# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 8855

Hari kedua CONAPLIN2 ini masih ditandai dengan penghilangan sesi dan perubahan jadwal. Anehnya, sesi yang dihilangkan selalu sesi yang akan saya pilih. Sesi pertama di hari itu masih sesuai jadwal. Yang saya pilih adalah Engaging WebQuest in EFL Writing Classroom, pemakalahnya adalah Diah Fakhmawati dari Madrasah Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta. 
conaplin2-0 Konteks penelitiannya ternyata adalah anak-anak SD atau mungkin sekolah menengah. Saya pilih sesi yang ini karena saya merasa asing dengan kata i itu, dan menimbulkan duga-duga tertentu. Ternyata yang dimaksud adalah semacam petualangan di belantara informasi di Internet. Yang dilakukann ya adalah memberikan tugas kepada sekelompok anak untuk membuat sebuah proyek tulisan. Bahan tulisan itu diperoleh dari Internet. Tapi ternyata sulit untuk membiarkan siswa bebas mencari dengan search engine. Alih-alih, dia memberikan beberapa URL referensi. Saya membatin, di mana sense of quest-nya kalau begini ? Singkat kata, di sini saya hanya memuaskan keingintahuan saya tentang apa yang dimaksud dengan kata WebQuest itu.
conaplin2-1 Sesi berikutnya saya memilih The Importance of Incorporating the Target Culture in English Language Teaching tapi sayangnya sesi ini dihilangkan, dan lagi-lagi sesi-sesi yang lainnya sudah keburu habis tiketnya. Alhasil saya hanya punya pilihan ke Cultivating Students’ Intercultural Communication Skills (Going Global Through EFL Classes). Pemakalahnya adalah seorang dosen dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Saya datang terlambat ke presentasinya, tapi isinya kurang lebih adalah berupa penekanan betapa pentingnya pengetahuan antarbudaya itu. Pemakalah menunjukkan beberapa alternatif bila pembelajar tidak mungkin dapat langsung masuk ke dalam budaya dari bahasa yang dipelajari. Sesuatu yang tidak baru, tapi rasanya ada semacam refresh mengenai urgensi semua itu. Presentasinya merupakan hasil penelitian kepada beberapa mahasiswanya.
conaplin2-2 Yang berikutnya saya ikuti adalah sebuah sesi dari orang UPI. Judulnya Computer-Mediated Communication as a Teachers’ Meeting Room: Gender, Identity, and Professional Space. Ini adalah sebuah presentasi hasil penelitian yang ditujukan kepada para guru / pengajar pada sebuah universitas di Australia. Hasilnya adalah berupa penggolongan beberapa ajektif yang ditujukan kepada pengajar pria dan wanita. Dengan menggunakan CMC, maka pengajar pria cenderung begini begitu, demikian pula kalau pengajarnya wanita cenderung begitu atau begini. Penelitian adalah penelitian, tapi saya merasa bahwa para penyaji kurang bisa menekankan relevansi hasil penelitiannya pada sebuah situasi atau keadaan yang mungkin dihadapi oleh para pengajar di Indonesia. Apalagi konteksnya adalah antar pengajar, bukan antara pengajar dan pembelajar. 
conaplin2-3 Apa yang terjadi sebelumnya terjadi lagi pada sesi selanjutnya. Tadinya saya akan masuk ke ICT: Expectation and Reality in School (Elementary, Junior, and Senior High School), tapi karena yang lain tidak ada yang menarik perhatian saya, saya jadi memilih apa saja. Saya putuskan untuk masuk ke Interference of Bahasa Indonesia in Responding English Compliment Made by English Teachers. Pemakalah adalah orang dari Universitas Jambi, Ella Masita. Penelitiannya dekriptif saja, hanya mendeteksi keberadaan. Mungkin saya salah, tapi itulah yang saya tangkap dari presentasinya. Inilah akibatnya kalau para peserta tidak mendapatkan kopi makalah. Isinya persis sama dengan judulnya. Guru memberikan compliment ke para siswa, tapi mereka menjawabnya dengan bahasa Inggris dengan campuran pengaruh bahasa Indonesia, bahkan bahasa Gaul Indonesia. Hanya begitu saja.
conaplin2-4 Menjelang makan siang ada sebuah sesi yang judulnya bahasa Indonesia; “Pengajaran Bahasa Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi”. Pemakalah berasal dari dua lembaga yang berbeda. Yang satu Endro Sutrisno dari IKIP PGRI Madiun, dan satu lagi dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ITS. Presentasi mereka bawakan dalam bahasa Indonesia. Apa yang dibawakan semua sudah tidak aneh bagi saya. Semua jadi terdengar seperti sebuah introduksi saja. Nampaknya ini bukan hasil sebuah penelitian. Hanya pemaparan. Makanya pada sesi tanya jawab saya bertanya apakah ada forum diskusi tentang ini semua. Dia bilang ada, tapi sambil tidak menyebutkan alamatnya di mana. Nampaknya saya harus kirim email ke dia langsung untuk menanyakan ini.
Sesi selanjutnya lebih parah. Bukan saja sesi yang saya pilih tidak jadi ditampilkan, tapi sisa sesi yang ada ternyata menampilkan bahasan yang sulit sekali relevansinya. Ada yang menampilkan analisis bahasa sopan santun bahasa Bugis, ada soal bahasa Minangkabau, dan ada analisis semantis artikel berita yang sama sekali tidak menarik buat saya. Akibatnya saya gunakan waktu yang ada untuk makan siang saja, sambil menunggu waktu istirahat, yang akan saya gunakan untuk pergi ke kantor sejenak.
Sampai di UPI kembali saya agak telat. Kali ini terlintas di pikiran saya untuk nekat. Meskipun saya tidak punya tiket untuk masuk sebuah sesi, saya akan masuk saja. Pilihan saya adalah ke presentasi seorang dosen Universitas Negeri Malang. Ia adalah dosen bahasa Jerman: Primardiana H. Wijayati. Judulnya adalah “Pesan Kamus Elektronik dan Program Microsoft Windows Office dalam Terjemahan.” Dari judulnya, nampaknya ia berusaha menjelaskan peranan kamus online dalam proses terjemahan, tapi ketika saya datang, Ibu ini tengah menjelaskan bagaimana caranya membuat catatan pinggir pada MS-Office 2003 dan 2007 untuk membantu dosen ketika memeriksa karya ilmiah mahasiswa. Ia bilang bahwa lebih baik dilakukan dalam bentuk file, lalu nanti hasilnya dikirim kembali ke mahasiswa via email. Ini sama sekali tidak baru buat saya, meski saya sendiri belum pernah menggunakannya. Ketika saya tanya, apakah hal seperti itu bisa dilakukan di Open Office, beliau ini bilang bahwa ia belum pernah mencobanya.
conaplin2-5 Tibalah di Plenary 2 alias penghujung dari kegiatan Konperensi ini. Yang akan membawakan presentasi adalah seorang dosen dari Universitas Leeds Inggris. Seperti biasa, kita selalu terpesona pada kebulean seseorang. Demikian pula saya. Ekspektasi saya begitu tinggi padanya. Namanya adalah Hywel Coleman OBE. Judulnya, seperti yang ia akui sendiri, agak tidak realistis, yaitu The Role of ICT in Language Development and Social Development: Implications for Language Education in Indonesia. Katanya ia seorang doktor dan konsultan pendidikan pada beberapa negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Tapi siapapun dia, ternyata presentasinya amat sangat jauh dari harapan. Sekurangnya dari keselarasannya dengan judulnya. Yang ia lakukan malah memberikan penjelasan tentang komunikasi elektronik intra perusahaan pra internet tahun 80an seperti dideskripsikan pada sebuah buku, lalu ia membandingkannya dengan apa yang ada sekarang yang menjadi fenomena chatting. Ia membuat perbandingan. Lalu ia beralih ke email, membuat statistik sederhana tentang modus ekspresi dan penggunaan bahasa pada milis PPI Universitas Leeds. Hanya itu. Saya bertanya-tanya, apakah hanya saya sendiri yang kecewa ?
Memang tidak ada yang sempurna, dan tidak ada yang bisa menyenangkan semua orang. Tapi adanya forum ini sekurangnya bisa dijadikan sebagai ajang mencari nilai cum, apalagi ada kata ‘internasional’ pada judulnya, meski keinternasionalannya bisa kita pertanyakan karena hanya melibatkan sedikit negara saja. Selain itu saya juga mempertanyakan proses seleksi makalah; apakah benar-benar ada seleksi ? Masalahnya adalah, jumlah keseluruhan presentasi amat sangat banyak. Akibatnya alokasi waktu per sesi menjadi sangat sedikit. Proses dialog, tanya jawab, menjadi tidak memadai. Bahkan ada sesi di mana moderator tidak mengizinkan adanya tanya jawab karena waktunya sudah habis. Selain itu, saya sendiri bertanya-tanya, apakah untuk warga civitas akademika UPI sendiri (khususnya FPBS) event ini penting ? Saya harus bertanya begini soalnya saya sama sekali tidak bertemu dengan dosen-dosen senior FPBS. Last but not least, adalah soal makalah. Apakah tidak aneh, para peserta konperensi tidak mendapatkan kopi makalah ? Salah seorang panitia bilang bahwa makalah akan dimasukkan ke dalam CD dan akan dihargai 100 ribu. OK, tapi keesokan harinya ada yang bilang bahwa saya bisa kopi semua makalah ke dalam flash disk. Ketika saya menagih-nagih terus soal ini, ada panitia yang bilang bahwa semua makalah ada di website conaplin.com, tapi ketika saya telusuri di sana sama sekali tidak ada yang bisa di-download. Terakhir, pagi ini saya telpon ke panitia, katanya semua makalah akan dijadikan buku, dan akan available 3 bulan lagi. (Yang berarti kita harus membelinya!). Instead of it all, saya akan mencermati Conaplin3 tahun depan. Siapa tahu saya bisa ikut jadi pemakalah.

Bagikan pada media sosial :