# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2641

Saya terpaksa menulis keluhan ini karena memang mengalami langsung, betapa buruknya Bahasa Indonesia pada dokumen-dokumen Notaris. Yang terjadi pada Saya adalah, Saya diminta mengerjakan terjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris sebuah akta perjanjian dan pendirian sebuah badan usaha. Ya ampun, … kalau dibaca langsung dalam bahasa Indonesia saja sudah sangat tidak cair bahasanya. Rasanya kita harus berkali-kali balik lagi untuk membaca ulang agar tahu apa maksudnya. Nah, apalagi ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris!
OK. Menerjemahkan memang tidak harus kaku, dan saya sudah lumayan makan asam garam dalam pekerjaan ini, tapi menghadapi dokumen seperti ini rasanya jadi bikin gusar saja. Pada beberapa alinea saya jadi berprinsip: garbage in – garbage out. Maksudnya, kalau input-nya sampah, maka saya buat output-nya sampah pula! Saya terpaksa begini soalnya dengan yang empunya dokumen sama sekali tidak ada komunikasi untuk menanyakan maksudnya apa. Padahal bayarannya per lembar lumayan besar!
Yang saya tengarai adalah beberapa hal berikut ini :

  1. Ada semacam paranoida / ketakutan bahwa pada perjanjian / kesepakatan yang dibuat mungkin terdapat celah yang bisa disalahgunakan. Oleh karena itu ada kesan maunya adalah segalanya ingin dijelaskan dengan rinci, tapi pada saat yang sama ingin mengungkapkan hal yang sulit, sehingga bahasa jadi cenderung berlarat-larat.
  2. Ada pengulangan-pengulangan yang dalam kondisi biasa mestinya tidak perlu. Misalnya, para pihak yang terlibat dalam perjanjian / kesepakatan dijelaskan datanya sebagaimana yang ada di KTP, lalu ketika di halaman lain nama-nama itu disebutkan, harus diulangi lagi dengan datanya. Padahal namanya persis sama dan jelas berarti orangnya itu itu juga. Ini sangat tidak efisien, meskipun buat saya sangat menguntungkan karena tinggal copy paste dan semakin bikin tebal hasil terjemahan :)
  3. Kalimat cenderung panjang, yang kalau membacanya pasti habis napas! Misalnya begini :
    “Laba bersih Perseroan dalam suatu tahun buku seperti tercantum dalam neraca dan perhitungan laba rugi yang telah disahkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan merupakan saldo laba yang positif, dibagi menurut cara penggunaannya yang ditentukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham tersebut.”
    Apakah kita bisa mengerti dengan mudah kalimat itu? Aneh, sepertinya ada keengganan untuk memotong kalimat yang panjang jadi pendek-pendek. Padahal hanya dengan begitu gagasan jadi mudah disampaikan, dan membacakannya jadi lebih mudah mengatur napas. Apakah ada asumsi bahwa kalau kalimatnya pendek-pendek nanti bakal ada peluang untuk disalahgunakan?
    Lebih menyebalkan lagi adalah ini :
    “Direksi dan / atau Nyonya XYZ, sarjana hukum, spesialis notariat, magister hukum, Notaris, berkedudukan di Kabupaten Bandung Barat, baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri dengan hak untuk memindahkan kekuasaan ini kepada orang lain dikuasakan untuk memohon pengesahan Badan Hukum Perseroan ini dari instansi yang berwenang dan untuk membuat pengubahan dan / atau tambahan dalam bentuk yang bagaimanapun juga yang diperlukan untuk pengesahan tersebut dan untuk mengajukan dan menandatangani semua permohonan dan dokumen lainnya, untuk memilih tempat kedudukan, dan untuk melaksanakan tindakan lain yang mungkin diperlukan.”
    Apa nggak bikin gila orang yang menerjemahkan ? :-0
  4. Sering digunakan kalimat pasif yang subjeknya sangat panjang. Lainnya, saya malah kerap menemukan kalimat-kalimat yang sama sekali tanpa subjek. Contohnya:
    “Demikian dengan tidak mengurangi izin dari pihak yang berwenang, telah sepakat dan setuju untuk bersama-sama mengubah anggaran dasar perseroan terbatas berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.”
    Pertanyaannya adalah, siapa yang “telah sepakat dan setuju” di sini? Bahkan di awal akta saja Saya sudah dihadapkan pada kalimat tanpa subjek :
    “Pada hari ini, Senin, tanggal ….. menghadap kepada saya …….”
    Siapa yang menghadap ?
    Dalam bahasa Indonesia mungkin terkesan wajar, tapi kalau sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, kelihatan sekali salahnya!
    BTW: apakah saya di sini sedang membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris ? Saya rasa tidak!
  5. Ada semacam kilah dari kalangan Notaris, yang mengatakan bahwa itu adalah “bahasa hukum”, bukan bahasa Indonesia biasa. Hmm, ini bagi saya terdengar seperti defense mechanism.
  6. Kebanyakan (atau mungkin semua) Notaris tidak mengerjakan dokumen dari nol,tapi dengan mengutak-atik arsip lama, dan mengubah isinya saja. Jadi, dari satu akta atau dokumen kenotariatan ke yang lainnya ya tetap saja sama bunyinya, dan kalau bisa dibilang tidak efektif dan efisien pengungkapan gagasannya, ya akan tetap begitu seterusnya.

Jadi kepikiran, waktu kuliah dulu siapa saja dosen bahasa Indonesia para notaris itu? Apakah mereka menganalisis efektifitas dan efisiensi penggunaan BI dalam dokumen hukum? Atau hanya sekedar bicara yang umum di luar konteks? Atau, seberapa pedulikah Notaris pada penggunaan bahasa Indonesia yang baik ?

Bagikan pada media sosial :