# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3590

Tulisan ini saya anggap hanya sebagian dari pemenuhan obsesi fotografi saya: bagaimana kalau obyek pada foto-foto lama Bandung, yang kebanyakan di ambil di zaman Belanda, kita foto lagi dengan titik berdiri yang persis sama ? Saya pikir dari situ bisa terlihat betapa waktu telah membuat banyak perubahan, tapi juga masih menyisakan hal-hal yang patut dikenang. Ini memang rada sentimentil, tapi kota manapun di dunia selayaknya menjunjung tinggi riwayatnya, yang kalau tidak dalam bentuk folklor, maka ya dalam bentuk arsip tulisan, foto, atau klip video kalau ada. Nah, untuk urusan yang ini saya sering ketus di dalam hati melihat perkembangan kota Bandung. Sebagai salah satu penghuninya saya sering kesal dengan orang-orang berduit yang seleranya rendah. Sudah tidak terhitung bangunan-bangunan antik peninggalan zaman Belanda langsung dirobohkan saja dan diganti dengan bangunan baru. Sedih sekali melihat karya-karya arsitektur Eropa yang musnah, yang barangkali belum sempat didokumentasikan, untuk suatu ketika sekurangnya sekedar membuktikan bahwa itu memang pernah ada.

Klip video dengan cuplikan bangunan de Vries tahun 1912

Ini berbeda dengan salah satu bangunan lama di Bandung yang kini sedang dalam proses pemugaran. Bangunan ini dulu bernama de Vries. Perhatian saya pertama kali terarahkan karena saya menemukan sebuah klip video yang sedikit menunjukkan de Vries pada zaman dulu. Awalnya dari sebuah CD, lalu saya cari di Youtube, ternyata klip itu juga ada. Sangat menarik melihat bagaimana tempat itu dulu, apalagi bagi saya yang hampir tiap hari lewat situ.

Mengapa ada bangunan antik yang dimusnahkan dan ada bangunan yang dipertahankan, bahkan diperbaiki ? Apakah yang dimusnahkan itu karena memang karena si empunya menilai bangunan itu sudah tidak layak huni ? Karena lokasinya akan beralih fungsi ke bisnis yang memerlukan bangunan baru dan spasi yang lebih luas ? Lalu kalau dipertahankan / dipugar, apakah karena si pemilik memiliki romantisme tertentu pada rumahnya, punya kesadaran sejarah, atau hanya karena memang bangunannya masih bisa fungsional dengan perkembangan situasi yang ada ? Dalam hati saya bertanya-tanya, kalau memang ada peraturan daerah yang melindungi bangunan-bangunan antik, apakah itu bisa mencegah pemiliknya untuk merombak atau menggantinya ? Masalahnya toh pemilik mengantongi sertifikat dan IMB dari tanah dan bangunannya. Jadi, barangkali dipertahankan atau dimusnahkannya arsitektur bangunan lama nampaknya akan lebih bergantung pada niat dari si pemilik, bukan pemerintah. Entah benar demikian atau tidak.

ciridevriesTentang de Vries, katanya dulu ini adalah bangunan toko serba ada. Ciri khasnya yang membuat saya selalu ingat adalah adanya lima bulatan melingkar yang dapat dilihat dari arah jalan Braga menuju Asia Afrika. Di lihat dari dimensi rata-rata bangunan pada waktu itu, kalau benar ini toko serba ada, maka bangunan itu nampaknya adalah toko yang termasuk paling besar di Bandung. Soal mengapa sebenarnya sekarang ini dipugar dan dipercantik dengan semaksimal mungkin mempertahankan bentuknya yang dulu, barangkali untuk kepentingan bisnis. Saya duga ini akan digunakan oleh Bank Niaga, tapi entah. Yang jelas, dimensi bangunan ini sekarang tampak masih setara dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Apakah ini juga menjadi alasan untuk tetap mempertahankannya ? Kenapa saya bilang soal dimensi ? Ya karena kalau di dalamnya akan difungsikan sebagai kantor, misalnya, nampaknya luas bagian dalamnya masih akan bisa menampung kebutuhan-kebutuhan sebuah kantor.

Berikut ini beberapa foto dari de Vries yang kini masih belum selesai di renovasi :

IMG_2573IMG_2576IMG_2588IMG_2590Apakah de Vries satu-satunya bangunan lama di Bandung yang dipugar / diperbaiki ? Semoga saja tidak. Semoga akan masih ada bangunan-bangunan lain yang diselamatkan arsitekturnya. Dalam kaitan ini ada yang pernah bilang, Bandung adalah kota yang sekaligus museum arsitektur Eropa karena berbagai gaya arsitektur Eropa lama dapat ditemukan di sini.

Bagikan pada media sosial :