebuah kebutuhan. Pada mailing list, misalnya, ada semacam etos untuk saling berbagi, diskusi, memberi informasi, saling membahas sebuah masalah yang dialami anggota, tidak peduli satu sama lain kenal secara langsung atau tidak. Ini benar-benar terjadi. Komunikasi toh terjadi juga, meski social cues yang ada sangat sedikit, atau mungkin tidak ada sama sekali. Selain itu, kita hanya berhadapan dengan kontingensi saja, berkenaan dengan apakah komunikasi itu hanya berhenti sampai di situ, berlanjut terus, atau entah kapan akan terjadi lagi dengan orang yang sama. Demikian pula, komunikasi yang terjadi bisa murni interpersonal tanpa referensi ke konteks-konteks sosial yang ada pada masing-masing. Kalau sudah begini, apakah kita masih  mengatakan bahwa komunikasi manusia dengan sesama manusia lainnya hanya bisa dilangsungkan dalam konteks sosial? Bukankah ternyata tanpa konteks itu pun esensi dari komunikasi telah dapat dilangsungkan? Atau kita mau mengatakan komunikasi dengan orang-orang seperti itu sifatnya less social? Atau kita harus definisikan ulang pengertian ‘sosial’ dalam konteks interaksi di Internet? Sebagian besar dari orang-orang yang pernah saya ajak komunikasi dengan cara seperti itu, tidak pernah saya ketahui siapa sebenarnya dan di mana, hingga kini. Meski ada beberapa yang setelah belasan tahun akhirnya bertemu muka juga.

computer_repair Masih berkaitan dengan yang pertama, adalah soal bahwa CMC itu membahas hal-hal yang sifatnya teknis komputer. Ini sebenarnya yang saya tengarai menjadi persepsi banyak orang. Saya ingin menekankan bahwa CMC sama sekali tidak membahas hal-hal itu. CMC tidak berbicara tentang mengapa koneksi di jaringan jadi putus, bagaimana mengembalikan data di harddisk yang hilang, atau mengapa permukaan monitor bisa mengalirkan listrik bila kita sentuh. Salah satu komentar dari tulisan saya bahkan mengatakan bahwa entri tulisan blog saya yang ada di kategori Komputer / Internet sebaiknya dipindahkan ke situs tertentu. Mungkin supaya bisa lebih mudah teridentifikasi. Tapi, sebenarnya tulisan-tulisan yang ada di kategori itu kalau tidak 100% teknis komputer, adalah hal-hal yang saya mau tegaskan sebagai tidak berkaitan dengan CMC sama sekali. Karena CMC berkaitan dengan komputer dan Internet, itu tidak lantas menjadikan semua tulisan tentang komputer dan Internet bisa langsung dikategorikan ke dalam bahasan CMC.

Lalu kalau begitu apa yang dibahas di CMC ? Saya kira ini sudah mengarah ke definisi. Saya merasa belum bisa mempertanggungjawabkannya secara ilmiah, tapi sejauh yang saya pahami, CMC adalah kajian tentang dinamika aspek psikososial dari penggunaan komputer dalam rangka Komunikasi. Kajian bisa diarahkan pada semua Komponen Komunikasi (komunikator, pesan, media, komunikan, efek), plus modus komunikasi dan konteks. Oleh karena itu maka pada tulisan sebelum ini saya mengatakan bahwa CMC adalah sebuah grey area antara Ilmu Komunikasi, Psikologi, Informatika, dan tentu saja Sosiologi. Barangkali tidak mudah membayangkan seperti apa contoh bahasannya. Untuk mudahnya, lihat saja sebuah situs yang representatif membahas ini. Apalagi kalau bukan JCMC (Journal of Computer Mediated Communication).

heads Yang kedua, kalau dikatakan bahwa CMC adalah tentang bagaimana pesan dipilih dan disusun dan bagaimana feedback disampaikan melalui komputer, saya kira itu terlalu menyederhanakan masalah. Saya kira CMC bukanlah sekedar penelaahan konten pesan dalam rangka, misalnya, Strategi Komunikasi. Untuk mudahnya, saya mau mengatakan, it’s a whole new world. Moga-moga saya tidak berlebihan, tapi mungkin analogis seperti kalau di bumi kita bicara gravitasi dengan segala teori Fisikanya, maka begitu kita berpindah ke planet lain, dengan gravitasi yang lain, tentu saja semua teori itu akan harus diganti. Pada CMC, kita berbicara tentang Komunikasi Manusia melalui sebuah medium komputer yang terhubungkan ke jaringan (intranet, internet, atau apapun). Tentu karena pelakunya adalah manusia, masih ada beberapa common sense pada konteks sosial yang normal, yang bisa diterapkan pada bentuk komunikasi ini. Akan tetapi karena kekhasannya, tidak bisa semuanya lantas relevan untuk dianalogikan. CMC bukan sekedar penelahaan konten dalam rangka pengorganisasian pesan, analisis efektifitas, atau analisis efeknya. Yang dibahas di dalam CMC bisa menyangkut semua aspek dari Komponen Komunikasi, konteks, modus, hingga prosesnya.

socialmedia Lalu berkenaan dengan kepastian apakah CMC merupakan sebuah bentuk komunikasi, saya malah mau mengatakan bahwa di dalam CMC ada bentuk-bentuk lain lagi yang lebih kecil / spesifik. Untuk itu saya memilih mengatakan bahwa CMC adalah sebuah Bentuk Komunikasi, sedangkan varian di dalamnya, saya sebut modus (dari kata bahasa Inggris, modes). Misalnya saja untuk email, kita bisa menunjuk ada varian point-to-point (dengan sub-varian lagi CC dan BCC), mailing list, distribution list, dan newsgroup. Untuk yang menggunakan browser kita bisa menunjuk adanya online forum, social networking, social bookmarking, social tagging, blogging, file sharing, dan sebagainya. Untuk yang menggunakan platform software tertentu kita bisa menunjuk penggunaan Yahoo Messenger, MSN Messenger, Blackberry Messenger, ….. semua ini berasumsi adanya pemetaan dengan upaya untuk membuat klasifikasi, dan ini jelas amat sangat tidak mudah. Apapun itu, saya mau mengatakan bahwa CMC adalah sebuah Bentuk Komunikasi. Dalam hal ini, akan sangat disayangkan bila mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi tidak memberi introduksi tentang ini, atau melewatkannya begitu saja pada bahasan “Ruang Lingkup Ilmu Komunikasi”, meski sekali lagi, sulit untuk membuat klasifikasi variasi bentuk komunikasi di dalam CMC.

Yang ketiga, dan yang menurut saya agak kontroversial (he, he, he ….) adalah bahwa teori-teori yang kini telah ada pada Ilmu Komunikasi telah “memadai” dan “dapat diterapkan” pada CMC. Adanya hubungan sebab akibat yang repetitif pada sebuah fenomena dan telah dapat dibuktikan secara ilmiah kausalitasnya secara universal adalah sifat dari teori, tapi apakah klaim universalitas teori lantas mesti menafikan konteks? Lokus di mana CMC terjadi adalah sebuah konteks komunikasi yang berbeda dengan komunikasi yang konvensional, di mana teori-teori yang disebutkan itu (Agenda Setting, Uses and Gratification, Difusi Inovasi, Kredibilitas Media) dikembangkan. Saya kira kata “memadai” dan “dapat diterapkan” pada CMC jadi terdengar terlalu terburu-buru. Saya juga tidak mau terburu-buru mengatakan bahwa semua teori itu irelevan dengan CMC, tapi barangkali harus ada penyesuaian, modifikasi, atau bahkan penyusunan teori dari nol sama sekali. Sebagai contoh, memang betul Uses & Gratification adalah teori yang sekilas akan langsung bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena CMC, tapi Robert LaRose & Matthew S. Eastin dalam “Journal of Broadcasting & Electronic Media” (Sept, 2004) menyebutkan apa yang dinamakannya media attendance, sebagai sebuah faktor yang harus diperhatikan. Dengan mengutip beberapa penulis lainnya, mereka mengatakan :

The addition of the Internet to the electronic media environment has renewed interest in the question of media attendance: the factors that explain and predict individual exposure to the media. Much of the research has been carried out by followers of the uses and gratifications tradition, who anticipated the medium as an exemplar of active media selection that could further validate the core tenets of that paradigm (Morris & Ogan, 1996; Newhagen & Rafaeli, 1996; Ruggerio, 2000).

Artinya, teori yang ada tidak bisa digunakan begitu saja pada konteks baru. Demikian pula hanya dengan teori Agenda Setting, yang dijelaskan di sini.

Tinggal pertanyaannya, apakah semua teori Ilmu Komunikasi yang sudah ada bisa menjelaskan semua fenomena Komunikasi pada CMC? Saya kita tidak. Saya kira akan ada saatnya ditemui kebutuhan untuk membuat teori baru.

unsn Berkaitan dengan itu, saya sebenarnya sudah melakukan eksperimen kecil, dan apa yang menjadi dugaan rahasia saya ternyata terbukti. Sebenarnya, ini berdasarkan sebuah temuan penelitian yang akhirnya menyimpulkan bahwa bila sebuah komunitas terdiri dari orang-orang yang satu sama lain telah saling mengenal atau dapat mengidentifikasi secara sosial diajak bekerjasama secara melalui Internet, maka tingkat kolaborasi yang terjadi akan cenderung lemah. Ini berbeda jika anggota komunitas itu tidak saling mengenal dan tidak dapat mengidentifikasi satu sama lain secara sosial. Nah, eksperimen saya adalah sebuah blog di http://idcmc.wordpress.com. Silahkan baca isinya dan reka sendiri eksperimen apa yang saya maksud. Kebetulan sekali yang saya undang ikut serta adalah orang-orang yang saling kenal dan bisa mengidentifikasi satu sama lain secara sosial (mereka yang sudah memberikan tanggapan pada tulisan saya sebelumnya di Facebook). Ternyata benar! Tingkat kolaborasinya rendah, … malah sebenarnya tidak ada sama sekali. Ha, ha, ha ….

Itu bukan (belum) sebuah teori. Tapi apakah kita bisa membayangkan itu bisa dideduksikan dari teori-teori Ilmu Komunikasi yang ada sekarang?

Bagikan pada media sosial :