# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2822

Menurut info dari panitia, kegiatan akan dimulai pukul 08.00 dengan registrasi ulang panitia, dan hal-hal seremonial lain, seperti pada umumnya kegiatan konperensi atau seminar. Karena tahu hal ini maka saya sengaja datang telat, bukan hanya karena itu, tapi pagi hari ini saya harus mampir dulu ke kantor untuk melakukan ini itu dulu. Ketika saya sampai di UPI, acara sudah mulai dengan Plenary Session I oleh Dr. Hananto dari UPH Jakarta.
Plenary, artinya adalah sebuah sesi yang harus dihadiri oleh semua peserta. Dalam pengertian saya, ini adalah salah satu acara puncak / utama karena sesi-sesi yang lain sifatnya lebih kecil dan paralel dengan sesi yang lain. Jelas, pada sesi-sesi kecil itu tidak semua peserta konperensi akan bisa datang pada saat yang bersamaan. Dengan pengertian saya seperti ini, apa yang disampaikan pada Plenary Session ini sangat membuat saya kecewa. Saya bahkan sudah kecewa ketika sambil mendengarkan presentasi saya masuk ke ruangan dan memilih tempat duduk.
conaplin1-1 Yang dibawakan Dr. Hananto adalah tentang sebuah software pembelajaran vocabulary, namanya adalah ATM_iBT: The Easiest and Fastest Way to Create Computer-Based Vocabulary Execises. Saya kecewa karena pada sesi utama seperti ini kok dibawakan sesuatu yang amat praktis? Tentang sebuah software, beliau ini harus menjelaskan cara mendapatkannya, instalasi, dan cara menggunakannya. Saya berpikir, kalau memang harus membawakan sesuatu yang sangat praktis begini, kenapa sebagian besar waktu tidak digunakan untuk membahas underlying concept, strategi penggunaan, dan hal-hal konseptual lainnya ? Untuk hal yang praktis begini, mestinya ada di sesi-sesi paralel itu. Untuk plenary session, pantasnya adalah membahas paradigma, hal-hal teoretis atau konseptual. Saya jadi malas mendengarkan.
Untuk sebuah software begini, buat saya. Tinggal download, install sendiri, pelajari cara menggunakannya secara intuitif, lalu pikirkan strategi penggunaannya pada proses pembelajaran. As simple as that! Tapi ya begitulah. Kadang segalanya tidak selalu sesuai harapan. Apakah saya juga harus menurunkan ekspektasi saya pada sesi-sesi yang lain ? Saya gunakan waktu untuk menuliskan ini dan memilih sesi paralel mana yang nanti akan saya hadiri.
conaplin1-2 Pada sesi paralel, yang saya pilih adalah Online Group Discussion and Students’ Interests in Writing. Pemakalahnya adalah Ahmad Bukhori Muslim dari UPI. Ini adalah sebuah presentasi penelitian tentang penggunaan Yahoo Messenger untuk membuat mahasiswa lebih berani menulis dalam bahasa Inggris. Skenarionya adalah, dia menentukan suatu hari di mana semua mahasiswanya online via YM, lalu pertama dia akan mengabsen dengan meminta mahasiswa menuliskan nama dan NPMnya, sesudah itu ia akan melontarkan topik yang akan didiskusikan oleh mahasiswa. Semua dibawakan dalam bahasa Inggris. Salah satu kesimpulannya adalah bahwa persepsi mahasiswa untuk menulis dalam bahasa Inggris menjadi berubah, dan dengan menggunakan medium ini gairah untuk menulis menjadi lebih tinggi. Saya membatin, tentu berbeda antara bahasa Inggris untuk chatting dan bahasa Inggris yang academic (seperti dalam mata kuliah writing / composition). Pertanyaannya adalah bagaimana relasi antara intensitas komunikasi pada chatting dengan peningkatan kualitas mutu writing yang aktual? Saya tidak tanyakan itu, alih-alih saya bertanya tentang yang lebih mendasar, yaitu bagaimana arrangement dari semuanya. Yang penting bagi saya adalah, bagaimana itu semua dilakukan pada sebuah skenario mengajar. Ternyata pertemuan tatap muka tidak dihilangkan, chatting hanya sebagai suplemen, dan yang lebih penting adalah dia melakukan ini untuk penyelenggaraan penelitiannya itu. Selain itu, kendalanya ternyata besar juga – masalah yang klasik: availability of quality Internet connection for students!
conaplin1-3 Berikutnya, saya memilih sesi yang dibawakan orang Malaysia: Nadzah Abu Bakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Makalahnya adalah Learning Environment: Blogging as a Platform for Language Learning. Lagi, ini adalah hasil sebuah penelitian. Mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 orang. Lalu setiap kelompok membuat blog yang topiknya ditentukan oleh dosen. Setelah membuat blog, mereka diminta untuk berinteraksi satu sama lain dengan cara saling memberi komentar pada blog kelompok lain. Kesimpulan yang dikemukakan adalah, dengan cara seperti ini rasa sense of responsibility pada mahasiswa ketika menulis lebih besar. Menulis lebih bersungguh-sungguh, dan bisa memfasilitasi critical thinking. Saya pikir kalau ini benar, maka perlu suasana trustworthiness pada dosen yang besar, juga, pemilihan tema blog yang tepat sehingga benar-benar bisa menginspirasi mahasiswa untuk menulis dari hatinya. Di sesi ini saya ingin tanya lebih lanjut tentang cara menginisiasi diskusi itu karena saya bayangkan mahasiswa tidak akan bisa jalan begitu saja diskusinya. Tapi kerja moderator sangat buruk dalam hal membagi waktu. Hanya tersisa 1 menit untuk pertanyaan. Pertanyaan saya tidak terjawab dengan memuaskan.
conaplin1-4 Sesi berikutnya adalah menjelang makan siang. Pada daftar, tidak ada sesi yang menarik sebenarnya (at least, dilihat dari judulnya, tidak ada yang langsung berkaitan dengan CALL). Tapi saya pilih sesi dari seorang dosen Ibnu Khaldun. Ini juga hasil penelitian. Judulnya adalah A Semantic & Syntactic Analyses on English Learners Language Used for Chatting. Nampaknya penelitian dilakukan pada anak-anak SMA. Pada sebuah lab komputer, semua harus mengakses Yahoo Messenger untuk chatting dengan strangers. Mereka melakukannya dalam situasi yang disupervisi, alias diawasi, sehingga mereka benar-benar hanya melakukan chatting dan tidak yang lain. Setelah chatting, transkripsinya dikumpulkan lalu dianalisis. Hasilnya macam-macam, tapi sudah amat sangat common sense: tidak ada yang aneh. Saya langsung bertanya tentang kemungkinan siswa menggunakan Google Translate (GT). Kan bisa saja mereka tinggal menuliskan kalimat dalam bahasa Indonesia, klik, lalu hasilnya di paste di YM? Jawabannya adalah, bahwa penelitian ini dilakukan pada konteks di mana penggunaan komputer oleh siswa diawasi. Tapi tetap saja, kalau penelitian ini dilakukan dalam situasi yang lebih longgar, maka penggunaan GT adalah one huge potential for research biases.
So far belum benar-benar ada yang mind blowing. Atau ekspektasi saya berlebihan ? Saya akan lanjutkan lagi nanti.

Bagikan pada media sosial :