# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2265

Kemarin pagi, di bagian suggestion halaman Facebook saya, muncul ajakan untuk bergabung dengan “Katakan Tidak Untuk Roy Suryo”. Sejenak saya terhenyak. Sudah lumayan lama saya tidak mendengar hingar bingar tentang orang yang satu ini. Ternyata suara antipati ini punya tempatnya juga di Facebook. Ketika saya klik, ternyata di dalamnya sudah tergabung sebanyak 5656 orang. Pagi ini saya cek lagi, anggotanya sudah bertambah menjadi 13.568. Fantastik! Apakah seharusnya saya bergabung juga ke grup ini ?
roy Sudah cukup banyak Internet-based assault ke dia, dan nampaknya hingga hari ini belum akan berhenti. Setelah upaya penghilangan hasil search untuk namanya via Google (yang nampaknya tidak berhasil ?), pembuatan situs Roy Suryo Watch (yang sekarang mati), mungkin grup “Katakan Tidak Untuk Roy Suryo” di Facebook ini bukan yang terakhir atau yang terbaru. Awalnya saya sempat heran, kok reaksi ke orang satu ini sampai se-intens itu. Ada apa sebenarnya?
Awalnya saya berpikir, penyebab adanya upaya orang-orang di Internet untuk melakukan counter terhadap kredibilitasnya adalah seperti kalo ada orang yang hanya bisanya sedikit tentang sesuatu tapi lalu petantang petenteng di depan orang-orang lain yang kebetulan tahu betul bidang itu. Apakah sebenarnya dia sudah membuat gusar orang karena dia menyampaikan informasi yang salah, tidak terlalu benar, atau hanya sekedar mengesankan techno geek?
Saya tidak yakin benar, tapi dari awal kemunculannya di media massa dia sudah jadi kontroversi buat sementara kalangan di Internet. Mulai dari penggunaan plug-in spectrum analyzer di WinAmp untuk menganalisis suara mantan Presiden Soeharto itu, analisis foto Gus Dur, sampai komentarnya tentang blog / blogger. Dalam kaitan ini, katakanlah, seperti seorang selebritis sinetron yang lalu masuk ke bidang tarik suara dan dikritik karena dia aji mumpung karena menyanyinya jelek. Toh dia akhirnya berlatih terus dan menyanyinya bisa jadi agak lumayan. Begitu pulalah yang saya bayangkan tentang Roy Suryo. Dia mungkin belajar, dan belajar cepat. Dia pasti tidak menutup mata dan telinganya terhadap kritik-kritik yang tertuju kepadanya. Tapi saya melihat lagi-lagi ada saja dari orang ini yang nampaknya tetap sama: membuat kontroversi yang tidak perlu. Apakah mungkin itu adalah dia yang sebenarnya?
Sebuah halaman Wikipedia mengatakan bahwa dia adalah lulusan Fakultas Ilmu Sosial Politik UGM. Seorang teman online saya mengatakan bahwa dia adalah seorang dosen fotografi. Yang saya bayangkan barangkali dia mengajar di sebuah jurusan yang ada hubungannya dengan Ilmu Komunikasi? Apa dia belum pernah membaca tentang pengertian kredibilitas? Semua orang Indonesia yang beradab sudah tahu arti peribahasa, “sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Demikian pula dalam Ilmu Komunikasi, common sense itu dikonsepkan sebagai initial, derived, & terminal credibility. Barangkali sebenarnya Roy Suryo tahu ini tapi cuek saja?
Initial, menunjuk pada bagaimana persepsi orang sebelum seseorang melakukan komunikasinya. Dari gelarnya, dari lagak lagunya, orang bisa punya kesan bahwa ia adalah kredibel. Lalu Derived, adalah persepsi terhadap hasil pembuktian komunikasi seseorang. Orang akhirnya harus berbicara, membuktikan kepakarannya, performance-nya. Bagaimana publik mempersepsi ini adalah sebuah indikator yang menunjuk pada kenyataan yang sebenarnya. Terakhir adalah Terminal Credibility. Publik akhirnya akan membandingkan antara Initial dan Derived tadi, hasilnya adalah sebuah persepsi yang relatif menetap tentang seseorang. Orang boleh jadi berpandangan eksistensialis yang berpikir bahwa manusia adalah sebuah kontingensi, tapi ia harus berhadapan dengan persepsi publik ini. Bagi saya, persepsi publik (terutama di Internet) terhadap Roy Suryo sudah sangat buruk. Anehnya, kenapa dia tidak berhenti muncul di panggung media massa? Lebih aneh lagi adalah, kenapa media massa (terutama televisi) terus-menerus menggunakannya sebagai narasumber? (atau sekarang media massa sudah insaf?)
Selain itu, tentang kredibilitas juga dikatakan bahwa unsurnya itu dua; trustworthiness dan expertness. Yang pertama berhubungan dengan bagaimana kemampuan sosial seseorang membangun relasi dengan orang lain. Hal-hal yang terkait dengan ini adalah seperti kejujuran, reputasi, citra diri, sosiabilitas, …. Sementara yang kedua berkaitan dengan kepakaran seseorang yang (sebaiknya) koheren dengan latar belakang pendidikannya. Apa yang kita temui pada Roy Suryo? Secara personal trustworthiness tidak ada masalah, tapi kasus yang ada sejauh ini sudah meruntuhkan itu. Sementara pada expertness-nya, ternyata dia tidak punya latar belakang informatika, IT, elektronika, atau apapun yang langsung berhubungan dengan bidang yang diklaim sebagai bidang kepakarannya sekarang: Telematika. Di sini jadi terpikir oleh saya, apakah tidak sebaiknya Roy Suryo benar-benar mundur saja dari panggung media massa, lalu sekolah lagi ? Apakah dia mampu menempuh bidang-bidang itu tadi, sementara latar belakangnya adalah ilmu sosial ? Well, sekurang-kurangnya sekarang ada yang namanya CMC alias Computer-Mediated Communication; sebuah bidang baru dalam Ilmu Komunikasi sebagai respon dari dinamika komunikasi di Internet. Sekolah lagi saja, daripada bikin kontroversi. Bikin buku juga mungkin akan lebih baik.
Soal apakah sebaiknya Roy Suryo mundur dari panggung media massa barangkali adalah urusan pribadinya. Yang terakhir saya dengar dari seorang teman tentang dia adalah, bahkan di komunitas fotografer pun dia dihindari. Seseorang bercerita bahwa ketika ada kumpul-kumpul di darat, sekelompok orang yang tadinya ngerumpi, jadi bubar ketika Roy Suryo datang. Saya hanya mendengar cerita ini, tapi yang saya pikirkan adalah apakah bisa jadi tinggal waktu saja sebelum yang namanya virtual assault menjadi social assault?
Saya belum memutuskan untuk bergabung di grup Facebook yang anti ke dia itu. Ya, sekurangnya kasus Roy Suryo adalah sebuah contoh yang harus dihadirkan pada kuliah tentang kredibilitas komunikator. Lalu sejauh mana nanti dia akan beraksi lagi dan bagaimana persepsi publik terhadapnya akan menjadi sebuah eksperimen Eksistensialisme.

Bagikan pada media sosial :