# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3029

1309400591-63Saya selalu curiga pada saat sesuatu akhirnya harus saya tuliskan atau saya aksentuasikan dengan satu dan lain cara. Pola yang selalu saya alami adalah adanya ekspos secara berurutan dalam satu hari dengan tema yang sama. Seperti pagi hari ini. Dimulai dengan sesuatu yang terjadi di rumah, lalu ketika di lampu merah, saya melihat seorang ibu tuna wisma yang menyusui anak bayinya, sementara anaknya yang lain bergelayutan di lehernya. Tidak lama kemudian di radio mobil menyuarakan lagu ‘Mama’ dari Spice Girl. Ingatan tiba-tiba pula melayang ke dua orang anak kecil dari masa lalu yang kini sudah jadi mahasiswa. Di kantor, saya juga sempat lihat seorang ibu yang mengantarkan anaknya daftar, marah-marah tidak jelas. Barangkali ada yang lain lagi tapi fokus saya segera buyar begitu mengerjakan banyak hal hari ini.

Ini semua adalah tentang perempuan, yang kok ketika saya tuliskan ini terbayang ‘Dia adalah penentu “kemanusiaan” kita’. Sebegitu pentingnya Dia ketika Dia sudah menjadi seorang ibu meski di antara kekhawatiran rasional saya pada betapa kritisnya peran itu, memang selalu ada kekuatan adi kodrati yang membuat takdir tidak selalu bisa diprediksikan. Maksud saya, seorang Ibu itu tidak boleh goblok, tapi meskipun goblok pun anak-anak memang belum tentu akan menjadi gila, atau sekurangnya, sama gobloknya! Genetika di SMP telah mengajarkan bahwa generasi baru dari sebuah keturunan cenderung akan lebih baik dari induknya, baik genotipe maupun fenotipe-nya. Akan tetapi manusia dengan rasionalitasnya ini jelas tidak bisa menyandarkan apa yang akan terjadi pada takdir. Kita berhak, malah harus, merasa was-was bila apa yang kita lihat kini nampaknya cenderung ke arah yang buruk.

SchizophrenicPaintingLebih persis lagi fokus saya tentang ini semua adalah soal Skizofreni; sebuah gangguan kejiwaan yang menurut saya rentangnya bisa mulai dari mild sampai yang kronik. Sementara mungkin banyak orang berpikir bahwa ‘saya cukup beruntung karena belum-pernah / tidak seperti itu’, saya malah mau berhipotesis bahwa semua orang itu pernah mengalami episode skizofrenia (dengan segala konotasinya), hanya kesamaptaan psikisnya mungkin yang cukup bagus untuk bisa keluar dari kemungkinan yang lebih patologis. Hidup ini sering tidak sederhana. Ada banyak kejadian yang sama sekali di luar kuasa kita yang akhirnya mengantarkan kita untuk harus berhadapan dengan pilihan-pilihan sulit. Pilihan-pilihan itu bahkan beberapa di antaranya tidak dipilih sama sekali. Alih-alih, hidup saja dengan membiarkan dilema itu ada. Hey, apakah sekarang sudah terlalu banyak orang yang cuek, tidak kritis melihat hidupnya atau memang kita sebaiknya ‘melarikan diri’ saja dari apapun yang tidak menyenangkan dalam hidup ini ?

hdc_0000_0001_0_img0070Skizofreni pernah didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan karena adanya cacat atau anomali pada sistem syaraf atau adanya aktifitas yang tidak biasa pada segala hal yang sifatnya neurobiologis di otak, yang entah karena genetik atau menjadi seperti itu karena pengaruh obat-obat / bahan kimia tertentu. Namun demikian yang saya maksudkan bukan Skizofreni yang terutama genealoginya seperti itu. Ini adalah yang lebih disebabkan karena interaksi sosial; sesuatu yang pertama kali saya temukan clue-nya pada tulisan almarhum M.A.W. Brouwer di harian Kompas ketika saya SMA. Saya telusuri itu lebih lanjut meski kala itu jelas belum ada Internet sama sekali, … dan saya menemukan: double-bind.

Double-bind adalah sebuah situasi komunikasi / interaksi di mana orang berhadapan dengan dilema pilihan yang sulit. Bila seseorang memilih yang satu, maka itu berakibat negasi pilihan yang lainnya. Orang berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama tidak mengenakkan, atau bila pilihan yang satu dijalani maka konsekuensinya akan buruk pada pilihan kedua, padahal pada saat yang sama semua pilihan yang ada sama-sama punya dasar benar atau layak untuk dipilih secara rasional. Contoh dari Wikipedia misalnya, ketika seorang bos dengan keras meminta seorang pegawainya untuk segera menyelesaikan sebuah pekerjaan, tapi pada saat yang sama si bos itu tidak memberikan cukup waktu baginya untuk mengerjakannya. Pilihan pertama, ia harus menyelesaikan pekerjaan itu meski waktunya sedikit (pilihan sulit). Pilihan kedua, ia minta tambahan waktu pada si bos, meski ia tahu kalau ia melakukan itu si bos akan lebih marah dan mungkin akan memecatnya (juga pilihan sulit). Kalau kita teliti, bisa ada banyak contoh seperti ini, … dan di Internet, ada cukup banyak yang menyebutkan bahwa situasi dalam keluarga (terutama interaksi dengan orang tua, khususnya ibu) banyak yang membuat anak harus berhadapan dengan situasi double-bind.

Ok, secara ilmiah memang belum pada sebuah landasan yang solid untuk mengatakan bahwa ekspos terhadap situasi double-bind bisa jadi penyebab tunggal skizofrenia yang patologis. Tapi dalam kaitannya dengan situasi domestik di dalam keluarga, saya mau menyikapinya begini. Seorang manusia itu lahir dengan segala potensinya. Di atas potensi-potensi itu ada kombinasi sifat yang diturunkan dari kedua orang tua yang menjadi variabel genetik bagi aktualisasi potensi-potensi itu. Lalu di atasnya lagi ada pengaruh lingkungan sosial yang dalam rentang waktu kehidupan anak itu hingga dewasa akan membuat potensi-potensi tadi bisa menjadi nyata atau malah sirna sama sekali. Nah, di sini saya mau memberikan penekanan: sementara kita tidak pernah tahu persis potensi positif atau negatif apa yang ada pada seorang anak, maka bukankah sebaiknya orang tua lebih memastikan bahwa yang buruk tidak terjadi ? Bagi saya, tolol sekali kalau ada yang berpikir atau memaafkan diri sendiri dengan bersikap, “Ah, buktinya banyak anak yang ‘jadi orang’ meskipun masa kecilnya kelabu. Saya memang pernah berlaku buruk pada anak-anak saya, tapi masa depannya belum tentu jadi jelek karena apa yang sudah saya lakukan”.

Fokus berikutnya adalah tentang peran Ibu. Ini bukannya mau mengatakan bahwa Bapak tidak ada perannya sama sekali, tapi akal sehat kita tentu akan mengatakan bahwa karena anak lahir dari rahim Ibunya, dipeluk, disusui, begitu dekat setiap hari … jelas tingkat kedekatan anak-anak dengan Ibunya akan berbeda dengan Bapaknya. Saya pernah membaca tentang seorang anak yang membunuh Ibunya, menyiksa Ibunya, atau apa lagi yang jahat / kejam, … barangkali itu sebuah anomali yang luar biasa. Tapi dari pengamatan baik pada keluarga sendiri maupun keluarga orang lain, saya melihat bahwa anak-anak cenderung “terkooptasi” dengan Ibunya: anak-anak seolah berada dalam lingkup tertutup dan tidak punya pilihan lain. Misalnya Sang Ibu marah, entah dengan alasan bagus atau buruk, atau bahkan mungkin tanpa alasan sama sekali, yang menimbulkan rasa tidak nyaman, tidak senang, bahkan benci (betapapun sesaat) pada sang anak. Dengan berlalunya waktu, anak mau tidak mau akan bisa kembali lagi dekat dengan Ibunya dengan mudah. Ini terutama sekali kalau si anak masih kecil atau tingkat kemandiriannya masih rendah. Saya bahkan mau mengatakan bahwa Ibu bisa jadi adalah ‘Tuhan’ bagi anak-anaknya, karena barangkali Ibu tidak bisa salah.

Sesuatu kadang perlu disampaikan secara berbeda. Yang indah, yang mulia, yang menyanjung-nyanjung sudah pernah dikatakan orang lain. Yang mau saya katakan adalah, bisa jadi waras atau gilanya seorang anak ketika dewasa nanti sebagian besar ditentukan oleh Ibunya. Potensi menjadi aktualnya bibit-bibit Skizofreni pada seseorang (kalau Skizofreni terlalu keren, barangkali ‘kekacauan berpikir’ lah, atau labilnya mood / suasana hati), sejauh itu memang bisa timbul karena interaksi sosial menempatkan seorang Ibu pada rangking pertama sebagai pihak yang bertanggungjawab (sekali lagi ini tidak dengan menafikan peran Bapaknya). Saya harus mengatakan begini karena dengan mengesampingkan takdir tadi, di atas kertas anak-anak dengan kooptasi Sang Ibu itu berada dalam situasi sempurna bagi kekacauannya kelak atau bagi kewarasan / “kegilaannya” nanti.

marahBayangkan, seorang Ibu yang marah dan tidak bisa mengontrol dirinya pada saat marah. Anak-anak takut. Mungkin mereka merasa salah. Tapi bisa pula menyisakan rasa melawan karena rasionalisasi dalam dirinya mengatakan bahwa ‘saya juga bisa benar’. Suasana tegang itu akhirnya surut, lalu karena kooptasi itu, anak-anak dekat lagi dengan Ibunya. Bukankah ini suasana yang double-bind ? Di satu sisi, secara primordial anak-anak memang sudah dekat dengan Ibunya, tapi di sisi lain sang Ibu juga bisa menjadi sumber rasa tidak nyaman yang membuat anak mungkin ingin menjauhinya. Di satu sisi, Sang Anak ingin dicintai dan mencintai Ibunya, tapi di sisi lain ia tidak bisa mengkompromikan rasa bahwa ‘saya yang benar’ dan ‘Ibu yang salah’. Bayangkan pula bahwa hal semacam ini dengan berbagai variasinya terus terjadi pada sejarah masa balita seorang manusia, hingga dewasa. Bila takdir baik tidak berpihak pada sang anak, lalu bila si anak itu cerdas, sensitif, dan kritis, … maka level manik-depresif yang kecil saja dari Sang Ibu itu sudah seperti akan menutup celah-celah tertentu dari masa depan anaknya. Ingat, ini harus kita bayangkan sebagai sesuatu yang tidak terjadi sekali, tapi mungkin saja berkali-kali dan dalam kurun waktu yang lama. Dan adakah seorang Ibu yang tidak pernah marah pada anaknya ? (Oh, betapa sulitnya menjadi seorang Ibu!)

Maafkan saya sudah menulis ‘goblok’ sebelumnya. Tapi kegoblokan itu bisa membuat skenario terburuk jadi kenyataan karena terlalu banyak orang yang positivistik, alias hanya mengandalkan pada panca indra untuk menilai sesuatu. Padahal, sesuatu yang tidak tercerap panca indra (tidak terlihat, tidak terdengar, dan sebagainya) bukan berarti sesuatu tidak ada, atau tidak bersifat menentukan. Ada yang bilang, setiap orang itu adalah psikolog yang naif, tapi mestinya kita tidak sekedar naif dan sudah saatnya semua orang tua belajar memahami Psikologi. Termasuk, membuang jauh-jauh kebodohan bahwa ini adalah ilmu yang sekedar menangani orang gila … atau tidak mau pergi ke psikolog karena ‘saya tidak gila’.

Saya ingat betul dosen Filsafat Moral saya sewaktu mahasiswa bilang bahwa ada kasus meninggalnya orang tua justru membebaskan anak dari tekanan kejiwaannya. Ekstrem, tapi apa yang tidak mungkin dalam hidup ini ? Kalau anak-anak bisa tercukupi secara materil, bagaimana kita bisa memastikan bahwa keberadaan kita sebagai orang tua itu suportif bagi perkembangannya ? Karena orang tua bisa double-bind pada eksistensinya sendiri tanpa disadari: di satu sisi menginginkan anak-anaknya sukses, tapi di sisi lain mungkin ia adalah “monster” bagi mereka.

Memang sulit, tapi sekurangnya kalau dalam hati saja, mungkinkah kita lebih baik mengaku berdosa daripada berjasa pada anak-anak kita ?

Bagikan pada media sosial :