# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 12038

– Dari Regresi, Rasionalisasi, ke Konsientisasi –

Gara-gara Facebook, sudah ada banyak kegiatan reuni yang terjadi. Ini karena jaringan pertemanan sosial itu memungkinkan kita bisa terhubung kembali dengan orang-orang yang pernah dekat dalam hidup kita di masa lalu. Dalam arti dan batasan tertentu, Facebook adalah sebuah eksperimen sukses dari teori Six-Degree of Separation. Tentang bagaimana terjadinya dan apa yang harus kita cermati, itu adalah masalah lain, tapi saya ingin memfokuskan diri pada reuni itu sendiri.

facebook Karena pernah ada beberapa undangan untuk reuni, suatu ketika saya membatin ingin menulis status Facebook, “Apakah reuni selalu ada gunanya?” Kalau saya lakukan itu, nampaknya akan banyak yang berpikir yang tidak-tidak tentang saya, tapi saya begitu bukannya tanpa alasan. Yang saya lihat, ada reuni yang hanya mengumpulkan sebagian orang dari yang seharusnya lebih banyak lagi. Dengan kata lain, reuni di situ sebenarnya hanya mau mengulangi lagi kolektifisme eksklusif di masa lalu. Lalu ada pula reuni yang mempertemukan kembali orang-orang yang sebenarnya belum berpisah terlalu lama. Memang tidak ada sebuah norma yang membatasi mesti berapa lama waktu harus berlalu sebelum sebuah reuni diselenggarakan (bahkan atas dasar apa reuni diadakan). Kalau sudah begitu, saya berpikir, apakah orang sebenarnya mencari-cari alasan saja untuk berkumpul atau mau cari variasi dari kebosanan rutin sehari-hari ? Lain lagi adalah, reuni yang direkayasa atau ditunggangi kepentingan. Ini yang paling menyebalkan. Inisiatornya memang mencanangkannya sebagai reuni, tapi dia akhirnya aktif di acara itu hanya untuk mempromosikan bisnis MLM (ini yang pernah saya alami) atau barangkali untuk kepentingan pribadi dia lainnya.

Saya bukannya mau sinis, tapi justru mau membuat konsep untuk menjaga agar reuni itu bisa tetap positif. Lho, apakah reuni itu tidak selalu positif ? Bisa negatif ? Saya bilang: bisa! Tidak semua orang berkembang sama secara psikologis. Ada bagian-bagian dari perkembangan itu juga yang tidak selalu mengarah ke jalan yang konstruktif. Bayangkan saja, ada orang yang mungkin masih erat memendam dendam tentang sebuah peristiwa di masa lalu, yang benar-benar jauh di masa lalu. Lalu karena sebuah reuni, orang itu bertemu lagi dengan orang yang ada kaitannya dengan peristiwa itu. Apakah ada jaminan bahwa segalanya lalu akan baik-baik saja ? Ini bukan hanya menyangkut orang (bisa sikap, bisa perilaku) dan peristiwa, tapi bisa juga menyangkut tempat atau mungkin benda. Ada hal-hal yang dalam hidup ini ingin kita lupakan, tapi justru reuni malah membuat semuanya itu kembali lagi. Maka sekali lagi saya bertanya, “Apakah reuni itu selalu ada gunanya ?”

Siegmund Freud Dalam Psiklogi ada yang disebut dengan regresi. Salah satu pencetus awal konsep ini siapa lagi kalau bukan Siegmund Freud. Regresi adalah salah satu bentuk dari mekanisme defensif untuk seolah kembali ke bagaimana kita ketika masih anak-anak menghadapi sebuah situasi, dan bukannya menghadapinya sebagai seseorang yang dewasa. Meskipun Anna Freud (anak terkecil dan satu-satunya yang seprofesinya dengan Freud) memberikan aksentuasi yang lain pada pengertian regresi, tapi intinya adalah kita memberikan respon pada suatu situasi yang mungkin tidak mengenakkan kita dengan pola-pola yang dulu kita pernah tampilkan semasa kecil. Tidak semua perilaku yang regresif itu buruk. Menangis atau merajuk adalah contoh dari regresi. Akan tetapi kalau reaksi semacam itu ditunjukkan terlalu sering, maka itu akan menjadi pola respon yang jelas-jelas akan menyulitkan diri seseorang pada proses perkembangan kedewasaan berikutnya.

Buat saya, reuni adalah sebuah peristiwa yang sekurangnya potensial menjadi sebuah piknik ke masa lalu dan membangkitkan ingatan-ingatan lama tentang segala hal yang dulu mungkin menjadi pencetus dari satu atau beberapa pola itu. Hmmm, barangkali kalau saya sebut ‘pola’ agak berlebihan karena memang semua manusia memiliki itu. Mungkin, saya akan katakan saja secara sederhana bahwa reuni dapat membangkitkan kenangan akan pengalaman dari masa lalu dan dulu, tidak semua dari pengalaman itu kita hadapi secara dewasa. Dalam kaitan ini, Psikoanalisa mengatakan bahwa perilaku kita sekarang dipengaruhi pengalaman di masa lalu. Reuni membuat kita punya peluang untuk ingat atau mengingat-ingat segala apa yang pernah kita hadapi secara tidak dewasa di masa lalu, dan – dalam semangat tulisan ini – bertanya-tanya apakah semua itu menorehkan ‘bekas’ yang masih kita bawa sampai hari ini.

Anna Freud Uniknya, reuni itu sendiri sifatnya memang regresif (merupakan aksi kembali ke masa lalu). Bagi saya selalu ada siratan pengertian yang ditekankan oleh Anna Freud, bahwa perilaku regresi adalah kembali ke pengalaman masa lalu di mana orang merasa nyaman dalam fiksasi (fixation) tertentu. Biasanya memang ada asumsi bahwa reuni adalah untuk mengenang masa-masa yang menyenangkan. Padahal kita bisa pertanyakan, apakah masa lalu itu selalu menyenangkan buat semua orang ? Atau apakah reuni itu hanya pantas dilakukan bila masa lalu dari sejumlah orang itu sama-sama dipersepsi sebagai menyenangkan ?

Selain itu, reuni juga bersifat kolektif (dilakukan secara bersama-sama). Ketika saya di sini bicara tentang kemungkinan negatif dari reuni pada taraf individual, ada bahaya bahwa karena sifatnya yang kolektif itu maka reuni akan melibas subyektifitas. Kalau tidak itu, maka reuni bisa jadi hanya akan menonjolkan kesaksian-kesaksian pengalaman yang bisa sekedar saling dirujuk ke satu sama lain, alias sebagai sesuatu yang intersubyektif. Sementara, ada ‘ruang’ yang kosong, yang barangkali hanya dihayati secara pribadi. Oleh karena itu bagi seorang individu tertentu, mungkin saja reuni adalah sebuah potensi ancaman. Seseorang bisa saja datang, tapi mungkin ia akan pasang kuda-kuda dalam dirinya. Yang lain, mungkin memutuskan tidak akan datang karena yakin bahwa masa lalu benar-benar masih hidup dan masih memiliki potensi untuk mempengaruhi state of mind yang sekarang.

Rasionalisasi :) Itu tadi yang saya maksud dengan regresi. Lalu apa itu rasionalisasi ? Ini sebenarnya juga masih terminologi dalam konteks Psikoanalisanya Freud. Artinya adalah pembenaran. Kita melakukan segala sesuatu yang membuat diri sendiri dan orang lain percaya bahwa suatu sikap, kepercayaan, atau perilaku kita adalah sesuatu yang masuk akal, padahal sebenarnya (bisa) tidak demikian. Poin dalam kaitannya dengan reuni tadi adalah, setelah bayangan regresif tentang masa lalu itu mencuat ke kesadaran, beberapa orang mungkin melakukan rasionalisasi pada persepsinya sendiri. “Segalanya memang sudah berubah, tapi siapa bisa menjamin bahwa A tidak akan mengolok-olok B dengan julukan yang sama seperti dulu, yang akan membuat A naik pitam ?” “Waktu memang sudah berlalu cukup lama, tapi dendam memang harus terbalaskan.” Atau barangkali, “Dulu ada hal yang belum sempat terlampiaskan, maka reuni sekarang ini adalah saatnya.” Bisa pula, … “Ketika itu dia melakukan hal yang amat sangat menyakitkan hati, dan ketika reuni nanti pasti dia tidak akan meminta maaf. Jadi, lebih baik tidak usah datang saja.” Lainnya lagi, “Dia dulu sudah terlalu banyak membuat masalah. Kalau dia datang ke reuni dia pasti akan bikin kacau perasaan. Mana mungkin kita menuntaskan perasaan itu dengan marah-marah di saat pertemuan yang justru seharusnya diwarnai dengan keceriaan ?” Ya, masih ada banyak variasi. Barangkali akan ada yang bilang saya berlebihan meng-casting suasana di sini. Tapi bayangkan saja, apa kemungkinan yang paling buruk dari sebuah reuni ? Sedia payung sebelum hujan. Kalau sebuah reuni ternyata menyenangkan dan baik-baik saja, ya syukurlah. Tapi kalau tidak ?

Paolo Freire Sampai di sini, apakah sebenarnya saya mau mengatakan bahwa reuni itu kalau tidak mengenakkan lebih baik tidak usah didatangi saja ? Masih ada satu istilah lagi yang harus saya paparkan di sini, yaitu konsientisasi. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Paolo Freire, tokoh pendidikan radikal dari Brazilia. Konsientisasi berasal dari kata conscience (sadar), maka konsientisasi (conscientization) artinya adalah penyadaran. Konteks penerapan istilah ini bisa luas, tapi dalam rangka tulisan saya ini, konsientisasi ingin saya maksudkan sebagai proses pembersihan diri dari residu persepsi dan pengalaman masa lalu yang tidak mengenakkan atau bersifat disonan, yang boleh jadi dalam bentuknya yang lain mewujud dalam diri kita yang sekarang, atau menjadi latar belakang dari kecenderungan-kecenderungan tertentu diri kita sendiri. Kalau ini diterapkan pada diri seseorang yang ikut acara reuni, maka itu harus didahului dengan sebuah konfrontasi.

Saya sebut konfrontasi, tapi ini akan dengan mudah membuat orang jadi mengira saya ini sudah kehilangan sense of ease. Bukannya reuni itu adalah sebuah acara untuk bersenang-senang ? Ya betul, tapi apa hanya itu satu-satunya makna dari sebuah reuni ? Yang saya maksud dengan konfrontasi adalah kesengajaan diri kita untuk menghadapkan diri pada hal-hal yang mungkin dalam situasi normal justru kita hindari. Dalam rangka konsientisasi, reuni adalah sebuah kesempatan untuk melakukan konfrontasi pada konflik-konflik batin yang berkaitan dengan persepsi pada orang atau peristiwa, serta pengalaman dari masa lalu. Tapi mengapa kita mesti melakukan itu ? Bukannya itu akan sangat tidak mengenakkan ?

spin Saya ingin katakan, sebaiknya kita melakukan itu, karena seharusnya kita berkembang menjadi semakin dewasa dengan meninggalkan hal-hal yang buruk dari masa lalu dan sepenuhnya melepaskan diri dari ‘sampah-sampah perasaan’ yang mungkin masih tersisa. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa ini akan mudah. Konsientisasi pada acara reuni memerlukan keberanian, dan ini hanya bisa berlangsung pada taraf individu, tidak bisa diangkat ke permukaan. Dengan datang ke acara reuni, kita membiarkan diri kita menghadapi kemungkinan munculnya ingatan-ingatan dari masa lalu atau adanya reaksi / respon dari orang lain yang tidak menyenangkan, tapi bersamaan dengan itu konsientisasi membuat kita menjadi saksi bahwa segala yang mungkin tidak menyenangkan itu boleh jadi ternyata relatif saja, tidak seintens yang kita bayangkan selama ini, atau malah barangkali sudah berubah sama sekali. Kalau ternyata itu semua tidak bisa datang dari orang lain, maka diri kita sendiri yang harus melakukannya, mereevaluasi semuanya. (Memang dalam konteks terapi, konsientisasi barangkali harus dipandu, tapi kali ini kita harus melakukannya sendiri). Apakah cara pandang kita dulu tentang segala sesuatunya akan masih sama dengan yang sekarang ? Kita tidak akan tahu apa yang bisa terbangkitkan pada perasaan kita di acara reuni, tapi itu adalah kesempatan untuk berdamai dengan diri sendiri.

insensitivesob Harus diakui bahwa akan ada orang-orang yang dulu mungkin menyebalkan, dan sekarang ternyata masih seperti itu. Ada pula orang-orang ekstrovert bodoh yang dengan pembenarannya sendiri mungkin akan mengungkapkan apa yang dipikirnya sesuatu yang kocak dari masa lalu, tapi sangat mungkin itu adalah hal yang amat menyakitkan bagi orang lain di situ. Di sini saya jadi berpikir, apa pengertian konfrontasi tadi sebaiknya harus dibayangkan tidak saja pada suasana reuni, tapi juga sekalian pada orang-orangnya ? Maksud saya, apakah baik bila reuni menjadi sebuah peluang juga bagi kita untuk secara asertif menyatakan apa yang sebenarnya selama ini kita rasakan pada atau tentang orang lain ? Saya tidak bisa membayangkan itu akan benar-benar bisa diniatkan semua orang. Selain tidak semua kepribadian bisa menangani itu, kita juga tidak akan pernah tahu bahwa orang yang kita hadapi itu akan menerima apa yang kita katakan. Agak paranoid juga kalau di sini mesti dikatakan bahwa sebelum reuni dilakukan, semua peserta harus mematuhi semacam codes of conduct tertentu. Masalahnya, tidak mungkin kita mengendalikan perilaku semua peserta reuni. Barangkali, reuni dengan codes of conduct itu malah bukan reuni sama sekali. Kalau begitu, sekurangnya ada ‘gerakan’ proaktif pada diri sendiri, hanya dalam diri kita sendiri, untuk mengevaluasi kembali semua perasaan itu. Kita katakan saja, barangkali orang-orang tolol yang tidak sensitif itu memang sudah ditakdirkan seperti itu selama hidupnya.

OK, dengan menuliskan itu semua, apakah sekarang jadi cukup alasan bagi saya untuk mengatakan bahwa reuni mungkin penting untuk kesehatan dan perkembangan psikis kita ? Semua orang pasti punya masa lalu, tapi tetap saja barangkali reuni itu tidak untuk semua orang. Tidak ada yang mengatakan baik atau buruk, karena ada suatu masa dalam hidup kita – betapapun itu sungguh berat – kita mesti bertanggungjawab untuk diri sendiri. Maka datang atau tidak-datang ke sebuah acara reuni adalah kebebasan untuk semua orang.

Semoga reuni yang memang regresif itu bisa selalu kita manfaatkan untuk melepaskan semua rasionalisasi buruk tentang masa lalu. Waktu mengubah segalanya, dan segalanya memang pasti akan berubah. Datang ke acara reuni bagi beberapa orang bisa merupakan konfrontasi, tapi itu adalah dalam rangka konsientisasi yang menyehatkan. Bagaimana itu terjadi benar-benar hanya ada dalam diri seseorang. Pada reuni, kita melakukan retreat pribadi di dalam hati, meski itu harus dilakukan di antara hiruk pikuk keramaian.

Seorang teolog Amerika, Tryon Edwards (1809 – 1894), mengatakan : Every parting is a form of death, as every reunion is a type of heaven. Setiap perpisahan adalah suatu bentuk kematian, seperti halnya setiap reuni yang adalah sejenis surga. Jadi, apakah reuni selalu ada gunanya ?

Catatan: tulisan ini tidak berlaku untuk mereka yang mengklaim bahwa masa lalunya sempurna dan terlalu membahagiakan.

Bagikan pada media sosial :