# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 4195

Kalau kita naik sepeda lalu tiba-tiba ada orang lain yang juga naik sepeda beriringan dengan kita, apa yang terjadi ? Kita tidak kenal dia, kita tidak bertegur sapa, dan jarak kita dengan dia meski cukup jauh, tapi sudah memungkinkan kita untuk saling menyadari keberadaannya. Kemungkinan yang terjadi adalah kita akan berusaha memacu sepeda kita lebih cepat, padahal people1satu sama lain tidak ada kesepakatan untuk balapan. Saya sendiri pernah mengalami ini ketika lari pagi di sebuah lapangan sepakbola, ketika matahari masih remang-remang. Kita tidak jelas melihat siapa dia di sisi yang lain. Ketika itu hanya ada dua orang di lapangan itu, dan yang terjadi adalah, saya sendiri memacu lari saya supaya lebih cepat dari dia. Ketika itu saya belum tahu apa itu efek koaksi (coaction effect).
Saya tahu ini ketika kuliah Psikologi Sosial, dan sejak tahu itu rasanya seperti ingin mentransendensikan kecenderungan ini yang mungkin terjadi pada diri sendiri, tapi sering tidak bisa. Kita memang seringkali tetap terbawa pada arus kesadaran kita, meski pikiran kita ingin mengatakan ‘jangan’. Tapi sering-sering juga saya berpikir bagaimana caranya menerapkan apa yang saya tahu ini untuk memfasilitasi sesuatu, meski pada saatnya saya juga suka kehabisan akal.
Menurut sebuah situs ensiklopedi, efek koaksi adalah :
The effect on an individual’s task performance of the presence of other individuals engaged in the same activity. Depending on the nature of the task, the effect on performance may be positive or negative.
fbMengamati akselerasi dan dinamika perkembangan Facebook, saya jadi berpikir tentang kemungkinan relevansi teori ini. Hanya konteksnya sama sekali berbeda, yang aslinya tentu konteks Sosial, di Facebook konteksnya adalah konteks Cyber atau Virtual. Belakangan saya juga berpikir ternyata ada beberapa konteks lain yang perlu dipertimbangkan juga. Kalau aslinya adalah konteks yang synchronous dan face to face, maka di Facebook konteksnya adalah asynchronous. Selain itu, dan ini yang bagi saya adalah revolusioner secara teknologis, Facebook membuka kita untuk masih tetap berkomunikasi dengan orang-orang dari masa lalu kita. Maka kalau konteks asli teori koaksi adalah masa-kini (present), maka pada Facebook konteksnya adalah masa-lalu (past) dan masa-kini (present). Last but not least, Facebook juga fb2membuka kemungkinan interaksi dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal. Maka ada juga konteks socio-psychological proximity. Teori koaksi juga mengasumsikan itu, tapi tentu saja masih dalam kemungkinan medan interaksi. Di Facebook, sementara kemungkinan medan interaksinya adalah mediated, orang-orang sama sekali tidak berada dalam kedekatan geografis. Mereka yang tidak kita kenal adalah 100% total strangers.
Pertanyaannya sekarang adalah, bila kita mengamati fenomena Facebook melalui teori efek koaksi, kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa kita cermati ?
(Saya sambung lagi nanti, ini hanya tulis-tulis sambil menunggu anak keluar dari sekolah).

Bagikan pada media sosial :