# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2298

imelIni ingin saya tuliskan dengan cepat sebelum saya lupa. Sebuah penelitian yang aslinya ada di halaman ini (yang sekarang sudah tidak ada lagi berkasnya) mengungkapkan sebuah hasil penelitian yang isinya bagi saya menarik untuk direplikasi (maksudnya diulangi lagi pada konteks lain). Penelitian itu dilakukan oleh Watts, Nugroho, dan Lea (2001) – Salah satunya nampaknya orang Indonesia. Ringkasnya penelitian mereka straight ahead begini : (ini parafrase versi saya) : “Penelitian mereka berkenaan dengan anonimitas pada komunikasi menggunakan email dalam kaitannya dengan identitas sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa anonimitas dalam CMC yang berbasis teks seperti dalam mailing list, akan lebih mendukung terjadinya / terbentuknya identitas dan kebersamaan dalam kelompok yang terbentuk secara virtual. Sedangkan bila partisipan diskusi dapat mengidentifikasikan satu sama lain (atau tingkat anonimitasnya rendah) maka kebersamaan akan lebih sulit terbentuk karena masing-masing memiliki referensi terhadap identitas yang dimiliki dalam kehidupan sosial. Penelitian ini lebih menyoroti kecenderungan sosial yang ditunjukkan oleh pengguna Internet di Internet itu sendiri, tidak dalam kaitannya dengan yang ada dalam kehidupan sosial dalam pengertiannya yang tradisional. Maksudnya, para penelitinya ingin mengetahui tingkat aktifitas pengiriman email dalam dua konteks, yaitu di mana di antara satu sama lainnya saling mengenal dan di mana di antara mereka tidak saling mengenal.”

Dalam bahasa gampangnya: bila dalam sebuah kelompok virtual (kumpulan orang-orang yang dengan mekanisme tertentu di Internet bisa didefinisikan boundary-nya) orang-orangnya tidak saling kenal, belum pernah ketemu, dan tidak bisa saling mengidentifikasi langsung secara sosial, maka interaksi pada medium Internet akan mudah menimbulkan rasa kebersamaan dan mengarah pada solidaritas. Sedangkan bila sebelumnya satu sama lain sudah saling kenal, pernah/sering ketemu, dan mudah mengidentifikasi secara sosial maka kebersamaan dan solidaritas lebih tidak mudah terbentuk. Bagi saya, poin menariknya adalah sebenarnya di balik ini ada semacam ‘logika’ tertentu yang cukup masuk akal. (Saya ingin menguraikannya, mungkin di bagian kedua tulisan ini).

researchLalu mengapa ini juga menarik untuk direplikasi ? Ya karena masa penelitian itu adalah ketika Internet secara umum ditandai dengan dua hal besar secara populer: web dan email. Belum lagi dengan keberadaan koneksi Internet yang sulit dan mahal (Ya terutama di Indonesia sini). Hari ini kita menjadi saksi bahwa Internet sudah di mana-mana dan akses web sudah tidak dianggap sebagai pemborosan bandwidth. Bahkan ada diffuse antara web dan email (orang banyak mengirim email yang web-based dan pada Facebook, fitur message sekarang bisa digunakan seperti email). Ini menarik karena pada konteks sekarang ini, anonimitas di Internet bisa memiliki atribut baru: tidak hanya tekstual, tapi juga visiual. Gampangnya, kita boleh tidak mengenal seseorang di Internet, tapi kita masih bisa melihat fotonya / videonya, dan toh kita masih anonim bagi dia.

Penelitian itu bisa sekedar deskriptif, tapi lebih menarik lagi tentu sebuah eksperimen.

Bagikan pada media sosial :