# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 1969

Pertama kali terpikir soal ini adalah ketika saya membaca tulisan “goreng pisang”. Aneh, kenapa frase itu jadi kedengaran ok ok saja bagi banyak orang. Soalnya, bukankah yang benar adalah “pisang goreng” ? Lalu jadi kepikiran terus sejak saya melihat sebuah acara TV. Isi acaranya soal ekspose makanan-makanan aneh. Tapi yang lebih aneh buat saya adalah judul acaranya: “Extreme Kuliner”.
Entah bagaimana ‘extreme’ itu dituliskan. Apakah “ekstrem”, “ekstrim”, “extreme”, “extrem”, atau gimana … tapi yang jelas frasa itu sudah menyalahi kaidah baku Bahasa Indonesi. Itu karena yang seharusnya adalah “Kuliner Ekstrem”. Kalau mau bergaya bahasa Inggris, ya seharusnya adalah “extreme culinary”.
Pada Bahasa Inggris frasa dibentuk dengan aturan menerangkan-diterangkan (MD), sedangkan pada Bahasa Indonesia, diterangkan-menerangkan. Sudah salah begini, dan muncul ke panggung nasional, tapi tidak ada yang mengkoreksi.
Hari ini saya melihat sebuah toko automotif baru di jalan Wastukencana. Nama tokonya “Auto Variasi”. Yang kayak begini memang remeh temeh. Tapi kalau tidak ada yang mengingatkan, mungkin sekian tahun lagi Bahasa Indonesia kita akan jadi sangat kacau.

Bagikan pada media sosial :