# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3635

epsbed Saya tulis ini setelah beberapa saat ada di Bandung. Barangkali akan kurang bisa menangkap detil, tapi sebagian besar saya masih ingat. Di hari kedua inilah semua yang inti dikemukakan, meski sebenarnya tidak terlalu banyak. Ada yang tidak terlalu langsung berkaitan tapi ditampilkan. Bukankah ini adalah kumpulannya orang-orang Pusat Komputer di perguruan tinggi yang sebagian besar berminat untuk hal-hal yang teknis ? Lagian, judul pertemuan ini adalah workshop, tapi bagi saya ini lebih sebuah seminar, atau sekurangnya semiloka.
Sesi pertama diskusi panel pagi itu diawali dengan presentasi dari Direktur Akademik Dikti, yang diwakili oleh sekretarisnya. Dari judulnya, saya sudah membayangkan relevansi Inherent : “Pemanfaatan Jardiknas dalam Mendukung Program EPSBED (Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri)”, tapi sejauh yang saya dengar, uraian lebih banyak tentang EPSBED-nya sendiri. Lalu presenter kedua masih di sesi yang sama adalah sekretaris Ditjen Dikti, yang membawakan “Pemanfaatan Lapker Online untuk Perguruan Tinggi”. Persisnya, di sinilah saya benar-benar berkerut dahi. Apa yang dimaksud dengan Lapker Online ?
ppm Sesi kedua adalah dari Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Ditjen Dikti. Rasanya semua presenter tidak menyebutkan dengan jelas namanya, atau saya sendiri yang kurang mendengar, jadi saya tidak bisa menuliskan nama beliau ini. Yang disampaikan adalah tentang “Pemanfaatan Jardiknas dalam Mendukung Program Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat di Perguruan Tinggi”. Uraiannya menarik, dan bisa membuat hadirin tertawa. Pada sesi ini saya bertanya sesuatu dengan merujuk pada apa yang sudah disampaikan Dirjen Dikti di hari pembukaan malam sebelumnya, yaitu tentang jurnal online. Beliau bilang, Dikti berlangganan beberapa provider jurnal di luar negeri supaya bisa diakses secara gratis oleh semua perguruan tinggi di Indonesia, dan untuk itu Dikti sudah mengeluarkan uang 24 milyar. Saya rada terhenyak, apa betul 24 milyar ? Tapi masa Dirjen Dikti bohong ? Maka pertanyaan saya adalah kenapa pemerolehan jurnal itu diandalkan hanya pada PT atau PIC di PT yang men-download-nya? Bukankah kalau begitu 24 milyar itu sudah digunakan secara tidak efisien ? Mestinya kan ada orang di Dikti yang men-download semua jurnal yang sudah ‘dibeli’ itu, lalu diletakkan di sebuah server yang tersambung ke Inherent, buat web interface-nya, lalu semua PT di Indonesia bisa mengaksesnya, dan yang penting semua itu sudah milik Indonesia. Kedua, saya bertanya tentang search engine yang mestinya bisa dikembangkan di dalam jaringan Inherent, tapi nampaknya Bapak presenter ini tidak ngerti maksud saya. Maksud saya begini, kalau kita mengakses situs ITB via Inherent, maka konten yang ada ITB harus dicari di-search engine internal ITB, demikian pula kalau kita ke situsnya UGM. Nah, ini akan merepotkan kalau kita mau mencari dokumen lintas situs PT. Bukankah akan lebih bagus kalau ada dedicated search engine di dalam VPN Inherent ? Misalnya saya mau mencari dokumen tentang Psikologi Kognitif. Melalui search engine itu saya tidak perlu satu-satu masuk ke situs PT dan mengetikkan frase itu pada search engine-nya, cukup pada sebuah tempat, dan mungkin saya akan bisa menemukannya di UI, UGM, Unhas, Unpad, atau yang lain. Ini perlu supaya fitur yang khas dari Inherent tidak hanya VidCon saja. Kita mau bilang apa tentang koneksi Inherent itu kalau untuk ke situs yang sama kita juga sudah bisa melakukannya langsung via Internet ? Seharusnya ada yang tidak bisa dilakukan via Internet, dan hanya bisa dilakukan via Inherent. Itulah poin saya. Apakah ini terlalu sulit untuk dimengerti ?
lintasarta Yang berikutnya adalah dari PT. Lintasarta, dibawakan oleh Pak Budi Suyanto. Buat saya, sesi ini adalah sepenuhnya presentasi dalam rangka corporate knowledge atau malah mungkin promosi sekalian. Sebenarnya di sini bisa enak mengadukan bagaimana pelayanan teknisi-teknisi Lintasarta ke setiap PT dalam rangka instalasi, termasuk juga soal manajemen dan birokrasi antara Dikti dan Lintasarta. Saya tidak melakukan itu, meski sebenarnya ada alasan kuat. Bayangkan saja, katanya semua PT di Indonesia itu diberi jatah koneksi selama satu tahun (2008-2009), tapi apa yang mau dikatakan kalau pemberitahuannya saja baru sampai ke setiap PT bulan Juli 2009 ? Ke mana hilangnya waktu 6 bulan itu ? Ini jelas-jelas ada yang tidak beres dalam hal manajemen. Lebih parah lagi, ternyata bahkan sampai bulan Oktober ini, masih sangat banyak PT yang bukan saja koneksinya belum jalan, tapi perangkatnya belum sampai. Waduh! Sudah tinggal 2 bulanan lagi menjelang akhir tahun 2009. Kalaupun perangkatnya sampai lalu disambungkan, apa cukup waktu untuk menikmati Inherent? Belum lagi mungkin harus ada upaya Puskom setiap PT untuk mensosialisasikannya ke setiap dosen yang mungkin akan makan waktu. Di sini terpikir, sekurangnya, apakah fair kalau Dikti membayar Lintasarta sesuai dengan jumlah koneksi kalau kenyataannya demikian? Atau mungkin masalahnya tidak sesederhana ini? Mestinya pengumuman tentang koneksi ini sudah dilakukan sebelum tahun 2009, jadi tidak ada waktu yang terbuang. Saya masih beruntung, peralatan sudah sampai, setup hardware sudah, meski yang belum adalah setting di perangkat-nya, yang membuatnya sampai sekarang belum jalan benar. Bayangkan pada PT yang perangkatnya belum sampai. Begitu sampai, dipasang, dan tak lama kemudian dicabut lagi oleh Lintasarta (bayangkan pula PT yang untuk keperluan ini sudah terlanjur beli router fisik yang mahal, yang setelah koneksi dicabut jadi tidak terpakai lagi – masih untung kalau berikutnya digunakan untuk keperluan lokal).
bambang Sesi-sesi berikutnya nampaknya tidak lagi terlalu sesuai dengan jadwal acara. Tapi yang saya catat adalah presentasi dari Pak Bambang yang cukup kocak. Di tengah presentasi beliau ini juga sempat terjadi gempa. Cukup membuat panik, tapi acara masih tetap bisa berlangsung. Buat saya, apa yang disampaikan oleh Pak Bambang seperti membuat konfirmasi dari apa yang selama ini saya bayangkan tentang Inherent dari segi praktisnya: tentang the nature of the network, apa yang bisa dilakukan dalam jaringan itu, relasi antara local node dan sub-local node, juga sedikit banyak bagaimana seharusnya kita mensikapi pelayanan yang diberikan oleh teknisi Lintasarta. Sementara itu di tengah-tengah presentasi & coffee break ada desas-desus soal router alternatif yang tidak perlu mahal. Dari seorang teman di Jogya, Pak Wawan, sebelumnya saya dapat info bahwa sebenarnya bisa menggunakan distro Zebra untuk kepentingan ini, dan sudah ada support OSPF di situ. Tapi kemudian ada seorang network administrator dari UI, Pak Awaludin, yang bilang ke forum bahwa di salah satu FTP di server UI (yang menggunakan inisial ‘kambing’ itu”) tersedia sebuah software router yang support OSPF dan bisa dipasang secara live dari flash disk. Coba bayangkan, kalau saja saya tahu tentang ini, orang di Medan itu tidak perlu memberi saya uang jutaan untuk membeli router Cisco (sebagian, ini karena banyak orang yang tahu tapi tidak mau menuliskan di Internet tentang apa yang diketahuinya). Dari uraian Pak Awaludin ini juga saya lalu mendapatkan sedikit gambaran tentang apa itu OSPF, sebuah protokol yang akan mendahulukan jalur terdekat untuk mencapai suatu alamat. Ternyata keberadaan OSPF itu adalah dalam setting di mana koneksi Internet biasa dihubungkan dalam satu jaringan dengan Inherent. Jadi, kalau mau akses ke situs di luar Inherent seseorang akan dihubungkan langsung ke Internet, tapi kalau yang diakses adalah situs di dalam Inherent, masih dalam jaringan yang sama, router akan langsung membelokkannya ke Inherent, bukan Internet.
Pada jadwal acara ada diskusi, katanya. Saya bayangkan peserta akan dibagi ke kelompok-kelompok kecil, tahunya itu tidak terjadi.
vidcon Hari terakhir pada intinya adalah demo, terutama demo VidCon. Ini hanya bisa diselenggarakan kalau bandwidth-nya minimal 512Kbps. Buat saya yang hanya mendapat 128, yang bisa dilakukan hanyalah browsing. Mengenai hal ini, di sesi sebelumnya saya sudah tanya tentang: 1) pertimbangan apa yang membuat sebuah PT mendapat koneksi ini; 2) kenapa ada PT yang mendapat bandwidth besar dan yang kecil ? Ternyata pertimbangannya adalah karena PT yang bersangkutan memenangkan proposal K3 atau pernah mengirimkan proposal K3, meski tidak menang. Lalu soal bandwidth, gampangnya adalah, karena sebelumnya sudah dialokasikan cukup besar ke beberapa PT, maka yang ada sekarang adalah sisanya. Ya sudah, kalau begitu. Ketika itu saya langsung teringat kasus yang menimpa PT saya. Saya benar-benar mengirimkan proposal K3. Ternyata belum berhasil, tapi ketika saya datang ke Dikti untuk mengecek feedback dari para reviewer tentang kenapa proposal itu belum berhasil, si petugas di sana bilang bahwa proposal saya itu tidak ada! Dengan kekecewaan yang amat sangat saya mesti menerima kenyataan itu, padahal ketika itu ada tanda terimanya. Anehnya beberapa bulan kemudia, persisnya Juli 2009, ada surat yang datang memberitahukan bahwa karena PT anda sudah mengirimkan proposal K3 maka PT anda berhak mendapatkan koneksi Inherent. Nah! Ini artinya, di satu bagian di Dikti proposal saya dinyatakan sebagai tidak ada, tidak diterima, tapi di bagian lain dinyatakan sebagai ada. Gimana ini ? Saya lalu mengeluhkan soal document handling ini ke milis Kopertis-IV, tapi tidak ada seorang pun yang memberikan tanggapan.
Soal tidak memberikan tanggapan, akhirnya pada sesi di hari ketiga, tanpa saya duga ada seseorang yang selama ini saya cari-cari muncul di acara ini. Inisialnya A. Namanya disebutkan berulang-ulang oleh instalatur dari Lintasarta. Katanya kalau ada masalah hubungi saja beliau. Rasanya saya pernah mendengar nama itu sebelumnya. Saya duga dia akan mudah ditemukan oleh Google, dan dugaan saya benar. Hanya sayangnya orang ini ternyata tidak responsif. Saya sudah kirim email ke dia, menulis di facebook-nya, bahkan menulis pula di guest book blog-nya, tapi sampai detik itu saya belum menerima respon apapun darinya. Makanya ketika dia tampil ke depan, langsung saja saya ungkapkan itu. Dugaan saya, nampaknya pengelola Local Node tidak dibayar sama sekali oleh Dikti. Itu saja. Kalau tulisan ini dibaca oleh yang kenal dengan beliau (atau beliau sendiri), saya mohon maaf karena sudah menodong di depan panggung seperti itu, tapi I have desperately been in need of support, karena saya menganggap koneksi Inherent ini big deal. Penting sekali. Ketika itu saya bahkan tidak tahu diberi koneksi Inherent itu artinya apa, lalu router itu mesti yang gimana, mengontak Lintasarta itu ke mana, dan sebagainya.
Kalau gambaran di permukaannya seperti itu, saya kok jadi merasa harus merevisi persepsi saya pada organizational facade dari semua ini. Saya tidak akan mengatakannya secara langsung, tapi saya mau bilang bahwa nampaknya masih diperlukan waktu yang cukup lama agar jaringan Inherent ini serta segala aspek manajerial penyelenggaraaannya bisa berjalan dengan baik, efektif dan efisien. Jangan ada lagi time lag dalam hal pemberitahuan atau inisiasi, jangan lagi semua pihak yang terkait tidak responsif pada feedback (ini termasuk mau masuk jadi anggota ke milis Inherent-dikti@itb.ac.id saja proses approve-nya lama). Oleh karena itu sungguh sangat disayangkan kalau koneksi ini benar-benar akan berakhir tahun 2009 ini dan tidak bisa diperpanjang lagi.
Semua sesi workshop ini saya rekam melalui MP3 player, dan filenya dalam bentuk WAV nampaknya akan ada di halaman download situs Kopertis-IV tidak lama lagi. Selain itu, saya akan tuliskan lagi segala hal yang saya temukan, terutama nanti kalau koneksinya sudah jalan.

Bagikan pada media sosial :