# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 9277

cut-nyak-dien-1Pekerjaan dari sebuah kantor konsultan di Jakarta telah membawa saya ke tempat di mana dulu saya pernah KKN ketika mahasiswa: Sumedang. Kota kecil ini sudah berubah begitu banyak. Saya benar-benar pangling. Segera setelah saya menyelesaikan laporan pekerjaan untuk hari ini, saya sempatkan pergi ke suatu tempat yang dulu belum saya lakukan: makam Cut Nyak Dhien. Ketika KKN dulu saya menjabat Koordinator Kecamatan Sumedang Selatan, yang tingkat kesibukannya cukup tinggi. Karena kesibukan itulah saya tidak pernah bisa menyempatkan datang ke sini. Sekarang, sekira 20 tahun kemudian, baru saya lakukan itu.

Saya tahu persis lokasinya, dan kebetulan dekat dengan lokasi hotel tempat saya menginap. Saya putuskan menghabiskan waktu sore dengan jalan kaki ke makam itu. Kebetulan cuaca juga cukup cerah. Tempatnya disebut Gunung Puyuh. Di sekitarnya sama sekali tidak ada penanda jalan yang menunjukkan bahwa di sana ada makam seorang pahlawan nasional, yang sekaligus jadi petunjuk buat saya, nampaknya Pemda Kabupaten Sumedang tidak berniat menjadikan tempat ini sebagai kawasan wisata. Sebuah situs malah mengatakan bahwa Pemda setempat tidak lagi memberikan dukungan finansial pada pengelolaan makam. Tiba-tiba saya menduga, apakah ini terkait masalah kesukuan ? Apakah ini karena yang di makamkan di situ bukan orang asli Sumedang ? Kalau bukan, apa alasannya ?

IMG00052-20101128-1637Menjelang lokasi makam, ada sebuah tempat makan yang dari tulisan-tulisan pada bagian luarnya mau mengatakan bahwa yang disediakan adalah makanan khas Aceh, dan pemiliknya orang Aceh. Ah, dari sini saja terlintas ide, kenapa tidak dibuat sesuatu yang Aceh yang lebih besar dari sekedar sebuah rumah makan ? Barangkali toko cindera mata, toko buku tentang Aceh, …. Entah, di dalam rumah makan ini ada apa saja. Saya belum sempat masuk dan mencobanya. Barangkali minggu depan, karena pekerjaan ini akan membuat saya mondar-mandir Bandung – Sumedang selama bulan Desember. Tapi terpikir juga, kalau di sini dijadikan obyek wisata, lagi-lagi nampaknya akan disonan dengan kenyataan sekelilingnya. Apalagi kalau nanti obyek wisata ini jadi terkenal. Sumedang-nya sendiri kurang menonjol, misalnya, tapi ada budaya lain yang malah lebih terkenal. Susah juga.

IMG00048-20101128-1632Saya masuk ke makam itu di antar oleh seorang lelaki tua bungkuk dan matanya bengkak sebelah, yang sudah bertugas di sana sejak 1989. Dia sudah menyebutkan nama, tapi saya lupa terus. Makam ini sepi. Ketika saya tanya bagaimana soal pengunjung, dia bilang hari Minggu biasanya ada saja yang datang, bahkan belum lama ini ada rombongan dari Aceh dan Jakarta. Sebuah situs menuliskan, bahwa bulan November dan Idul Fitri adalah hari-hari di mana banyak orang datang ziarah ke makam ini. Tidak heran, karena Sang Pahlawan Besar itu lahir dan meninggal di bulan November, dibuang ke Sumedang oleh Belanda pun pada bulan yang sama.

IMG00042-20101128-1625Begitu sampai di tempat khusus untuk Cut Nyak Dhien di bagian dalam makam ini, saya hanya melihat sebentar makamnya, memotretnya, lalu sekedar tanya-tanya. Ini karena agenda saya sebenarnya tidak saja ke makan Cut Nyak Dhien, tapi juga ke makam seorang ajudan Proklamator, yaitu Brigjen Sabur. Sudah beberapa tahun lalu saya mendapat informasi dari Internet bahwa makam tokoh ini di dekat makamnya Cut Nyak Dhien, dan sejak itu lah saya penasaran ingin melihatnya. Tujuan saya amat sangat pribadi, yang tidak bisa sepenuhnya saya ungkapkan di sini. Karena satu dan lain hal, ada beberapa sanak saudara Pak Sabur yang kabur asosiasi hubungan dengannya. Akibatnya, satu dua … jadi terpencar tidak jelas di mana. Persisnya, saya berharap bisa melihat nama-nama yang terlihat pada nisan-nisan di sana. Selain nama-nama yang dimakamkan di situ, juga nama-nama para orang tuanya (bin / binti). Dari situ saya berharap bisa melakukan cross check dengan informasi yang sudah saya kumpulkan sejauh ini. Tapi ternyata dugaan saya meleset. Saya justru bingung dengan nama-nama itu. Saya malah mendapat informasi yang sungguh mengagetkan dari penjaga khusus kompleks makam Cut Nyak Dhien ini.

Nama penjaga itu Pak Ace. Katanya, istri (pertama) Pak Sabur, Ibu Yuyu, sekarang masih hidup. Ternyata Masih Hidup! Bahkan pada hari raya Idul Fitri lalu masih sempat datang ke makam ini. My God! Pak Ace bahkan memberi saya informasi bagaimana saya bisa menemukan Ibu Yuyu (yang mungkin akan saya lakukan besok, dan saya tulis nanti).

cut-nyak-dien-041 (1)Kembali ke Cut Nyak Dhien, ketika sampai di hotel dan saya melakukan search, emosi saya jadi bangkit ketika menemukan sebuah foto tentang beliau ketika dibuang di Sumedang. Saya pandangi foto ini lama-lama, zoom-in, zoom-out. Sebuah gambaran yang sangat mengenaskan tentang bagaimana dulu seorang pejuang kemerdekaan diperlakukan penjajah. Ekspresi wajahnya yang seperti meringis menahan sakit itu (ataukah sedang berdoa ?) langsung membuat trenyuh. Setelah sedikit membaca riwayat perjuangannya, lalu melihat foto ini, ada rasa itu bercampur iba, plus geram pada penjajah. Rambutnya tidak lagi legam, entah karena putih uban atau mungkin juga kotor dan kusam karena tidak terurus. Bajunya yang kumal menegaskan itu lagi. Saya membayangkan, seorang komandan perang yang tadinya harus membangkitkan dan mempertahankan moral pasukan dengan semangat dan optimisme berapi-api lalu di dibuang ke tempat asing, dengan keadaan terlunta-lunta. Api itu dipadamkan secara paksa. Saya kira, meski Cut Nyak Dhien dikatakan menderita beberapa penyakit, nampaknya yang membunuhnya bukan penyakit fisik saja, tapi juga psikologis. Ada semacam inersia dalam dirinya yang tiba-tiba dibuat berhenti mendadak, dan energi yang ada telah berbalik ke dirinya sendiri. Ketaatannya pada agama pasti telah sangat menolongnya. Tapi ia manusia biasa.

IMG00041-20101128-0914Orang-orang sekitar nampaknya sudah memberikan apresiasi pada keberadaan makam ini, meski nampaknya ada sesuatu yang lebih kuat yang tidak membuat itu lebih dari sekedar makam. Termasuk “Bekas Rumah Tinggal Cut Nyak Dhien”, yang sekarang menjadi sebuah tempat usaha. Rumah ini saya temukan tidak sengaja ketika jalan-jalan di sekitar hotel. Jaraknya dari hotel saya (Hotel La Diva) hanya sekitar 20 meter saja. Papan namanya tetap terpancang di situ, tapi isi rumahnya sudah lain. Entah, apakah pemilik usaha itu orang Aceh, tapi saya merasa itu sudah menunjukkan penghargaan yang rendah pada sejarah, … atau barangkali harus dikatakan desakan pada kebutuhan hidup lebih sah dikedepankan daripada sebuah kenangan ? Saya berpikir mencoba masuk ke tempat ini minggu depan. Semoga saja saya salah.

Apapun bisa terjadi ketika tahun demi tahun berlalu, dan hanya ketika itu berlalu maka orang tahu, siapa yang telah begitu menjaga puing-puing dan debu. Demi sebuah harga yang seharusnya tak lekang oleh waktu.

Bagikan pada media sosial :