# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2281

Dalam momen-momen interpersonal yang kritis, tidak jarang Saya menghadapi pembandingan kualitatif pengalaman hidup. Yang selalu dikatakan adalah orang itu masih belum apa-apa kalau belum mengalami pasang surut kehidupan; pernah hidup begitu senang karena punya segala yang diinginkan, pernah begitu bahagia karena orang-orang memperlakukan kita dengan hormat dan rasa cinta, selalu berada dalam gelimang uang dan merasa bisa membeli apa saja, tubuh selalu dalam keadaan prima dan jarang sekali sakit; atau sebaliknya; pernah hidup susah, pernah mendapat perlakuan buruk dari orang lain sehingga menderita dan kesulitan, pernah jatuh begitu miskin sehingga yang dimiliki hanya baju saja yang menempel di badan, pernah sakit begitu parah sehingga rasanya tinggal sejengkal lagi menuju kematian. Kalau semua itu sudah dialami, dengan cukup bangga seseorang bisa mengedepankan dirinya, entah dengan terus terang atau sekedar alusi, bahwa karenempa ia sudah tahu asam-garamnya kehidupan maka orang lain itu belum apa-apa. Orang lain mungkin hanya sekedar fasih bicara atau berargumentasi secara meyakinkan. Saya pun mendapat omongan, “Pada dasarnya ia sekedar pintar ngomong saja.”
Seperti itulah yang kerap Saya tangkap. Dan katanya, semua itu sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan pengalaman yang hanya ada dalam pikiran dan dirasakan dalam hati. Maka dari itu turbulensi intelektual dan ombang-ambingnya perasaan hanya bernilai remeh saja dan tidak akan pernah bisa memadai untuk menjadi pandu kehidupan. Karena semuanya berlangsung dalam pikiran dan perasaan, maka bentuknya misalnya bisa seperti; pernah ragu sebenarnya Tuhan itu ada atau tidak, terobesesi apakah agama itu satu-satunya jalan menuju Tuhan, bahwa hidup itu sebenarnya begitu absurd dan mudah terancam untuk tidak bermakna sama sekali, ada semacam hidden mechanism yang begitu mengatur orang-orang sementara kita merasa ada di luarnya, … atau yang cenderung konstruktif seperti pencerahan pribadi bahwa ternyata Tuhan itu hadir di mana-mana dan kita merasa bahwa dari waktu ke waktu kita menemukan koinsidensi aneh secara tidak sengaja, bahwa agama itu adalah sebuah jalan yang sebenarnya juga membuka kemungkinan bagi adanya subjektifitas, bahwa hanya dengan cinta maka eksistensi kita menjadi begitu bermakna bersama orang lain, atau kesadaran yang intens bahwa kita sebenarnya bisa bebas dengan keputusan-keputusan kita sendiri. Akumulasi hal-hal semacam ini dan nilai-nilai yang diperoleh seseorang darinya boleh jadi adalah gems of life, tapi bagi orang-orang yang mendewakan pengalaman secara vulgar, mungkin semuanya hanya sampah belaka.
Apa yang terjadi sebenarnya adalah penyederhanaan masalah. Tidak bisa dibayangkan ada orang yang seratus persen pengetahuannya berasal dari pengalaman interaksi dengan hal-hal obyektif di luar tubuhnya, atau juga tidak mungkin orang tidak pernah mengalami apapun kecuali yang ada dalam pikiran dan perasaannya. Oleh karena itu maka penghitamputihan keadaan adalah sebuah kebodohan. Memang, tapi tetap saja yang saya tangkap adalah adanya penilaian rendah pada yang kedua, sehingga yang terjadi adalah dengan gampang orang berkata bahwa pengalaman nyata adalah yang paling penting. Saya tidak tahu apakah sikap diam-diam tentang ini sebenarnya adalah sebuah excuse pada pendidikan rendah atau barangkali kenaifan, yang pada dasarnya adalah pandangan yang anti terhadap intelektualitas dan pembenaran dari kemalasan membaca buku. Atau mungkin sekedar kompensasi oral dari harga diri yang terancam ? Soalnya sikap anti intelektualitas malah justru Saya lihat pada orang-orang yang berpendidikan.
Yang jelas Saya suka merasa bertepuk tangan dalam hati ketika di satu dua kejadian Saya menyaksikan bagaimana seseorang mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Dengan nyinyir Saya menggumam, “So much for your experience!“.  Kadang bahkan Saya ingin melakukan itu dengan sinis, soalnya Saya tidak pernah terima pembandingan pengalaman secara kualitatif yang pernah ia lakukan pada Saya.  Dalam kaitan itu, Saya ingat ada yang menulis bahwa setiap orang adalah psikolog bagi dirinya sendiri. Barangkali sekarang harus ditambahkan bahwa setiap orang juga adalah seorang filsuf yang naif bagi dirinya.
Saya mungkin belum mengalami banyak hal, tapi rasanya Saya ingin selalu membela apa yang Saya yakini sebagai yang bijak dengan argumentasi terbaik Saya. It’s MY gems of life. Tapi bukankah begitu juga dengan semua orang ? Yang seharusnya terjadi adalah intersubyektifitas, bukan pembandingan. Tapi pengertian intersubyektifitas pasti akan terlalu sulit dimengerti bagi seorang empiris vulgar, meskipun sudah membuka kamus atau dijelaskan berkali-kali. Atau mungkin, kalau pun sudah paham tentang itu, tetap saja ia akan melakukannya manakala harga dirinya terancam :(

Bagikan pada media sosial :