# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3443

steve-jobs-ipadSteve Jobs adalah orang yang berhasil membuka ceruk baru dalam industri TIK berupa sebuah perangkat portabel yang kini dikenal dengan sebutan tablet. Tadinya yang saya tahu tentang tablet adalah alat bantu desain grafis yang untuk mengoperasikannya membutuhkan semacam stylus, sehingga operator bisa melakukan input seolah seperti menggunakan pulpen / pensil. Sekarang ini, yang disebut tablet adalah sebuah komputer jinjing yang layar, CPU, dan papan ketiknya menyatu. Input data dilakukan melalui layar sentuh. Ada banyak isu terkait dengan semakin merebaknya popularitas perangkat ini. Tapi saya berpendapat kita harus menjawab pertanyaan ini dulu: apakah kegiatan Komunikasi kita sehari-hari membutuhkan tablet ?

Di Bandung, tempat saya tinggal ini, pemandangan orang menggunakan tablet boleh dikatakan masih jarang, meski pada beberapa individu yang technology-minded yang saya kenal, hal tersebut sudah tampak biasa. Saya kira, tinggal menunggu waktu saja hingga akhirnya akan ada banyak yang menggunakan tablet. Iklan tentang perangkat ini di berbagai media massa semakin banyak, harganya pun semakin turun. Serbuan barang-barang murah dari Cina juga akhirnya mendatangkan tablet yang harganya bisa di bawah satu juta. Memang kualitas masih dipertanyakan. Tapi bukankah sama dengan telpon selular, di mana tinggal menunggu waktu hingga akhirnya evolusi manufaktur menghasilkan produk yang lebih baik ?

Sebelum kita mungkin akhirnya mengambil keputusan dengan pertimbangan yang tidak esensial atau membelinya karena alasan gengsi, saya ingin berbagi tentang apa saja yang bisa dijadikan pertimbangan untuk memiliki alat ini. Dengan begitu, kita dapat membelinya dengan percaya diri dan sesedikit mungkin rasa bersalah :)

  1. Fokus pada Kebutuhan yang spesifik
    Kebingungan saya ketika memilih adalah karena diawal saya berasumsi semua yang sebelumnya bisa saya lakukan pada komputer desktop atau laptop bisa tergantikan sepenuhnya dengan tablet. Hingga akhirnya saya memutuskan bahwa saya harus fokus. Persisnya untuk apa tablet yang akan saya miliki. Barangkali seiring dengan semakin fasihnya kita mengoperasikan alat ini akan semakin banyak jenis pekerjaan yang bisa ditangani langsung melalui tablet. Tapi di awal pengambilan keputusan antara beli atau tidak, harapan tersembunyi bahwa tablet bisa mengkompensasi fungsi semua perangkat yang kita miliki sebelumnya adalah sebuah kekeliruan yang akan menambah rumitnya proses pengambilan keputusan.
    Saya pribadi memutuskan hanya dua, yaitu membaca ebook dan Internet. Koleksi ebook saya sudah teramat banyak dan tidak ada satupun yang selesai dibaca tuntas, padahal membaca itu vital sekali buat profesi saya. Membaca di komputer desktop / laptop harus dalam posisi duduk dan itu cepat membosankan dan melelahkan. Saya bayangkan akan lebih enak kalau melakukannya sambil tiduran atau lebih santai (anehnya, saya sekarang malah lebih nyaman membaca ebook sambil duduk!). Lalu Internet, lebih khusus lagi adalah pada email. Banyak akun email yang harus saya tangani. Melakukanya di Blackberry dengan layar sekecil itu semakin tidak nyaman untuk mata saya. Barangkali anda bisa punya pertimbangan yang berbeda dengan saya.
  2. Tidak Ada Tablet yang Sempurna
    Pembeli adalah raja. Kita tentu ingin barang yang sesempurna mungkin. Kenyataannya adalah, tidak ada tablet yang sempurna. Saya sudah membuktikan itu dengan melihat spesifikasi dari cukup banyak tablet. Ketidaksempurnaan itu kadang membuat saya agak heran, kenapa yang begini saja tidak ditanggulangi masalahnya oleh si pembuatnya ? Misalnya tidak adanya expansion slot untuk memory tambahan, baterai-nya tidak bisa diganti, atau tidak adanya antarmuka yang praktis untuk pertukaran data.
    Pikir punya pikir, saya mencoba untuk melihat sebuah produk tablet dari sudut pandang pembuatnya. Apakah si pembuat tablet itu cukup bodoh untuk tidak mengadakan fasilitas yang menurut kita masuk akal harus ada ? Jawabannya adalah, mereka tentu punya konsep tentang bagaimana tablet itu nanti akan digunakan. Seperti apa konsep itu persisnya barangkali kita tidak akan pernah tahu, tapi kita mungkin bisa menebaknya. Misalnya, tidak adanya expansion slot bisa dimaknai karena media penyimpan data yang ada seharusnya sudah cukup; baterai yang tidak bisa diganti karena memang baterai yang ada kualitasnya tinggi dan usia pemakaiannya akan lebih lama dari prospek penggunaan tablet itu sendiri; tidak adanya antarmuka pertukaran data mungkin karena tablet itu lebih ditujukan untuk memproses sesuatu yang baru daripada memproses sesuatu yang di-import dari luar. Saya berakhir dengan pikiran, nampaknya produsen tablet berorientasi pada apa yang saya tulis di nomor 1.
  3. Portabilitas dan Ukuran Tablet
    Ini memang menjadi perdebatan. Dell Streak memilih 5 inci, Samsung Galaxy Tab memilih 7, 10, 8,9, dan terakhir 7,7 inci. Apple memutuskan bahwa iPad-nya harus 9,7 inci. Sementara yang lainnya berukuran yang kurang lebih 7 atau 10 inci. Ukuran mana yang paling nyaman kita gunakan ? Jawabannya terkait dengan seberapa akan mobile-kah kita menggunakannya ? Bisa pula, seberapa besar ukuran kedua tangan dan jari-jemari kita hingga nyaman untuk memegangnya ?
    Soal portabilitas, tentu belum bisa ada yang mengalahkan telpon selular yang handy. Ukuran tablet jelas lebih besar dari ponsel pada umumnya. Saya pikir keliru juga kalau kita berharap tablet akan seportabel ponsel. Termasuk, adalah bodoh kalau kita percaya pada gambaran di iklan surat kabar bahwa ukuran tablet itu sedemikian rupa sehingga bisa kita selipkan di saku celana blue jeans. Layar tablet cukup sensitif. Saya kira terlalu berisiko kalau kita mengantongi tablet di blue jeans. Fokusnya di sini saya kira adalah pada rasa nyaman yang subyektif.
    Ini menurut saya: 5 dan 7 inci barangkali untuk mereka yang masih lebih berorientasi pada tablet yang lebih berfungsi sebagai ponsel atau untuk mereka yang jari-jarinya kecil, atau juga lebih menekankan pada melihat / viewing, bukan pada mengetik / typing. Ukuran 9,7 dan 10 inci hanya beda tipis. Mengetik lebih nyaman di sini, meski untuk pertama kali pasti akan tetap banyak salahnya. Sementara 7,7 dan 8,9 adalah sebuah kompromi ukuran yang memberi peluang bagi ukuran tangan yang berbeda. Sekali lagi ini subyektif sekali, meski kita dapat menekankan ukuran sekian lebih optimal untuk urusan apa.
  4. Antara Wifi-Only dan 3G
    H
    al lain yang menjadi pembeda varian tablet pada merek yang sama adalah apakah itu Wifi-Only atau 3G. Bila itu 3G asumsinya pasti sudah ada Wifi-nya. Pada beberapa merek perbedaan harga antara versi Wifi-Only dan 3G bisa antara 800 ribu hingga 1,5 juta. Apakah keberadaan 3G sedemikian penting sehingga kita harus memilih yang ada fitur ini ? Jawabannya cukup sederhana. Kalau kita ingin di manapun bisa ber-Internet, pilihlah 3G, tapi kalau kita rela baru bisa ber-Internet kalau ada hotspot, pilihlah Wifi-Only. Kalau uang tidak masalah, ya lebih baik pilih 3G, tapi kalau mau berhemat (dan uang selebihnya bisa dibelikan asesoris tambahan untuk tablet) kita harus bertanya, apakah kebutuhan koneksi Internet kita harus setiap saat di manapun kita berada ? Barangkali memang Wifi-Only sudah cukup.
    Alasan lain yang membuat saya bilang Wifi-Only sudah cukup adalah sekarang ada cukup banyak ponsel yang dapat digunakan sebagai Mifi (my Wifi) alias bisa di set sebagai pemancar hotspot. Selain itu ada juga yang jual Mifi yang dedicated, yang harganya ada di bawah 500 ribu. Yang juga tidak kalah penting, kalau laptop anda bisa menggunakan hotspot, maka laptop anda itu bisa dibuat menjadi pemancar hotspot (menggunakan program seperti MaryFi, Connectify, dan lain-lain).  Tentu dengan sebuah modem Internet wireless yang ditancapkan ke situ. Yang terakhir tentu saja, semakin banyak tempat yang memberikan fasilitas hotspot. Kalau tempat aktifitas utama kita sudah ada hotspot-nya, keberadaan 3G bisa nomor 2.
  5. Sistem Operasi Tablet
    Ini urusannya tidak mudah. Pertama ini tidak seperti membandingkan apel dengan jeruk. Apakah Sistem Operasi yang satu lebih baik dari yang lain ? iOS dari Apple dibilang stabil karena memang Sistem Operasi itu dibuat untuk perangkat yang arsitekturnya sangat spesifik. Si pembuat sistem operasi saya bayangkan sudah menyebutkan parameter-parameter yang relatif pasti agar sebuah aplikasi dapat berjalan dengan baik. Ini berbeda dengan Android. Bayangkan satu sistem operasi tapi digunakan di perangkat yang berbeda-beda arsitekturnya. Betul tidak ada tablet Android yang begitu saja dipasangkan sistem Android secara langsung, selalu ada modifikasi. Tapi kita bertanya, seberapa jauh modifikasi itu ? Yang saya rasakan nampaknya modifikasi lebih pada tampilan. Lalu ada pula QNX untuk tablet Playbook dari Blackberry, yang katanya hingga kini belum menyediakan aplikasi untuk email, yang baru bisa optimal penggunaannya kalau di-bridge (digunakan bersamaan) dengan ponsel Blackberry yang sebelumnya (lebih baik) sudah kita miliki. 
    Saya bilang tidak mudah karena semua ini masih berevolusi. Kalau mau mengatakan kondisi sekarang, tentu mudah untuk bilang mana yang paling stabil. Tapi bayangkan, kedepannya ini semua bisa berubah. iOS ada update-nya. Android terus bergerak maju versinya sesuai dengan huruf depannya yang mengikuti alfabet. Belum lagi patch yang secara khusus untuk tablet tertentu. Sementara QNX juga dijadwalkan akan ada update-nya pula.
    Teman saya bilang, kalau mau enak untuk baca ebook/web pilihlah iPad dari Apple karena layarnya sangat nyaman dan ukuran 9,7 itu sangat pas, katanya. Tapi kalau mau ngoprek, pilihlah Android. Saya tidak tahu seberapa benar itu, tapi itu boleh juga dijadikan acuan. Lainnya adalah, iOS-nya Ipad secara resmi mengharuskan kita membeli software menggunakan kartu kredit, meskipun cukup banyak juga yang gratis. Untuk tidak seperti itu, maka dikenal istilah jailbreak, alias iPad itu harus dimodifikasi sehingga bisa dipasangi software bajakan. Hal yang kurang lebih sama ada pada Android dan QNX, dengan fleksibilitas yang lebih luas pada Android .. dan belakangan ada berita sistem operasi Blackberry itu pun katanya akan bisa dipasangi aplikasi Android. Men-jailbreak Android lebih murah dari pada iPad, katanya.
  6. Membaca / Menonton Review
    Yang akan memudahkan pengambilan keputusan juga adalah membaca pengalaman orang dengan tablet yang akan kita beli. Selama ini saya selalu membaca, dan baru ketika akan membeli tablet kemarin, untuk pertama kalinya saya tidak hanya membaca, tapi menonton. Maksudnya tentu saja melihat review yang dibuat orang dalam bentuk video di Youtube. Harus saya akui ada perbedaan besar antara membaca saja dan menonton. Saya kira hari-hari ini kita wajib melakukan ini sebelum membeli perangkat elektronik apapun (sejauh yang review-nya tersedia di Internet, tentu).
  7. Mencoba Langsung
    Kalau menonton ternyata bisa menimbulkan sensasi yang berbeda dari sekedar membaca, yang berikutnya tidak boleh dilupakan adalah mencobanya langsung. Pengalaman saya begini. Membaca dan menonton review itu untuk satu hal memang informatif, tapi tinggal tunggu waktu sebelum akhirnya kita jadi bingung sendiri. Bayangkan, saya menemukan review sebuah produk tablet dengan tajuk, “5 Alasan Mengapa Anda Harus Memilih Tablet X”. Berikutnya, dari reviewer yang sama, dia mengatakan “5 Alasan Mengapa Anda JANGAN Memilih Tablet X”. Siapa yang tidak bingung ? Maka mencoba langsung bisa jadi jalan keluar kebingungan itu.
    Apakah sebuah tablet itu pas ukurannya di tangan kita, apakah build quality-nya persis seperti yang kita bayangkan dari gambarnya di Internet, apakah akurasi respon sentuhnya pada layar memuaskan kita, dan sebagainya. Seeing is believing. Experiencing is confirming.
  8. Resistive atau Capacitive ?
    Ini berkaitan dengan bagaimana jari-jemari kita akan dimainkan di atas layar tablet. Pilihan untuk ini mudah. Capacitive jelas lebih baik dari resistive. Capacitive memberikan respon pada sentuhan, sedangkan resistive akan mengharuskan kita sedikit menekan layar. Layar capacitive sendiri konon berbeda-beda pada setiap tablet. Ada yang hanya bisa merespon gesture jari secara terbatas, ada yang lebih variatif. Konon juga, yang resistive itu tetap ada kelebihannya, yaitu untuk orang-orang yang harus menulis huruf yang bukan-alfabet menggunakan stylus. Saya belum mencoba banyak tablet yang resistive. Hanya mencoba satu saja, dan tidak responsif. membuat saya mengeluarkan tablet yang resistive dari pilihan.
  9. Tentang Tablet Buatan Cina
    S
    iapa yang bisa mengalahkan Cina soal murahnya harga barang ? Lalu apakah tablet-tablet dengan merek yang belum pernah kita dengar itu layak untuk kita beli ? Saya tidak mau cepat-cepat berburuk sangka. Masalahnya harganya yang murah itu benar-benar menarik. Bayangkan, sekarang ada tablet yang harganya hanya 800 ribu rupiah saya. Terus terang saya hanya mencoba satu merek (dan langsung kecewa di tempat). Tapi saya tidak akan bilang “Jangan beli tablet yang mereknya aneh buatan Cina”. Masalahnya kalau dana terbatas, dan ternyata ada support yang cukup bagus dari produsen dan komunitas penggunanya, kenapa tidak ?
  10. Harus Menunggu atau Beli Sekarang ?
    Ini adalah kelakuan otak kiri kita :) Nampaknya apapun tidak akan kita beli kalau prinsipnya seperti ini. Betul harga menjadi semakin murah dengan munculnya versi baru, juga sistem operasi yang semakin stabil. Mikirnya begini saja, beli sekarang sebelum kiamat …  :) … atau beli sekarang sebelum uang yang ada terpakai untuk keperluan-keperluan lain. Titik.
  11. Tablet akan Membunuh Laptop ?
    Apakah setelah seseorang menggunakan tablet maka ia akan melupakan komputer lainnya ? Saya berpendapat, orang yang lalu melupakan komputer lainnya (yang desktop dan / atau laptop) berarti orang itu punya rentang aktifitas yang terbatas. Masalahnya adalah, ada banyak pekerjaan yang lebih baik dikerjakan pada komputer desktop atau laptop. Jadi kalau anda belum punya apapun dan berharap dengan membeli tablet maka itu bisa mengkompensasi kebutuhan akan komputer desktop / laptop, saya kira itu keliru. Ini pendapat saya.
  12. Harga yang Harus Dibayar
    Dengan “Harga yang Harus Dibayar” saya tidak memaksudkan uang, tapi konsekuensi apa yang akan kita hadapi dengan memiliki tablet dan menentukan jenis tabletnya terkait dengan sistem operasinya. Kita harus membiasakan diri kembali ke lingkungan kerja baru (mengetik tanpa keyboard fisik, misalnya), menerima kenyataan bahwa konektifitas dengan perangkat lain mungkin terbatas. Lalu bentuknya memang portabel, namun itu sekaligus juga berarti mudah jatuh dan meninggalkan bekas luka fisik pada tablet. Lainnya lagi, mungkin kita tanpa sadar akan lebih sering menunduk dan mengakibatkan pegal di leher. Last but not least, barangkali tablet pilihan anda bukan barang yang termurah, dan anda mesti menjaganya dengan lebih hati-hati dari orang yang mungkin berniat buruk.

Dua belas poin itu saya sarikan dari pengalaman saya, yang lama dalam menimbang-nimbang untuk memiliki tablet. Bahkan mungkin terlalu lama. Semoga ada gunanya bagi yang sedang menimbang-nimbang juga. Tapi yang penting sekali lagi; banyak pekerjaan kita sekarang semakin disadari memiliki sifat dan konsekuensi Komunikasi, dan apakah Komunikasi kita itu memerlukan tablet ?

Bagikan pada media sosial :