# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2622

P1000655Google secara resmi sudah menyatakan membuka kantornya di Indonesia. Meski belum diumumkan kantornya ada di mana dan apa saja rencana-rencananya di Indonesia, sudah ada kegiatan nyata yang mereka lakukan. Salah satunya adalah apa yang mereka sebut Google Apps Conference di Jakarta 9 Agustus 2012 yang lalu. Khalayak kegiatan ini adalah kalangan perguruan tinggi, dan seperti yang disebutkan pada situs resmi kegiatan ini, yang diundang pada hari itu adalah sekitar 40 perguruan tinggi. Acara yang diselenggarakan di Atamerica (@america) atau Pusat Kebudayaan Amerika di Pacific Place Jakarta ini tampaknya tidak terlalu dipublikasikan ke mana-mana, meskipun ditampilkan di Internet. Bahkan pada jadwal acara di situs @america sendiri tidak terdaftar. Kebetulan sekali saya bisa tahu acara ini karena sekitar 2 minggu sebelumnya ada acara yang sama yang diadakan SBM-ITB, di mana perwakilan dari Google datang.

Mengenai Google Apps sendiri, ini adalah sebuah suites atau kumpulan aplikasi, yang berbasis Internet, yang memungkinkan seseorang dapat melakukan pekerjaan kantor seperti layaknya menggunakan software office yang terinstal pada komputer. Jadi, semua aplikasi ada pada cloud-nya Google. Kemudian karena Google menerapkan single-sign-on, maka manakala kita signed-on pada salah satu aplikasi Google, kita juga akan signed-on pada aplikasi lainnya. OK, kita semua sudah memiliki software Office yang terinstal pada komputer masing-masing, lalu apa pentingnya Google Apps ini ?

Google-AppsKelebihannya adalah pada integrasinya dengan Internet. Karena terhubung ke Internet maka dimungkinkan interaksi dan produksi konten dengan memanfaatkan interkoneksi antara para pengguna yang sama-sama terhubung ke jaringan tersebut. Untuk itu ada beberapa aplikasi kunci yang dikedepankan Google Apps : Gmail, Calendar, Drive, Docs, Sites, dan ada beberapa lainnya lagi yang cukup banyak. Skema penggunaannya tidak hanya untuk kalangan bisnis (yang berbayar), tapi juga bisa digunakan untuk kalangan pendidikan (gratis, dengan semua fiturnya), bahkan untuk penggunaan pribadi pun dimungkinkan.

Saya merasa, untuk menguasai semua itu tidak terlalu sulit. Apalagi Gmail sudah sedemikian populernya. Hanya, yang paling utama bagi saya adalah nilai atau signifikansi apa yang ada pada layanan ini, khususnya pada konteks perguruan tinggi (bisa juga pada konteks level pendidikan yang lebih rendah sebenarnya). Ini penting, karena unit pengelola IT tidak selalu bisa mengambil keputusan sendiri untuk kebijakan yang akan berlaku institution-wide. Bagian IT harus bisa meyakinkan manajemen berkenaan dengan intrinsic advantage-nya. Oleh karena itu menjadi perlu untuk mengidentifikasi kemanfaatan, tingkat kemudahan adopsi, dan masalah-masalah lain yang mungkin terkait.

Ketiga hal itulah yang lebih ingin saya uraikan di sini daripada sekedar reportase. Pertama, menurut saya, Google Apps perlu untuk dipertimbangkan penerapannya oleh perguruan tinggi sekurangnya karena :

  1. Platform baru interaksi proses pembelajaran
  2. Fasilitasi learner-oriented learning
  3. Merintis Multimedia Literacy pada mahasiswa
  4. Membuka jalan bagi Collaborative Learning
  5. Kemudahan pengecekan otentisitas konten
  6. Memberikan kepastian pemanfaatan Internet secara positif
  7. Solusi yang murah untuk meniadakan kebutuhan server email
  8. Meniadakan masalah lisensi software

Tidak saya uraikan. Tapi semoga sudah jelas dengan sendirinya :) Atau saya akan jelaskan pada kesempatan lain. (Sebenarnya memang ada beberapa hal yang perlu penekanan khusus juga).

Tentang tingkat kemudahan adopsi, bagi sementara kalangan IT, ini adalah sesuatu yang barangkali tidak dianggap sebagai masalah besar, sehingga masalahnya mungkin dapat disederhanakan menjadi “dengan persuasi / cara halus” atau “dengan cara paksaan”. Untuk kalangan tertentu barangkali itu bisa diberlakukan, tapi sebagai sebuah safe bet, nampaknya diperlukan strategi tertentu yang tidak sesederhana itu. Paling tidak ada tiga hal ini :

  1. Kenyataan bahwa ada kalangan pengajar / dosen yang karena usianya sudah tidak dapat lagi fleksibel menerima perkembangan teknologi atau mampu secara sepenuhnya mengadaptasikan proses pembelajarannya pada konteks penerapan IT.
  2. Meskipun Internet sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi mahasiswa, namun patut diduga bahwa etos penggunannya tidak sama antara mereka yang bidang studinya lebih ke orientasi teknik dibandingkan dengan yang non-teknik. Saya selalu bicara semua mahasiswa pada semua kemungkinan bidang studi. Apakah Ok kalau kita asumsikan semua punya keberhasilan adopsi dan eksplorasi yang sama ?
  3. Selalu ada tingkatan pada individu dalam hal keterarahannya untuk menggunakan Internet. Pada mereka yang keterarahannya rendah, adopsi secara paksa hanya akan membuat mahasiswa menggunakan aplikasi secara by the book & by the order. Kita akan sulit membayangkan mereka menjadi kreatif dan secara mandiri memanfaatkannya untuk keperluan-keperluan yang lebih luas.

bwSayangnya, semua itu harus menghadapi hal yang tak terpungkiri pada rata-rata perguruan tinggi di Indonesia, yaitu masalah bandwidth. Apapun yang online, apapun yang web-based di Indonesia pasti akan harus menghadapi masalah ini, dan solusinya tidak ada yang lain. Semua pengelola IT sudah tahu bahwa meningkatkan kapasitas bandwidth adalah sebuah investasi, tapi realisasinya kerap tidak mudah. Tidak saja karena masalah visi pimpinan, tapi juga karena masalah finansial terkait harganya yang sekarang masih belum murah (apalagi barangkali para pimpinan perguruan tinggi memiliki persepsi tentang prioritas yang lain). Dalam kaitan ini, saya kira keputusan untuk menggunakan Google Apps secara penuh dapat menjadi salah satu alasan paling rasional bahwa dana yang dikeluarkan untuk bandwidth dapat menjadi paid-off dengan nilai kemanfaatan yang diberikan pada proses pembelajaran dan pelayanan kepada mahasiswa.

wozMasalah lain masih terkait dengan koneksi Internet. Bukan bandwidth, tapi service availability. Pertanyaannya adalah, apakah kita akan begitu saja mempercayakan semua data pada cloud-nya Google ? Ini yang saya tanyakan pada sesi diskusi di akhir acara dengan mengutip apa yang dikatakan Steve Wozniak. Bukan kita tidak percaya pada Google yang sudah menyatakan bahwa Service Level-nya adalah 99,9 % uptime, tapi masalah akses yang kita miliki. Internet black-out bisa saja terjadi sewaktu-waktu, atau mungkin sekedar adanya penurunan kualitas koneksi. Bagi saya, adalah sebuah risiko yang terlalu besar ketika penerapan Google Apps dilakukan dengan mempercayakan semua data pada cloud. Mestinya, masih ada backup yang ditempatkan secara offline. Saya sebenarnya mengharapkan jawaban ini, tapi Dr. David dari Malaysia memberi jawaban bahwa kita sebaiknya memiliki cadangan koneksi dari provider lain. Sementara orang teknik dari Google (yang saya tidak tahu namanya karena tiba-tiba naik ke panggung) bicara tentang perlunya memiliki IP statik. Dua-duanya ada betulnya, tapi saya tetap berpikir, tidak ada yang lebih safe dari sebuah backup yang tersimpan offline.

Secara keseluruhan acara Google Apps Conference kemarin cukup membuka mata saya pada beberapa hal yang selama ini baru saya gunakan sebagian atau baru saya gunakan secara intuitif saja tanpa menyimak kemungkinan penggunaannya lebih jauh. Google mendatangkan Ashley Tan: dosen dan peneliti pada National Institute of Education Singapur dengan presentasinya : “Sharing From a Friend: National Institute of Education-Singapore Experience in Google Apps for Education”. Lalu Dr. David Asirvatham, CTO. dari University of Malaya yang membawakan: “Sharing From a Friend: University of Malaya Experience in Google Apps for Edu”. Dua-duanya saya kira berbicara masalah orientasional. Yang justru penting bagi saya adalah yang dibawakan Housny Mubarok: IT Manager, School of Business and Management ITB – karena ia menunjukkan bagaimana secara riil Google Apps menunjang proses-proses akademik di dalam kampus melalui pengembangan Google Apps dengan script, dalam kasus pengelolaan proses penyusunan tugas akhir. Lainnya adalah demo yang dibawakan oleh apa yang mereka sebut sebagai Google Ambassador, yang ternyata adalah perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Yang dibawakan adalah demo tentang aplikasi-aplikasi pada Google Apps.

Di akhir acara Google memberikan tawaran menarik. Kurang begitu jelas, tapi nampaknya seperti sebuah asistensi bagi implementasi Google Apps bagi perguruan tinggi yang berencana melakukannya. Tapi syaratnya harus memiliki mahasiswa sekurangnya 1500 orang. Tapi ternyata di Internet sendiri tidak kurang sumber-sumber yang sebenarnya dapat dibaca dan dipelajari sendiri tentang semua ini, bahkan webinars yang terdokumentasikan dengan baik.

Foto-foto dari kegiatan Google Apps Conference yang saya hadiri kemarin dapat dilihat di tautan ini.

Bagikan pada media sosial :