<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>P  E  R  S  P  E  K  T  I  F   -   T</title>
	<atom:link href="http://tomita.web.id/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tomita.web.id</link>
	<description>Tentang Yang Terlihat, Terdengar, &#38; Terpikirkan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 03:36:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Panduan Membeli Modem Wireless (USB)</title>
		<link>http://tomita.web.id/?p=1117</link>
		<comments>http://tomita.web.id/?p=1117#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 03:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komputer/Internet]]></category>
		<category><![CDATA[CDMA]]></category>
		<category><![CDATA[GSM]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[modem]]></category>
		<category><![CDATA[nirkabel]]></category>
		<category><![CDATA[wireless]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomita.web.id/?p=1117</guid>
		<description><![CDATA[Selalu harus ada korban dulu sebelum yang seperti ini ditulis, dan korban itu adalah: Saya. Saya bilang korban, karena saya sudah mengalami beberapa kali kecewa dan rugi soal ini. Oleh karena itu pengalaman ini saya tulis dengan harapan semoga tidak ada orang lain yang mungkin akan mengalami hal buruk yang pernah saya alami. Saya tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/sony.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="sony" border="0" alt="sony" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/sony_thumb.jpg" width="193" height="136" /></a> S</b>elalu harus ada korban dulu sebelum yang seperti ini ditulis, dan korban itu adalah: Saya. Saya bilang korban, karena saya sudah mengalami beberapa kali kecewa dan rugi soal ini. Oleh karena itu pengalaman ini saya tulis dengan harapan semoga tidak ada orang lain yang mungkin akan mengalami hal buruk yang pernah saya alami. Saya tidak mengasumsikan sudah mencoba semua, tapi saya pikir apa yang saya alami barangkali sudah cukup untuk dibagikan ke publik di Internet.</p>
<p align="justify"><b>T</b>ren untuk memiliki modem <i>wireless</i> meningkat pesat sejalan dengan merebaknya tawaran layanan Internet dari <em>provider</em> selular. Sebenarnya bukan hanya karena adanya tawaran, tapi secara nyata kebutuhan untuk akses Internet memang semakin dirasakan banyak orang. Kalau komputer / laptop / nettop sudah dimiliki, maka jelas, hal berikutnya yang harus dipikirkan adalah modem untuk koneksi Internet. Era model <i>dial-up</i> menggunakan telpon rumah barangkali sudah berakhir, karena tidak saja ribet dengan kabel, lambat, tidak portabel, dan mahal. Dengan tawaran koneksi Internet dari beberapa provider selular (dan ada juga yang non-selular), meningkatnya kualitas koneksi yang ditawarkan, serta ketersediaan modem <i>wireless</i> yang semakin turun harganya, maka membeli modem <i>wireless</i> adalah sebuah sebuah pilihan yang masuk akal. Tapi sayangnya, bagi beberapa orang, barangkali membeli modem ini bukan urusan yang mudah.</p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/bts.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="bts" border="0" alt="bts" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/bts_thumb.jpg" width="118" height="174" /></a> S</b>ebelum saya mungkin akan mengesankan rumit dan sulit, saya akan tuliskan yang praktis dan mudahnya saja dulu. Kalau merasa awam, bawa saja laptop ke tempat beli modem. Anda bilang mau beli, lalu minta di <em>setup</em>-kan, dan lihat sendiri bagaimana cara menggunakannya. Beres. Barangkali ada masalah soal memilih layanan apa yang sebaiknya digunakan. Gampang saja, pilih saja layanan yang di tempat anda nanti akan menggunakannya, memiliki sinyal kuat. Bisa dengan menanyakan di mana lokasi BTS terdekat dari layanan yang digunakan dengan rumah anda. Kalau sudah jalan bagus, ya sudah. Jangan dioprek yang tidak-tidak, apalagi “membetulkan” sesuatu yang tidak rusak.</p>
<p align="justify"><b>T</b>api kalau anda mau teliti membeli dan barangkali mau sedikit antisipatif dengan kemungkinan buruk yang bisa terjadi, maka ini beberapa hal yang bisa saya sarankan :</p>
<p align="justify"><b>1. </b><b>CDMA atau GSM</b></p>
<p align="justify"><b>S</b>ecara umum, bagi saya dua ini dulu yang harus dipilih. Keputusan untuk memilih salah satunya akan menentukan jenis modem yang akan dibeli, meskipun saya pernah melihat ada satu modem yang bisa menangani dua-duanya sekaligus. Koneksi via CDMA itu rentan terhadap cuaca dan penetrasinya terhadap penghalang sinyal (tembok, misalnya) lebih buruk. Maksud saya, tentu saja koneksi via CDMA baru bagus kalau cuaca terang dan lokasi penggunaannya relatif berada di tempat yang terbuka. Hujan akan membuat koneksi via CDMA akan menurun drastis, misalnya dari EVDO turun jadi CDMA 1 atau sinyalnya hilang sama sekali, atau bila menggunakannya di dalam rumah yang terhalang banyak tembok, koneksi akan buruk.</p>
<p align="justify"><b>T</b>entang modem GSM, siap-siaplah untuk menggunakan layanan yang biayanya lebih mahal, meski kualitas koneksi belum tentu lebih bagus juga dari CDMA. Tapi penetrasi sinyalnya menurut pengalaman saya, lebih baik dari CDMA, dan tidak begitu peka pada cuaca. Untuk yang akan menggunakan Internet secara mobile dengan laptop, saya kira modem GSM lebih layak untuk dipilih, ya karena alasan kekuatan penetrasi sinyalnya itu.</p>
<p align="justify"><b>2. </b><b>Penentuan <i>Provider</i> </b></p>
<p align="justify"><b>M</b>emilih <i>provider</i> yang akan digunakan sama sekali tidak mudah. Apa yang saya tulis ini barangkali akan tidak berlaku bagi orang lain. Yang akan saya tulis ini berdasarkan pengalaman saya saja. Kalau dilihat dari tarifnya, sekali lagi, koneksi Internet via CDMA secara umum lebih murah dibanding GSM. Yang paling murah sekarang ini adalah dari Flexi, tapi sejak masa promonya berakhir, banyak orang mengeluh pada kualitasnya. Lalu Smart. Sama juga. Di awal ketika masih banyak orang belum menggunakannya, kecepatannya sangat bagus, belakangan menurun, tapi pengalaman menunjukkan ternyata ini bisa bervariasi tergantung lokasi. Ada lokasi yang hanya mendapat CDMA 1,ada yang EVDO, ada yang EVDO 2. Yang terbaru adalah Aha dari Esia. Yang terakhir ini saya belum coba. Harga modem dan tarifnya lebih murah dari Smart. Sekarang ini masih dalam masa awal dan promosi, kecepatan masih bagus. Entah nanti. </p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/provider.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="provider" border="0" alt="provider" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/provider_thumb.jpg" width="207" height="279" /></a> K</b>alau GSM, pengalaman saya juga bervariasi. Kita mungkin mendapat citra bahwa Telkomsel itu bagus, pada kenyataannya Telkomsel Flash yang pra bayar kini mati tidak jelas. Setelah membeli kartu perdananya, saya hanya bisa menikmati seminggu, dan sesudahnya tidak bisa digunakan lagi. Tapi ketika dulu jalan, koneksinya amat sangat bagus. Sinyalnya kuat di mana-mana, barangkali nyaris sama dengan sinyal selular Telkomsel yang nyaris selalu penuh itu. Lalu XL. Sinyal cukup kuat, tapi kecepatan <i>download</i> tidak sekuat Flash, padahal BTS XL hanya beberapa ratus meter dari rumah saya, BTS Telkomsel lebih jauh. Kemudian IM2, yang berturut-turut mengeluarkan paket-paket populer seperti Broom, Broom Extra, Broombastic, &#8230; dan terakhir Paket Merdeka. Buat saya, IM2 punya koneksi yang stabil, tapi mahal. Paket terbaru, Paket Merdeka, memang murah kartu perdananya, tapi kuotanya kecil (150 Mega saja). Semakin besar kuota, semakin besar juga bayaran bulanannya. Memang dikatakan <i>unlimited</i>, tapi kalau sudah lewat kuotanya, kecepatan akan <i>drop</i>, dan <i>drop</i>-nya itu bisa sangat signifikan. Terakhir yang saya coba adalah 3. Barangkali di antara jajaran layanan Internet via GSM, ini yang paling murah, tapi ya koneksinya juga tidak begitu bagus. Sinyal 3 lemah sekali. Ketika saya tulis ini malah koneksi ada, tapi tidak bisa <i>browsing</i> sama sekali. </p>
<p align="justify"><b>S</b>aya sengaja tidak mencantumkan harga di sini, karena itu fluktuatif. Lebih baik langsung saja lihat ke situs resmi mereka.</p>
<p align="justify"><b>P</b>enentuan <i>provider</i> yang akan digunakan barangkali bisa pertama-tama menggunakan patokan: apakah sinyal provider <u>di tempat anda menggunakan Internet</u> itu bagus ? Bisa tanya-tanya ke orang lain, bisa anda beli dulu <i>sim card</i> selular yang pada umumnya murah itu, &#8230; coba pada hp. Lihat apakah sinyalnya kuat atau tidak. </p>
<p align="justify"><b>3. </b><b><i>Locked</i> atau <i>Unlocked</i></b></p>
<p align="justify">Kalau anda menemukan modem yang dijual murah bersama dengan kartu perdana Internet, anda harus langsung curiga. Itu modem <i>locked</i> atau <i>unlocked</i> ? Maksudnya apakah modem itu sudah dikunci untuk hanya bisa digunakan dengan <i>provider</i> tertentu atau tidak ? Kalau suatu ketika anda memutuskan untuk ganti <i>provider</i>, maka kartu baru tidak akan bisa digunakan pada modem yang <i>locked</i>. Pada umumnya harga modem yang <i>locked</i> memang lebih murah, tapi tentu saja tidak fleksibel. Kalau anda memutuskan akan menjadi pengguna setia sebuah layanan Internet, silahkan saja beli modem yang begini.</p>
<p align="justify"><b>4. </b><b>Kecepatan Maksimal Modem</b></p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/speed.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="speed" border="0" alt="speed" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/speed_thumb.jpg" width="236" height="189" /></a> I</b>ni jadi faktor yang menentukan harga. Pada saat saya menuliskan ini, saya <u>hampir</u> bisa bilang bahwa kalau harga modem di atas 500 ribu barangkali modem itu kecepatan maksimalnya adalah 7,2 Mbps. Kalau di bawah 500, itu 3,6 Mbps. Ini sangat relatif, karena kemarin saya malah melihat modem versi <i>black market</i> yang bisa 21 Mbps dan harganya hanya 400 ribuan. Soal harga saya tidak akan bahas, tapi poinnya di sini adalah modem punya kecepatan maksimal untuk koneksi Internet yang bisa ditangani. Tapi jangan langsung berharap bahwa kalau kita punya modem 7,2 Mbps maka kita akan langsung mendapatkan koneksi secapat itu. Bagi saya, 7,2 Mbps itu maksudnya adalah kapasitas <i>bandwidth</i> maksimal yang bisa ditangani modem (apa bahasa mudahnya untuk ini ?), sedangkan berapa kecepatan Internet-nya secara aktual itu soal lain.</p>
<p align="justify"><b>Y</b>ang jadi masalah adalah, kecepatan aktual koneksi Internet <i>wireless</i> di Indonesia tidak (belum) ada yang sama dengan kapasitas maksimal modem yang digunakan. Katakanlah kita punya modem yang kapasitas maksimalnya 21 Mbps. Apakah akan ada layanan Internet <i>wireless</i> yang sudah memberikan kecepatan setinggi itu? Jangankan 21 Mbps, kalau ada <i>provider</i> yang kecepatan <i>download</i> Internetnya bisa <i>full</i> 3,6 Mbps saja sudah merupakan surga bagi semua pengguna Internet di Indonesia.</p>
<p align="justify"><b>S</b>oal yang 21 Mbps, masih jadi barang baru di pasaran sekarang ini. Yang ramai adalah antara 3,6 dan 7,2. Hati-hati, ada modem yang sebenarnya 3,6 tapi diiklankan sebagai 7,2. Contohnya adalah Vodafone K3565. Tanya dulu sebelum beli, <i>browse</i> dulu sebelum menentukan pilihan. Tapi ya kembali lagi, kalau pun kita punya modem 3,6 Mbps, apakah nanti koneksi Internet yang kita dapatkan akal bisa <i>full</i> segitu ? Suatu saat nanti di Indonesia mungkin akan seperti itu, tapi sekarang bisa dipastikan tidak.</p>
<p align="justify"><b>5. </b><b><i>Driver / Software</i>: Internal atau Eksternal</b></p>
<p align="justify"><b>S</b>etiap modem harus terhubung ke komputer menggunakan <i>software</i> / <i>driver</i> tertentu. Variasinya sekarang ini ada dua: ada modem yang <i>driver</i> / <i>software</i>-nya diberikan dalam bentuk CD (contoh: Venus VT-18), lalu ada yang sudah <i>built-in</i> di dalam modemnya (contoh: ZTE AC 2726). Yang terakhir itu berarti, ketika kita colokkan modem untuk pertama kalinya ke komputer, si modem akan menawarkan untuk menginstal <i>driver</i> / <i>software</i> yang dibutuhkan. Tapi ternyata ada variasi ketiga, yaitu yang <i>driver</i> dan <i>software</i>-nya <i>built-in</i> di dalam modem, tapi ada juga alternatifnya di dalam CD. Yang ini saya alami di modem Sierra Wireless Compass 885.</p>
<p align="justify"><b>M</b>ana yang lebih bagus ? Barangkali bukan soal bagusnya, tapi kepraktisannya. Jelas lebih praktis yang sudah <i>built-in</i>. Kalau kita akan menggunakannya di komputer lain, kita tidak perlu membawa serta CD segala macam.</p>
<p align="justify"><b>6. </b><b><i>Slot</i> MicroSD</b></p>
<p align="justify"><b>B</b>eberapa modem menawarkan ini. Jadi, pada modem terdapat tempat di mana kita bisa meletakkan microSD. Dengan demikian, modem bisa jadi sekaligus seperti <i>flash disk</i>. Bagi saya, ini memang ada untungnya, tapi kegunaannya relatif. Saya sendiri jarang menggunakannya. Apakah ini benar-benar diperlukan ? Kalau ada dua modem yang sama kualitas koneksinya, tapi yang satu tidak punya slot microSD dan karenanya jadi lebih murah, maka saya pilih yang ini. Sekali lagi ini relatif, tergantung kebutuhan individual juga.</p>
<p align="justify"><b>7. </b><b><i>Jack</i> Antene</b></p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/antene.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="antene" border="0" alt="antene" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/antene_thumb.jpg" width="242" height="148" /></a> S</b>elain <i>slot</i> microSD, fitur lain yang kadang ada di modem <i>wireless</i> adalah keberadaan tempat colokan untuk antena eksternal. Saya sendiri baru sekali melihat ada orang menggunakan antena eksternal untuk modem <i>wireless</i>, tapi suatu ketika barangkali antena ini bakal banyak dijual, seperti di <a href="http://3gmedia.indonetwork.co.id/1326535/antenna-zte-ac-2726-yagi-2535-upto-35db.htm">sini</a>. Ya kalau modem yang kita beli punya fasilitas ini, tentu kedepannya kita bisa punya peluang untuk menggunakannya dengan antena eksternal untuk kualitas sinyal yang lebih baik.</p>
<p align="justify"><b></b></p>
<p align="justify"><b>8. </b><b>Dukungan OS</b></p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/xpvista7.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="xpvista7" border="0" alt="xpvista7" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/PanduanMembeliModemWireless_94FF/xpvista7_thumb.jpg" width="185" height="180" /></a> A</b>pakah sekarang ini kita bisa gunakan asumsi bahwa modem yang ada di pasaran bisa kompatibel dengan semua <i>operating system</i> (OS) ? Ya saya tidak akan bicara OS di bawah XP, tapi di seputar XP, Vista, dan 7. Vista dan 7 barangkali relatif bisa disejajarkan. Jadi keduanya langsung berhadapan dengan XP. </p>
<p align="justify"><b>B</b>agi saya, selalu ada risiko ketidakompatibelan. Kalaupun mungkin jalan, barangkali <i>driver</i> / <i>firmware</i> yang digunakan belum matang / masih mengandung <i>bugs</i>. Contohnya, dua modem Sierra Wireless Compass 885 yang saya miliki, sudah di-<i>update firmware</i> dan <i>driver</i>-nya, yang konon membuat jadi bisa di Windows 7. Pada kenyataannya, modem itu sering tidak terdetek di Windows 7, tapi jalan sempurna di Windows XP.</p>
<p align="justify"><b>P</b>oin saya di sini adalah, perhatikan dukungan modem pada sistem operasi yang anda gunakan. Sebagian besar asumsi OS nya adalah XP. Kalau anda gunakan Vista atau 7, hati-hati.</p>
<p align="justify"><b>9. </b><b>Panas Modem</b></p>
<p align="justify"><b>I</b>ni barangkali luput dari perhatian banyak orang, dan memang mungkin wajar, karena tidak semua penjual modem mau mendemokan barangnya langsung. Ini relatif tidak menjadi masalah kalau kita menggunakan modem dengan komputer <i>desktop</i>, meski mungkin usia modem bisa saja berkurang karena terus menerus kena panas. Tapi kalau anda pengguna laptop, dan ternyata modemnya mudah panas, maka itu buruk bagi baterai laptop anda. Kalau cepat panas, ya artinya modem itu sangat intensif menyedot energi listrik. Bisa dipastikan penggunaannya akan membuat baterai laptop cepat habis.</p>
<p align="justify"><b>K</b>alau mungkin, ketika kita membeli modem, kita lihat demonya beberapa saat dari si penjual. Lalu kita pegang modemnya, apakah panas ? Hangat saja atau panas sekali ? Sialnya, tidak selalu kita bisa punya kesempatan seperti ini.</p>
<p align="justify"><b>10. </b><b>Kelengkapan Paket Penjualan</b></p>
<p align="justify"><b>A</b>rus barang <i>black market</i> (bm) tidak pernah surut dalam dunia komputer. Itu karena barang-barang bm murah akibat tidak kena pajak. Banyak modem yang diimpor atau distok oleh toko dalam bentuk batangan, lalu dibungkus sendiri oleh tokonya. Biasanya barang yang begini murah, meski belum tentu murahan. Kalau anda membeli modem yang seperti ini, pastikan kelengkapannya. Terutama ya soal <i>driver / software</i>. Jangan langsung percaya bahwa <i>driver</i> / <i>software</i>-nya sudah <i>built-in</i>. Coba dulu, baru beli.</p>
<p align="justify"><b>T</b>erakhir saya lihat Compass 885 itu dibungkus asal-asalan, tidak ada cd-nya pula. Demikian pula dengan beberapa dari Haier dan Huawei.</p>
<p align="justify"><b>11. </b><b>Garansi</b></p>
<p align="justify">Terkait paket penjualan itu, adalah garansi. Berdasarkan pengalaman pada barang-barang komputer lain, saya bisa menyimpulkan bahwa bila suatu barang punya masa garansi lama, maka barang itu adalah barang yang bagus, barang yang benar-benar siap dipertanggungjawabkan oleh si penjualnya. Tapi kalau singkat, &#8230; 1 bulan misalnya, kita harus hati-hati dengan barang itu. Tapi mau pilih mana ? Barang murah dengan garansi singkat, atau lebih mahal tapi garansi lama ? Ini problematik kalau kita punya duit pas-pasan. Ya beli saja yang murah, segera coba / gunakan, manfaatkan tenggang waktu <i>support</i> yang diberikan toko, kalau perlu <i>online</i> 24 jam terus-menerus, kalau memang bagus &#8230; hati-hati menggunakannya, dan awas &#8230; jangan mencoba “memperbaiki” sesuatu yang tidak rusak!</p>
<p align="justify"><b>12. </b><b><i>Support</i> dari Produsen</b></p>
<p align="justify"><i>Last but not least</i> adalah <i>support</i> dari produsen modem. Secara riil maksud saya di sini adalah dukungan via <i>website</i> / internet dari pabrik pembuat modem. Kalau barangnya bagus, dari pabrik ternama, biasanya <i>support</i> itu ada dalam bentuk <i>update driver / software</i>. Kalau ini ada dan berkelanjutan, maka masalah ketidakompatibelan pada OS yang berbeda bisa kemungkinan diatasi. Cacat pada <i>driver</i> barangkali akan ada perbaikannya. Kebanyakan modem buatan Cina tidak punya <i>support</i> begini. <i>Website</i>-nya ada, tapi <i>update driver / software</i>-nya jarang, atau tidak ada sama sekali. Pengalaman saya dengan ini, pada Sierra Wireless Compass 885 misalnya, <i>update</i> yang didapat dari situs pabriknya bisa membuat modem itu jadi punya fitur GPS.</p>
<p align="justify"><b>D</b>uabelas hal itu sekurangnya bisa membantu ketika memilih dan memutuskan. Semuanya dari pengalaman pribadi saya di Bandung. Kenapa saya mesti tambahkan “di Bandung” ? Karena di kota lain, bisa jadi kondisinya berbeda, terutama dalam kaitannya dengan kualitas sinyal dan koneksi Internetnya. Semoga bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomita.web.id/?feed=rss2&amp;p=1117</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman dengan Modem Sierra Wireless Compass 885</title>
		<link>http://tomita.web.id/?p=1114</link>
		<comments>http://tomita.web.id/?p=1114#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 07:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komputer/Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Compass 885]]></category>
		<category><![CDATA[modem]]></category>
		<category><![CDATA[Sierra Wireless]]></category>
		<category><![CDATA[Telkomsel Flash]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomita.web.id/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya saya pernah menulis tentang modem ini ketika pertama kali menggunakannya dengan kartu IM2, tapi karena saya mendapatkan kartu versi yang time-based dan mahal, maka saya memutuskan untuk berhenti menggunakannya. Untuk beberapa saat modem ini saya simpan. Sementara saya menggunakan Flexi lalu disusul Smart. Ketika Smart mulai melambat, saya terpikir untuk balik lagi ke modem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/PengalamandenganModemSierraWirelessCompa_C78E/1279774_885u.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="1279774_885u" border="0" alt="1279774_885u" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/PengalamandenganModemSierraWirelessCompa_C78E/1279774_885u_thumb.jpg" width="171" height="173" /></a></strong><strong>S</strong>ebelumnya saya pernah menulis tentang modem <a href="http://tomita.web.id/?p=1082">ini</a> ketika pertama kali menggunakannya dengan kartu IM2, tapi karena saya mendapatkan kartu versi yang <em>time-based</em> dan mahal, maka saya memutuskan untuk berhenti menggunakannya. Untuk beberapa saat modem ini saya simpan. Sementara saya menggunakan Flexi lalu disusul Smart. Ketika Smart mulai melambat, saya terpikir untuk balik lagi ke modem GSM ini. Kali ini saya menggunakan Telkomsel Flash. Barangkali untuk sementara soal Telkomsel Flash tidak perlu diuraikan di sini. Saya akan memfokuskan diri pada modemnya saja. </p>
<p align="justify"><strong>K</strong>etika menggunakan IM2, saya tidak punya masalah dengan koneksi modem ke komputer maupun koneksi ke Internet. Ketika itu saya masih menggunakan Windows XP. Tapi ketika saya ganti kartunya dengan Flash dan OS-nya adalah Windows 7, masalah muncul, dan penyelesaiannya memakan waktu yang cukup lama. Berbagai kemungkinan saya coba sampai akhirnya saya kenal betul dengan karakter barang satu ini. Saya merasa harus menuliskan ini karena yang saya alami ternyata tidak sama persis dengan beberapa orang yang sudah menulis tentang modem ini di Internet. Antara lain di :</p>
<ol>
<li>
<div align="justify"><a href="http://blog.hoeda.info/akhirnya-sierra-wireless-compass-885/">http://blog.hoeda.info/akhirnya-sierra-wireless-compass-885/</a></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><a href="http://www.laziem.com/info/update-firmware-dan-seting-modem-sierra-compass-885-di-windows-7/">http://www.laziem.com/info/update-firmware-dan-seting-modem-sierra-compass-885-di-windows-7/</a></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><a href="http://akirajunto.wordpress.com/2009/10/18/sierra-wireless-compass-885-usb-modem/">http://akirajunto.wordpress.com/2009/10/18/sierra-wireless-compass-885-usb-modem/</a></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><a href="http://www.situsinformasiinternet.com/2009/12/upgrade-firmware-dan-watcher-sierra-compass-885u.html">http://www.situsinformasiinternet.com/2009/12/upgrade-firmware-dan-watcher-sierra-compass-885u.html</a></div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>M</strong>asalah nyata yang saya hadapi adalah :</p>
<ol>
<li>
<div align="justify">Di Windows XP modem terinstal dengan mudah, koneksi pun lancar. Ketika itu saya menginstal AT&amp;T Communication Manager (ada di dalam modem) dan Sierra Wireless Watcher (ada pada CD bawaan). Tapi ketika saya ganti OS ke Windows 7, modem bahkan tidak terdetek sama sekali.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Saya kehilangan CD bawaan, sehingga saya tidak bisa memasang Sierra Wireless Watcher. Saya cari dan temukan di Internet, tapi versinya berbeda dengan yang pernah saya pasang.</div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>D</strong>ari sekurangnya empat blog / situs di atas, saya mendapat info bahwa agar modem ini bisa dideteksi oleh Windows 7, <em>firmware</em>-nya harus di-<em>update</em> dulu. Nah, urusan <em>update</em> <em>firmware</em> ini benar-benar menuntut kesabaran yang luar biasa. Saya ringkaskan begini :</p>
<ol>
<li>
<div align="justify">Untuk bisa <em>update firmware</em>, maka OS yang terpasang harus terlebih dahulu bisa mengenali modem. Oleh karena itu, saya meng-<em>update firmware </em>modem ini di Windows XP.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Di situs nomer 4 di atas dikatakan bahwa <em>the latest</em> <em>firmware</em> adalah C885_J1_0_1_26AP.exe Version 1.0.1.26 (10.01 MB), ternyata ada yang lebih baru lagi, yaitu yang bisa ditemukan di <a href="http://www.sierrawireless.com/en/sitecore/content/Sierra%20Wireless/Support/Downloads/AirCard/USB_Modems/~/media/Support_Downloads/AirCard/software/firmware/J1_0_1_31BT_J1_0_1_33AP.ashx">sini</a> : J1_0_1_31bt_J1_0_1_33ap.exe.</div>
</li>
<li>
<div align="justify"><em>Upgrade firmware</em> ternyata tidak bisa meloncat langsung ke versi terakhir, harus ke versi 1.0.1.26 dulu, baru ke J1_0_1_33ap. Terus terang awalnya saya tidak mau percaya ini, tapi saya mengalami kegagalan terus ketika <em>upgrade</em> langsung ke versi terakhir.</div>
</li>
<li>
<div align="justify"><em>Update firmware</em> ternyata makan waktu lama. Tidak 10 menit seperti yang dituliskan pada <em>pop-up windows</em>, atau cepat seperti dikatakan situs nomer 2 di atas. Pengalaman saya sungguh tidak mengenakkan soal ini. Saya sempat tidak percaya <em>update</em> sedang berjalan, sehingga saya mematikan komputer dan memulainya lagi. Bahkan sempat pula mencabutnya. Saya tahu persis bahwa mencabut <em>hardware</em> ketika proses <em>update firmware</em> sedang berjalan akan merusak <em>hardware</em>, … tapi untungnya itu tidak terjadi! Akhirnya saya biarkan proses itu berjalan dengan cara meninggalkannya dan menengoknya lagi keesokan paginya (saya tidak tahu persis berapa jam proses persisnya).</div>
</li>
<li>
<div align="justify"><em>Last but not least</em>, <em>update firmware </em>modem ini <u>tidak</u> memerlukan koneksi Internet, seperti yang dikesankan oleh situs nomer 2 di atas. Kalau kita sudah punya <em>file</em> untuk <em>update</em>-nya (kita unduh terlebih dahulu), selanjutnya proses <em>update</em> tidak memerlukan koneksi Internet.</div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>S</strong>etelah <em>update</em> <em>firmware</em>, saya langsung colokkan modem ke Windows 7. Ternyata masih tidak terdeteksi! Saya <em>search</em> lagi, dan akhirnya menemukan informasi di halaman <em><a href="http://sierrawireless.custhelp.com/app/answers/detail/a_id/519/session/L3NpZC9PbTQ5TEE3aw%3D%3D">support page</a></em>-nya Sierra Wireless, yang mengatakan bahwa bila modem tidak terdeteksi di Windows 7, itu karena modem berada dalam <em>software-installation mode</em>, bukan <em>modem-mode</em>. Kalau ini terjadi di Windows XP, kita bisa langsung ke Control Panel, dan mengesetnya menjadi <em>modem-mode</em> di TRU-Install. Tapi karena ini di lingkungan Windows 7, yang seperti itu tidak ada. Untungnya Sierra menyediakan solusi berupa sebuah file kecil untuk memodifikasi <a href="http://www.sierrawireless.com/resources/support/Tools/AC881U_C885_ModemMode.reg">registri</a> untuk keperluan ini. Setelah dijalankan, tentu komputer harus <em>restart</em>, dan ketika saya tancapkan lagi modem, ternyata masih tidak terdetek juga. Gila! Tapi bedanya kali ini adalah lampu oranye menyala dulu sebelum lampu biru. Entah apa artinya itu.</p>
<p align="justify"><strong>A</strong>khirnya tanpa sengaja saya temukan bahwa yang membuat modem bisa dikenali adalah dengan meng-<em>uninstal </em>dulu semua <em>software</em> yang ada kaitannya dengan modem ini. Lalu saya klik secara manual <em>file</em> DrvInst yang ada di <em>folder</em> /Win/TRU-Instal/Drivers/ Yang terjadi adalah lampu modem di yang ada panah bolak balik itu berkedip-kedip. Saya pikir ini berarti sudah terdetek, tapi ternyata belum. Saya <em>restart</em> komputer dalam keadaan modem masih tertancap, dan ketika masuk ke Windows, Windows 7 ternyata sekarang bisa menginstal <em>driver</em> untuk modem ini. <em>Pfuih</em>!</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>aya barangkali melakukan langkah-langkah yang sama sekali untung-untungan. Yang terpikir oleh saya : “Jangan-jangan untuk Window 7, <em>firmware</em> tidak perlu di <em>update</em>, atau kalau di <em>update </em>pun tidak perlu sampai ke versi terakhir (sekedar supaya bisa jalan, meskipun para <em>computer freak</em> pasti selalu ingin ke versi terakhir).” OK, setelah terdetek, barangkali karena sebelumnya saya sudah cabut pasang AT&amp;T Communication Manager dan Sierra Wireless Watcher, pada <em>device manager</em> sudah langsung terpasang <em>driver</em>-nya. Tapi pada halaman <a href="http://sierrawireless.custhelp.com/app/answers/detail/a_id/680/session/L3NpZC9PbTQ5TEE3aw%3D%3D">ini</a>, dikatakan bahwa tidak terdeteksinya modem ini adalah karena software AT&amp;T Communication Managernya harus versi 7.0.208 ke atas, <a href="http://tomita.web.id/pixes/PengalamandenganModemSierraWirelessCompa_C78E/attbaru.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="Software AT&amp;T Communication Manager versi 7.0.208" border="0" alt="Software AT&amp;T Communication Manager versi 7.0.208" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/PengalamandenganModemSierraWirelessCompa_C78E/attbaru_thumb.jpg" width="327" height="210" /></a> yang bisa diperoleh di <a href="http://www.wireless.att.com/businesscenter/en_US/download/ACM-7-2-032-Install.exe?wtLinkName=AT&amp;TCommunicationManagerSoftware6.9&amp;wtLinkLoc=BDY&amp;wtDnLdFileName=ACM-7-2-032-Install.exe">sini</a>. Lagi-lagi terpikir oleh saya, dari tadi sudah ini itu segala macam, jangan-jangan masalah sebenarnya hanya pada <em>software</em> AT&amp;T ini ? Apakah pada <em>firmware</em> atau pada <em>software</em> itu, atau pada kedua-duanya ? Tapi siapa yang peduli kalau saya sudah sampai pada tahap ini? Saya tidak mungkin balik lagi untuk memeriksa bagaimana duduk perkara yang sebenarnya. Yang penting modem sudah bisa OK.</p>
<p align="justify"><strong>A</strong>khirnya setelah modem terdetek, dan <em>software</em> AT&amp;T yang versi 7.0.208 saya pasang, modem ini bisa berfungsi dengan sempurna. Lalu yang saya temukan kemudian adalah :</p>
<ol>
<li>
<div align="justify"><em>Hardware detection</em> modem ini cukup lama. Setelah semua proses di atas saya jalani, saya masih harus sabar untuk akhirnya bisa melihat bahwa modem dan komputer bisa kerja sama. Ketika modem ditancapkan dan <em>software</em> AT&amp;T dijalankan, tunggu dengan sabar sampai akhirnya keluar <em>pop-up windows, </em>seperti ini :         <br /><a href="http://tomita.web.id/pixes/PengalamandenganModemSierraWirelessCompa_C78E/detek.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 10px 10px 5px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="detek" border="0" alt="detek" src="http://tomita.web.id/pixes/PengalamandenganModemSierraWirelessCompa_C78E/detek_thumb.jpg" width="368" height="196" /></a>&#160;</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Kalau komputer dalam keadaan hidup (Windows 7) dan modem ditancapkan, modem akan sulit terdetek. Tapi modem selalu bisa terdetek ketika dari sejak komputer mati, modem sudah ditancapkan, lalu komputer dinyalakan.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Untuk bisa terhubung ke Internet, tidak diperlukan <em>software</em> Sierra Wireless Watcher. Cukup dengan AT&amp;T Communication Manager saja. Saya sempat heran, kenapa paket pembeliannya mesti menyertakan sebuah CD kecil yang isinya Sierra Wireless Watcher itu ? Buktinya saya bisa konek ke Internet tanpa si Watcher ? Bahkan hampir semua situs di atas menyarankan mesti memasang si Sierra Wireless Watcher. Kenapa mesti dipasang kalau tanpa itu pun koneksi Internet sudah bisa jalan ?</div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>S</strong>emoga pengalaman yang saya tuliskan ini bisa melengkapi tulisan-tulisan yang sudah ada di Internet tentang modem ini. Para pengguna baru barangkali bisa melakukan langkah-langkah yang lebih efisien dan tidak untung-untungan seperti saya.</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>aya sempat kesal juga pada tidak <em>friendly</em>-nya modem ini, tapi akhirnya setelah mengalami <em>trial and error </em>dan segala kesulitan di atas, saya dapatkan bahwa modem ini kinerjanya cukup bagus. Dengan Telkomsel Flash cukup memuaskan (meski ini entah modemnya, entah layanan <em>provider</em>-nya), dan digunakan berjam-jam tidak menimbulkan panas yang berarti seperti pada modem-modem lain yang pernah saya gunakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomita.web.id/?feed=rss2&amp;p=1114</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seperti Itukah Pemasaran Internet? Sekali Lagi Tentang Anne Ahira</title>
		<link>http://tomita.web.id/?p=1108</link>
		<comments>http://tomita.web.id/?p=1108#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 06:18:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komputer/Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Anne Ahira]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomita.web.id/?p=1108</guid>
		<description><![CDATA[Ada saatnya ketika atmosfir Internet Indonesia cukup ramai membicarakan fenomena Anne Ahira. Sebagian ada yang mendukung atau bersuara positif pada dia maupun usahanya, tapi ada sejumlah pihak (yang cukup banyak) yang kalau tidak skeptis, sikap mereka adalah menolak sama sekali, bahkan mengatakan bahwa Anne Ahira adalah bagian dari masalah Internet. Saya sendiri, dengan melihat uraian-uraian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/SepertiItukahPemasaranInternetSekaliLagi_B31F/aa.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="aa" border="0" alt="aa" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/SepertiItukahPemasaranInternetSekaliLagi_B31F/aa_thumb.jpg" width="252" height="190" /></a> A</strong>da saatnya ketika atmosfir Internet Indonesia cukup ramai membicarakan fenomena Anne Ahira. Sebagian ada yang mendukung atau bersuara positif pada dia maupun usahanya, tapi ada sejumlah pihak (yang cukup banyak) yang kalau tidak skeptis, sikap mereka adalah menolak sama sekali, bahkan mengatakan bahwa Anne Ahira adalah bagian dari masalah Internet. Saya sendiri, dengan melihat uraian-uraian dari para penolak itu, langsung bersikap menolak juga. Tapi kemudian saya berpikir, apakah <em>fair</em> untuk langsung mengambil sikap demikian manakala saya sendiri belum mendengar langsung dari orangnya. Ada jeda waktu yang cukup lama antara pikiran saya itu, hingga akhirnya saya bisa mendengarkan langsung Anne Ahira berbicara tentang bisnisnya di Internet. Persisnya adalah kemarin, Jum’at 09 Agustus 2010, di kampus / kantor tempat saya bekerja.</p>
<p align="justify"><strong>D</strong>i awal penjelasannya, dia bercerita tentang proses hingga dia sampai seperti sekarang ini. Dulu sebagai mahasiswa, ia sudah bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris dan berjualan buku dengan segala suka dukanya. Meskipun mungkin menarik untuk didengarkan, tapi saya sudah tidak sabar untuk mendengarkan langsung ke inti masalahnya: apa sebenarnya yang dia lakukan di Internet sehingga bisa berpenghasilan milyaran ? Judul acara ini menggunakan frase “<em>Internet Marketing</em>” dan dia memang terkenal memposisikan dirinya dalam kaitannya dengan itu. Saya langsung berpikir, apakah dia menjual sesuatu ? Mempromosikan sesuatu ? Atau dia membuat sebuah usaha MLM seperti yang pernah (dan masih) banyak dituduhkan kepadanya ?</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/SepertiItukahPemasaranInternetSekaliLagi_B31F/internet_marketing_plan.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 10px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="internet_marketing_plan" border="0" alt="internet_marketing_plan" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/SepertiItukahPemasaranInternetSekaliLagi_B31F/internet_marketing_plan_thumb.jpg" width="282" height="148" /></a> O</strong>K, <em>Internet Marketing </em>(Pemasaran Internet). Kalau boleh saya simpulkan dari penjelasannya, maka <em>Internet Marketing</em> itu adalah usaha untuk memasarkan barang / jasa dengan memanfaatkan semaksimal mungkin kontak dan akses ke begitu banyak orang yang menggunakan Internet, dengan sebuah harapan tersembunyi bahwa kalau semua kontak dan akses itu tertarik dan membeli sebuah barang / jasa yang ditawarkan, ya syukur, tapi kalau tidak, barangkali ada satu atau beberapa, tapi kalau tidak ada sama sekali ya kurang beruntung saja. Barang / jasa yang ditawarkan itu bisa barang milik kita sendiri, bisa pula sekedar membantu memasarkan barang yang secara langsung sebenarnya di jual oleh pihak lain. Bila membantu memasarkan, maka yang diperoleh adalah komisi dari si penjual asal.</p>
<p align="justify"><strong>K</strong>ontak dan akses itu ternyata diperoleh dengan usaha yang sangat sistematis, meski bagi saya sifatnya oportunistik (dengan segala konotasinya). Setiap waktu dia berusaha menambah dan membina kontaknya itu dengan teknik personalisasi, sedemikian rupa sehingga seolah ia berbicara langsung dengan semua kontaknya itu. Sebagai contoh, dia akan mengirim email yang di awalnya akan menyapa si penerima dengan namanya langsung, dengan konten-konten apapun yang intinya adalah mengesankan bahwa Anne Ahira secara pribadi punya perhatian dan peduli pada si penerima email. Sudah terbayang di sini, dia punya <em>database</em>, lalu dia punya perangkat lunak yang memungkinkan ia mengirimkan email massal dengan konten yang dipersonalisasi. Dari uraiannya, Anne Ahira hanya mengirimkan ini ke mereka yang katanya secara sukarela mau dikontak oleh dia.</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/SepertiItukahPemasaranInternetSekaliLagi_B31F/aa3.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="aa3" border="0" alt="aa3" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/SepertiItukahPemasaranInternetSekaliLagi_B31F/aa3_thumb.jpg" width="187" height="244" /></a> B</strong>arangkali Anne Ahira mengembangkan cara bermacam-macam untuk mengakumulasikan kontak itu. Tapi dia berbicara jelas tentang hal ini sekurangnya menyangkut satu hal, yaitu apa yang disebutnya sebagai momentum. Sebagai contoh, kemarin ada peristiwa Piala Dunia Sepakbola. Bisa diperkirakan semua orang diseluruh dunia pikirannya tertuju pada peristiwa itu. Piala Dunia Sepakbola adalah sebuah momentum, dan bisa diperkirakan pula para pengguna Internet akan menggunakan <em>search engine</em> untuk mencari apapun yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Maka untuk memanfaatkan momentum itu, yang harus dilakukan adalah membeli sebuah domain yang ada kaitannya atau diperkirakan akan dicari banyak orang. Misalnya, si paul gurita peramal hasil pertandingan itu. Domain yang dibeli bisa paultheoctopus.com, paulthepredictor, paultheworldcup, dan sebagainya. Sesudah beli, tentu saja harus dibuat situsnya yang isinya berkaitan dengan itu (yang jelas isinya adalah mencomot apa saja yang bisa ditemukan di berbagai tempat di Internet – mana mungkin akan membuat liputan langsung yang orisinil tentang si Paul ?). Setelah situsnya jadi, lalu situs itu dioptimalisasikan agar ramah pada <em>search engine</em> (SEO – <em>search engine optimization</em>) alias dibuat sedemikian rupa sehingga kalau ada orang mencari dengan kata-kata kunci tertentu, maka domain itu tadi akan duduk pada peringkat pertama (atau mungkin 10 besar) di hasil pencarian Google (atau <em>search engine</em> populer lainnya).</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>itus itu diperlengkapi dengan macam-macam trik yang siap menyapa, mendata, atau mungkin mengarahkan / mengalihkan perhatian para pengunjungnya. Ketika seseorang datang ke situs itu, maka di sisi kanannya boleh jadi ada iklan, yang mengarahkan pengunjung untuk mengklik-nya, bisa langsung ke situsnya Anne Ahira, bisa ke situs di mana dia membantu menjualkan barang orang lain, atau apapun. Kalau tidak <em>side advertising</em> semacam itu, alternatifnya adalah <em>pop-up windows</em>. Isinya berupa pertanyaan, maukah anda bergabung, tuliskan alamat email anda, dan sebagainya, dan sebagainya. Semua ini baru contoh dari satu momentum, dan nampaknya Anne Ahira sudah melakukannya untuk berbagai hal yang menurut dia adalah momentum itu. Termasuk yang dia bayangkan soal kehebohan Ariel dan Luna Maya.</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>ampai di sini ada beberapa analisis :</p>
<p align="justify">1. Secara naluriah, orang yang menawarkan barang tentu akan mengkomunikasikan barang yang ditawarkan segera pada orangnya. Cara ini praktis dan langsung. Tampak dengan jelas, bahwa Anne Ahira mencoba untuk melakukannya secara tidak langsung dan memberikan ruang kebebasan pada <em>netter</em> untuk mengklik atau tidak mengklik, untuk ikut atau tidak ikut, untuk menerima atau tidak menerima notifikasi / <em>newsletter</em> dari Anne Ahira. Pertanyaannya adalah, kapan dia mulai melakukan kiprahnya persis seperti itu ? Saya berpikir, proses dia hingga akhirnya menemukan semua cara itu memakan waktu yang cukup lama dan banyak di sepanjang proses itu dia menjadi “dewasa” entah berkat temuan-temuannya sendiri atau berkat kritik dari sana sini. Maksud saya, apakah cukup sulit untuk membayangkan dia pun dulu harus melalui masa ketika ia memberikan penawaran langsung ? Apakah itulah saatnya ketika dulu ia dituding sebagai <em>spammer</em> ? Untuk ini dia punya <em>escape</em> yang mungkin sempurna. Katanya, di Internet ini banyak yang menyaru sebagai dia. Bahkan di Facebook ada beberapa akun palsunya. BTW: siapa yang mau bersusah payah untuk men-<em>trace</em> IP dari semua <em>spam</em> yang (dulu?) pernah dilaporkan berasal dari Anne Ahira ?</p>
<p align="justify">2. Selain mendapat tudingan <em>spammer</em>, dia juga mendapat tudingan URL <em>Spuffer</em>. Berbagai macam domain sudah dibeli dan mungkin sudah diasosiasikan dengan dia atau bisnisnya. Ketika saya tanyakan semua ini dalam kaitannya dengan etis atau tidaknya karena apa yang dia lakukan itu akan mendistorsi hasil pencarian di <em>search engine</em>, Anne Ahira menjawab bahwa etis atau tidaknya bergantung dari sudut mana kita melihatnya. Bahkan katanya, apa yang dilakukannya itu membantu <em>search engine</em>. Saya bisa mengerti kalau dikatakan membantu <em>search engine</em> kalau memang domain itu dibeli dan secara serius diisi dengan materi yang relevan dengan nama domainnya. Bagaimana kalau tidak ? Dengan asumsi bahwa Anne Ahira berkata jujur, maka ia harus membuat begitu banyak situs yang isinya harus sampai ke level orang tidak merasa tertipu ketika mendatanginya. Untuk ukuran dia yang sudah punya anggota pasukan cukup banyak, sistem, dan mungkin semacam <em>software</em> otomasi dalam hal pembuatan situs, konten, dan SEO, barangkali itu akan masuk akal. Tapi bagi seorang pemula, nampaknya akan mudah untuk menjadi <em>URL</em> <em>Spuffer</em> yang sebenarnya. Apalagi wacananya adalah, semakin banyak situs yang bisa menjaring pengikut akan semakin baik, dan momentum itu cepat berlalu atau menjadi basi, sehingga harus membeli domain lain lagi dan membuat situs lagi.(Dan pertanyaan yang sama bisa diajukan lagi di sini: “kapan Anne Ahira persisnya mulai melakukan ini setelah sebelumnya [mungkin] melakukan <em>spuffing</em>?”)</p>
<p align="justify">3. Apakah personalisasi pesan di Internet berarti si pengirim benar-benar menyapa langsung dan punya perhatian pribadi pada penerima pesan tersebut ? Kita berbicara soal mengkontak ribuan atau mungkin jutaan penerima pesan. Apakah mungkin kita membayangkan seseorang mungkin bisa mengenal secara pribadi begitu banyak orang ? Di sini saya berpikir Anne Ahira bergerak di wilayah abu-abu, di antara hitam dan putih. Kalau dikatakan benar-benar kenal secara pribadi ya jelas tidak (terbukti ada orang datang dan mengaku suka mengontaknya dan Anne Ahira sendiri bingung siapa dia), tapi toh ini Internet dan dari begitu banyak sekali orang tidak mungkin semuanya akan datang memverifikasi langsung perkenalan itu dengan pertemuan tatap muka. Jadi, penyapaan di pesan Internet sebatas personalisasi itu di klaim olehnya sebagai sebuah kepedulian / perhatian pribadi.</p>
<p align="justify">4. Soal bergerak di wilayah abu-abu itu juga saya tujukan pada hal lain. Intinya, kalau akan ada yang menuding sebagai merugikan, dia akan dengan mudah berkelit bahwa semua yang telah terjadi adalah karena kebebasan-klik yang telah dilakukan oleh seorang <em>netter</em>. Toh, dia sudah menawarkan barang seperti yang sudah dijelaskan. Kalau merasa rugi, kenapa mengklik, kenapa beli ? Ini sebenarnya berkenaan dengan sebuah contoh aneh yang dia kemukakan sendiri. Anne Ahira bilang, ia pernah menggambar sebuah tokoh kartun. Hasil gambarnya bahkan tidak bagus (katanya kumisnya tidak persis – saya lupa lagi tokoh kartun apa itu). Lalu dia menjual gambarnya itu di ebay dengan memberi embel-embel bahwa gambar itu adalah <em>vintage</em> (saya ingat persis dia mengatakan ini sambil tertawa), dan ternyata ada orang membelinya! Apakah sebenarnya Anne Ahira peduli bahwa sebenarnya gambar itu tidak <em>vintage</em> dan si pembeli barangkali merasa tertipu ?</p>
<p align="justify">5. Dalam kaitan ini pula Anne Ahira menceritakan soal <em>penis enlargement</em> sebagai sebuah momentum. Ya Tuhan, kita semua sebagai pengguna Internet pasti pernah mengalami menerima <em>email spam</em> tentang itu. Sementara dia secara tegas mengatakan punya 19 orang pegawai di Amerika, lalu apakah semua <em>spam</em> tentang topik itu mesti kita bayangkan harus mengandung nama dia ? <em>You be the judge</em>!</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/SepertiItukahPemasaranInternetSekaliLagi_B31F/aa2.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="aa2" border="0" alt="aa2" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/SepertiItukahPemasaranInternetSekaliLagi_B31F/aa2_thumb.jpg" width="258" height="171" /></a> D</strong>i zaman yang untuk banyak orang adalah masa yang sulit dalam hal ekonomi, apapun peluang untuk mendatangkan uang nampaknya akan dikejar. Ada tiga jalan, jalan yang hitam alias jalan yang benar-benar ilegal dan melanggar hukum, jalan yang putih alias jalan yang benar-benar halal, dan jalan yang abu-abu alias jalan yang tidak akan terlalu mudah bagi siapapun untuk menilainya sebagai hitam atau putih. Barangkali orang akan menilai saya sebagai seorang puritan dalam hal moral, tapi manakala kedekatan (<em>proximity</em>) adalah hal yang menjadi kendala pada komunikasi via Internet yang menyulitkan konfirmasi fisik, klaim, verifikasi faktual, dan kejujuran, apakah kita harus serta merta mengacungkan jempol pada upaya-upaya yang mengeksploitasi itu demi keuntungan finansial ?</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>aya tidak tahu seberapa akurat tulisan saya ini. Saya pun tidak tahu seberapa jauh apa yang dikemukakan Anne Ahira di acara itu sudah menggambarkan keseluruhan modus operandi-nya. Demikian pula ilustrasi-ilustrasi yang menimbulkan efek tertentu pada audiens. Saya tidak punya sentimen pribadi pada Anne Ahira secara pribadi. Fokus saya adalah pada apa yang dilakukannya. Saya juga tidak mengatakan bahwa bisnisnya itu adalah 100% hitam, tapi dengan ilustrasi pada presentasinya, saya menduga dia pun tidak 100% putih. Yang jelas, saya punya rekaman audio presentasinya, dan nampaknya dalam waktu dekat saya akan mendengarkannya lagi. Saya belum puas dengan apa yang saya tahu tentang Anne Ahira.</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>ekarang saya sedang berpikir apakah sebuah ekonomi Internet yang sehat akan terwujud bila di dalamnya terdiri dari orang-orang yang kiprahnya adalah representasi dari sepak terjang bisnis Anne Ahira ? Saya belum tahu jawabannya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomita.web.id/?feed=rss2&amp;p=1108</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Lemari, Buku Ilmu Komunikasi, dalam Sekeping DVD</title>
		<link>http://tomita.web.id/?p=1107</link>
		<comments>http://tomita.web.id/?p=1107#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 09:44:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomita.web.id/?p=1107</guid>
		<description><![CDATA[Untuk mendapatkan buku-buku referensi yang relatif baru (dari tahun penerbitannya), berkenaan dengan bidang studi yang kita tekuni seringkali sulit. Tidak saja kerap tidak terjangkau dari segi harga, namun juga tidak tersedia dengan mudah di toko buku terdekat. Barangkali hal ini lebih berlaku untuk buku-buku berbahasa Inggris daripada yang berbahasa Indonesia. Di sini tidak berarti saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><b>U</b>ntuk mendapatkan buku-buku referensi yang relatif baru (dari tahun penerbitannya), berkenaan dengan bidang studi yang kita tekuni seringkali sulit. Tidak saja kerap tidak terjangkau dari segi harga, namun juga tidak tersedia dengan mudah di toko buku terdekat. Barangkali hal ini lebih berlaku untuk buku-buku berbahasa Inggris daripada yang berbahasa Indonesia. Di sini tidak berarti saya mengasumsikan buku-buku berhasa Inggris lebih unggul, namun dengan menekankan pada buku-buku yang berbahasa Inggris, kita dapat berharap adanya sebuah transfer pengetahuan dan teknologi dari negara-negara lain. Lalu bagaimana jalan keluarnya ?</p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/SatuLemariBukuIlmuKomunikasidalamSekepin_EC31/untukblog.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="untukblog" border="0" alt="untukblog" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/SatuLemariBukuIlmuKomunikasidalamSekepin_EC31/untukblog_thumb.jpg" width="244" height="244" /></a> I</b>nternet telah menjadi solusi yang luar biasa untuk itu. Maksud saya bukan sajian informasi pada <i>website</i> / situs, tapi pada adanya buku-buku yang bisa kita unduh dalam bentuk <i>file</i> / berkas, atau yang disebut <i>e-book</i> (<i>electronic book</i> / buku elektronik). Semua orang yang sudah biasa dengan Internet tentu bisa melakukan unduh, namun untuk mengunduh <i>e-book</i> yang saya maksud tidak bisa dilakukan dengan cara biasa kalau kita ingin melakukannya dengan cepat dan efisien. Apalagi banyak <i>e-book</i> tersebut disimpan di media penyimpanan <i>online,</i> yang untuk mengaksesnya dengan efektif diperlukan akun yang berbayar. Belum lagi keberadaan <i>e-book</i> pada media tersebut cenderung cepat hilang, karena dihapus oleh pemiliknya atau karena hal-hal lain.</p>
<p align="justify"><b>S</b>ingkat kata, saya telah menemukan cara yang seefektif mungkin untuk mendapatkan buku-buku elektronik tersebut, tapi itu bukan berarti lalu perkaranya jadi mudah buat saya. Menemukan topik yang relevan di antara onggokan begitu banyak judul dan memastikan bahwa isinya benar-benar sesuai dengan studi Ilmu Komunikasi, sudah merupakan pekerjaan tersendiri. Kadang judul dan <i>link</i>-nya ada, tapi isinya tidak ada. Kadang isinya ada dan bisa diunduh, tapi ternyata harus menggunakan <i>password</i>. Belum lagi nama berkasnya yang kerap tidak mencerminkan judul bukunya, menggolongkannya ke dalam kategori (yang ternyata bukan urusan sederhana), dan sebagainya. Demikian pula untuk mengumpulkannya hingga bisa mencapai lebih dari 300 judul dan memasukkannya ke dalam sebuah DVD hingga kapasitasnya yang semaksimal mungkin. Saya menggunakan koneksi Internet sendiri, mengusahakan cara tertentu sehingga saya bisa mengunduhnya dari media penyimpanan <i>online</i> itu secara premium. Intinya, DVD ini bisa terwujud tidak begitu saja dengan mudah.</p>
<p align="justify"><b>O</b>leh karena itu bila anda ingin memiliki DVD ini, saya memohon kontribusi anda sebesar Rp 100.000,- saja. Jumlah itu sangat tidak ada artinya dibanding koleksi <i>e-book</i> yang ada di dalamnya. Ini sama dengan satu lemari buku Ilmu Komunikasi. Tapi lebihnya, bila anda ingin mencari apapun yang spesifik, anda tinggal buka <i>file</i> / berkasnya, lalu tekan Ctrl-F dan ketikkan kata kunci yang anda akan cari. Artinya, ada poin lebih ketika anda memiliki sebuah buku dalam bentuk <i>file</i> / berkas komputer. Di samping sebagai pengganti jerih payah saya, kontribusi anda itu juga akan mendorong saya untuk melakukan pekerjaan ini lagi di masa datang. </p>
<p align="justify"><b>K</b>oleksi <i>e-book</i> dalam DVD ini sangat cocok dimiliki oleh dosen maupun mahasiswa Ilmu Sosial, khususnya pada Studi Ilmu Komunikasi, baik yang berada di tingkat S1, S2, maupun S3. Daftar lengkap buku-buku yang ada di dalam DVD dapat di-<i>download</i> di <a href="http://tomita.web.id/download/ebookkomunikasi.pdf">http://tomita.web.id/download/ebookkomunikasi.pdf</a> Silahkan anda pastikan relevansinya dengan melihat judul-judulnya dahulu. </p>
<p align="justify"><b>U</b>ntuk memesan DVD ini silahkan anda kontak saya melalui fitur <i>message</i> yang ada di FB. Alamat FB saya adalah <a href="http://www.facebook.com/tomita">www.facebook.com/tomita</a> &#8211; Komunikasi pemesanan dilakukan via <i>message</i> FB saja, tidak melalui cara lain. Pengiriman ke dalam dan luar kota Bandung akan dilakukan melalui paket pos dan dikenakan biaya pengiriman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomita.web.id/?feed=rss2&amp;p=1107</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SMART: Setelah Gratis 100 Hari</title>
		<link>http://tomita.web.id/?p=1106</link>
		<comments>http://tomita.web.id/?p=1106#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 09:20:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomita.web.id/?p=1106</guid>
		<description><![CDATA[Bagi mereka yang menggunakan modem SMART ZTE AC-2726 tentu tahu bahwa ketika pertama kali membeli, ada gratis penggunaan Internet selama 100 hari atau tiga bulanan. Setelah tiga bulan, kita akan harus memasukkan pulsa sejumlah tertentu untuk dapat menggunakannya lagi. Awal bulan Mei lalu adalah untuk pertama kalinya saya melewati masa tiga bulan gratis itu. Lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/SMARTSetelahGratis100Hari_D3BD/logo_smart.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 10px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="logo_smart" border="0" alt="logo_smart" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/SMARTSetelahGratis100Hari_D3BD/logo_smart_thumb.jpg" width="175" height="95" /></a> B</strong>agi mereka yang menggunakan modem SMART ZTE AC-2726 tentu tahu bahwa ketika pertama kali membeli, ada gratis penggunaan Internet selama 100 hari atau tiga bulanan. Setelah tiga bulan, kita akan harus memasukkan pulsa sejumlah tertentu untuk dapat menggunakannya lagi. Awal bulan Mei lalu adalah untuk pertama kalinya saya melewati masa tiga bulan gratis itu. Lalu saya coba masukkan pulsa sejumlah 50 ribu, tapi ternyata apa yang diharapkan tidak terjadi.</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>aya pernah mendengar bahwa paket berlangganan paling murah dari SMART, yaitu yang kecepatannya sekitar 153,6 Kbps (<em>download</em>), adalah 50 ribuan per bulan. Yang terjadi adalah, saya memasukkan pulsa sebesar 50 ribu dan saya bisa menggunakan Internet selama sebulan penuh (hingga akhir Mei). Namun ketika saya masukkan 50 ribu lagi (setelah yang sebelumnya <em>expired</em>), ternyata habisnya kurang dari sebulan. Saya coba hitung-hitung, ternyata masa penggunaannya hanya 15 hari saja. Karena saya butuh koneksi Internet di rumah, saya lalu masukkan lagi 50 ribu (meski saya tahu ini mungkin bakal 15 hari lagi).</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/SMARTSetelahGratis100Hari_D3BD/usbmodemSmartAC2726.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="usb-modem-Smart-AC2726" border="0" alt="usb-modem-Smart-AC2726" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/SMARTSetelahGratis100Hari_D3BD/usbmodemSmartAC2726_thumb.jpg" width="329" height="138" /></a> S</strong>aya coba cari info sana sini, termasuk ke situsnya SMART, lalu telpon ke <em>Customer Service</em>-nya. Ternyata mereka yang memperoleh gratis tiga bulan karena pembelian modem itu tidak bisa langsung bisa terus menggunakan modemnya, setelah 100 hari, dengan bayaran pulsa 50 ribuan per bulan. Harus ada yang dilakukan dulu supaya itu bisa terjadi. </p>
<p align="justify"><strong>J</strong>adi, duduk perkaranya begini. Ketika 100 hari itu sudah habis, maka kartu SMART di modem kita akan diperlakukan sama seperti kartu telpon SMART saja. Bila kita isi 50 ribu, maka itu berarti sama dengan pulsa 50 ribu untuk menelpon, <strong><u>BUKAN</u></strong> untuk Internet. Nah, sekarang ini sedang ada program promo, kalau kita isi pulsa 50 ribu maka akan ada gratis koneksi Internet selama 15 hari. Ini bisa menjelaskan, kenapa koneksi Internet saya kemarin itu hanya 15 hari saja.</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>upaya bisa digunakan untuk Internet selama satu bulan ternyata ada yang harus dilakukan dulu. Biayanya malah persisnya bukan 50 ribu, tapi 45 ribu. Caranya adalah dengan menekan kode seperti pada tabel berikut ini : (saya kutip dari situsnya SMART di <a href="http://www.smart-telecom.co.id/index.php?module=content&amp;method=detail&amp;id=77">sini</a>)</p>
<div align="center">
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="2" width="436" align="center">
<tbody>
<tr>
<td width="73" align="center"><strong>Paket Layanan</strong></td>
<td width="60" align="center"><strong>Harian</strong></td>
<td width="66" align="center"><strong>Mingguan</strong></td>
<td width="66" align="center"><strong>Bulanan</strong></td>
<td width="66" align="center"><strong>6 bulan</strong></td>
<td width="103" align="center"><strong>12 bulan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="73"><strong>Regular</strong></td>
<td valign="top" width="60">*333*1*0</td>
<td valign="top" width="66">*333*7*0</td>
<td valign="top" width="66">*333*30*0</td>
<td valign="top" width="66">n/a</td>
<td valign="top" width="103">n/a</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="73"><strong>Silver</strong></td>
<td valign="top" width="60">*333*1*1</td>
<td valign="top" width="66">*333*7*1</td>
<td valign="top" width="66">*333*30*1</td>
<td valign="top" width="66">*333*180*1</td>
<td valign="top" width="103">*333*360*1</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="73"><strong>Platinum</strong></td>
<td valign="top" width="60">*333*1*3</td>
<td valign="top" width="66">*333*7*3</td>
<td valign="top" width="66">*333*30*3</td>
<td valign="top" width="66">*333*180*3</td>
<td valign="top" width="103">*333*360*3</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="73"><strong>Ultimate</strong></td>
<td valign="top" width="60">*333*1*4</td>
<td valign="top" width="66">*333*7*4</td>
<td valign="top" width="66">*333*30*4</td>
<td valign="top" width="66">*333*180*4</td>
<td valign="top" width="103">*333*360*4</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<p align="justify">Sedangkan biayanya untuk per paket bisa dilihat di <a href="http://www.smart-telecom.co.id/index.php?module=content&amp;method=detail&amp;id=77">halaman</a> yang sama tadi.</p>
<p align="justify"><strong>J</strong>adi, misalnya saya ingin berlangganan paket Reguler Bulanan, maka yang harus saya lakukan adalah mengisi pulsa yang cukup untuk paket itu. Paket Reguler bulanan adalah 45 ribuan, maka kita tentu akan memasukkan pulsa 50 ribuan, karena satuan pulsa yang terdekat adalah pada jumlah itu. Setelah pulsanya masuk, kita harus pencet *333*30*0, lalu tekan yes / call. Kalau berhasil maka nanti akan ada notifikasi via SMS. Hal yang sama berlaku untuk paket-paket yang lain (yang tidak membedakan <em>unlimited</em>-nya, tapi hanya kecepatannya saja).</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>ebenarnya ini sudah dijelaskan di <a href="http://www.smart-telecom.co.id/index.php?module=content&amp;method=detail&amp;id=77">halaman</a> situsnya SMART tadi, tapi buat orang-orang yang membeli modem AC 2726 barangkali akan kaget karena ketika mengisi pertama kali hanya berlaku 15 hari. Mungkin, sama dengan saya, ada persepsi bahwa kartunya sudah langsung bisa untuk Internet seterusnya, tanpa harus menekan kode-kode di atas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomita.web.id/?feed=rss2&amp;p=1106</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penetrasi HP Qwerty &amp; Internetisasi Publik (1)</title>
		<link>http://tomita.web.id/?p=1100</link>
		<comments>http://tomita.web.id/?p=1100#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 09:58:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cellphones]]></category>
		<category><![CDATA[Komputer/Internet]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[qwerty]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomita.web.id/?p=1100</guid>
		<description><![CDATA[Setiap saya pergi ke BEC (Bandung Electronic Center), saya selalu takjub dengan begitu banyaknya orang yang setiap hari memadati toko-toko hp itu. Pertanyaan saya dalam hati, “OK, mereka akan membeli hp, apakah mereka membelinya hanya untuk menelpon dan SMS saja ? Apakah ada ekspektasi bahwa hp yang mereka akan beli itu juga harus bisa terkoneksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/PenetrasiHPQwertyInternetisasiPublik_E7BF/bec.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="bec" border="0" alt="bec" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/PenetrasiHPQwertyInternetisasiPublik_E7BF/bec_thumb.jpg" width="274" height="193" /></a> S</b>etiap saya pergi ke BEC (<i>Bandung Electronic Center</i>), saya selalu takjub dengan begitu banyaknya orang yang setiap hari memadati toko-toko hp itu. Pertanyaan saya dalam hati, “OK, mereka akan membeli hp, apakah mereka membelinya hanya untuk menelpon dan SMS saja ? Apakah ada ekspektasi bahwa hp yang mereka akan beli itu juga harus bisa terkoneksi ke Internet ? Apakah itu akan jadi pengalaman mereka yang pertama dengan Internet ? Apakah itu hp pertama mereka ?” Ada begitu banyak pertanyaan! (barangkali saya juga harus pertanyakan kenapa saya harus takjub, sementara orang lain biasa-biasa saja).</p>
<p align="justify"><b>D</b>ulu ada masanya ketika hp yang memiliki kemampuan koneksi ke Internet (sekurangnya memiliki fitur GPRS) adalah hp yang cukup mahal. Sekarang, nampaknya hampir semua hp baru memiliki fitur itu, bahkan dengan metode koneksi yang lebih banyak lagi, seperti 3G, EDGE, HSDPA, atau Wifi. Harganya pun amat terjangkau. Ketika itu saya punya Siemens ME-45 dengan GPRS class 10 yang kecepatannya pas-pasan (karena kualitas jaringan waktu itu juga belum sebaik sekarang). Harganya adalah 2,5 juta. Sekarang kita bisa melihat di berbagai iklan, ada hp dengan fitur koneksi ke Internet hanya 300 ribu rupiah saja!</p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/PenetrasiHPQwertyInternetisasiPublik_E7BF/lte.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="lte" border="0" alt="lte" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/PenetrasiHPQwertyInternetisasiPublik_E7BF/lte_thumb.jpg" width="207" height="186" /></a> S</b>elain harga hp, yang jelas menjadi daya tarik para calon pembeli hp adalah begitu banyaknya tawaran koneksi Internet murah dari <em>provider</em>. Ada yang menawarkan, 2000 rupiah saja per minggu untuk bisa menggunakan Facebook sepuasnya, atau dengan 10 ribu rupiah saja per minggu akan dapat kuota sekian mega untuk mengakses Internet via hp, ada pula yang <i>unlimited</i>, tapi dengan biaya yang meski lebih mahal, namun tetap terhitung murah kalau pemakaiannya intensif. Yang terakhir, Telkomsel, 3, dan Axis malah melakukan semacam <i>agreement</i> dengan Facebook untuk menggratiskan biaya koneksi ke situs jejaring sosial populer itu melalui url khusus yang hanya menyajikan teks saja, yaitu 0.facebook.com. Belum lagi sekarang sudah terdengar LTE (<em>Long Term Evolution</em>) alias 4G, yang menurut prakiraan beberapa pihak akan turut meningkatkan kualitas koneksi kelas di bawah 4G dan sekaligus menurunkan tarifnya. </p>
<p align="justify"><b>D</b>engan semua perkembangan yang tidak pernah mengarah ke penurunan itu, secara umum apakah kita bisa membayangkan bahwa bila orang akan membeli hp baru ia hanya akan menggunakannya untuk menelpon dan sms saja ? Saya kira malah bisa terjadi ini semua bukan merupakan <i>hype</i> yang berfokus pada kepemilikan perangkat dan akses saja, tapi bayangkan, katakanlah semua orang menonton TV dan memperbincangkan hal-hal yang ditayangkan pada TV; maka orang-orang yang tidak punya TV akan mengalami disonan dan terdorong kuat untuk membeli TV. Sama halnya dengan hp dan Internet. Apa jadinya bila semakin banyak orang berinteraksi melalui Internet, dan ada orang-orang yang tidak ikut serta, sementara orang-orang ini masih dalam kedekatan sosial dengan mereka ? Sementara itu untuk memiliki seperangkat komputer lengkap dengan akses Internetnya mungkin masih pilihan yang mahal, memiliki hp dengan koneksi Internet adalah sebuah alternatif yang amat terjangkau yang tentu akan segera dijadikan pilihan agar tidak tertinggal dalam pergaulan.</p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/PenetrasiHPQwertyInternetisasiPublik_E7BF/qwertycp.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 10px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="qwertycp" border="0" alt="qwertycp" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/PenetrasiHPQwertyInternetisasiPublik_E7BF/qwertycp_thumb.jpg" width="235" height="221" /></a> K</b>alau saya memberi judul catatan ini “Penetrasi HP Qwerty &#8230; “ itu tidak berarti saya menafikan hp-hp lain yang papan tuts-nya bukan qwerty namun punya kemampuan koneksi Internet. Saya tulis begitu karena karakteristik papan tuts itu telah menjadi salah satu tonggak <i>booming</i>-nya penjualan hp dengan fitur koneksi Internet. Tidak usah dijelaskan lagi bahwa itu semua berasal dari desain-nya Blackberry, tapi saya berpendapat bahwa hp-hp qwerty murah yang sebagian besar produksi Cina itu bukan sekedar epigon Blackberry. Secara umum, saya kira produksi massal hp qwerty itu telah turut mempercepat laju evolusi <i>standard base</i> dari perangkat komunikasi selular (suatu hari, hp yang hanya bisa untuk menelpon dan sms saja akan mati / tidak laku). Memang tidak semua hp qwerty memiliki fitur koneksi Internet, tapi bisa dikatakan sebagian besar memiliki fitur itu, disamping cenderung memiliki layar standard yang lebih lebar dari hp konvensional yang umumnya berdesain <i>candy bar</i>, sehingga lebih nyaman untuk bisa digunakan untuk <i>browsing</i>. Selain koneksi Internet, hp-hp qwerty juga telah memiliki variasi fitur-fitur multimedia yang sebelumnya hanya ada pada hp-hp dengan harga yang lebih mahal (kamera, <i>video recorder</i>, <i>sound recorder</i>, mp3 player, radio, bahkan TV).</p>
<p align="justify"><strong>O</strong>k, barangkali sebagian dari kita akan ada yang mengatakan bahwa hp-hp qwerty buatan Cina itu adalah hanya <i>Blackberry-wannabe</i>, sekedar fasilitasi gengsi dari snobisme kelas menengah, hp dengan kompromi pada kualitas (karena memang ada yang benar-benar jelek), atau mungkin apa lagi yang lebih sinis, &#8230;. tapi itu semua tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa fitur konektifitasnya telah berjasa secara massal mengantarkan warga kelas menengah-bawah ke Internet. Poin saya di situ. Bukan semakin banyak orang jadi sering meng-<i>update</i> statusnya via Facebook, atau mengumbarkan situasinya via Twitter; tapi semakin banyak orang akhirnya terintrodusir ke Internet, meski ‘jalan masuknya’ barangkali agak khas dibandingkan dengan orang-orang yang melakukannya menggunakan komputer personal.</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>emakin banyaknya anggota masyarakat yang mengadopsi Internet dapat memiliki implikasi sosiologi dan komunikologi yang patut untuk direnungkan. Saya akan tuliskan di bagian kedua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomita.web.id/?feed=rss2&amp;p=1100</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Reuni Selalu Ada Gunanya ?</title>
		<link>http://tomita.web.id/?p=1099</link>
		<comments>http://tomita.web.id/?p=1099#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 01:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Interpersonal]]></category>
		<category><![CDATA[Anna Freud]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Paolo Freire]]></category>
		<category><![CDATA[Siegmund Freud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomita.web.id/?p=1099</guid>
		<description><![CDATA[- Dari Regresi, Rasionalisasi, ke Konsientisasi &#8211; Gara-gara Facebook, sudah ada banyak kegiatan reuni yang terjadi. Ini karena jaringan pertemanan sosial itu memungkinkan kita bisa terhubung kembali dengan orang-orang yang pernah dekat dalam hidup kita di masa lalu. Dalam arti dan batasan tertentu, Facebook adalah sebuah eksperimen sukses dari teori Six-Degree of Separation. Tentang bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><b>- Dari Regresi, Rasionalisasi, ke Konsientisasi &#8211; </b></p>
<p align="justify"><b>G</b>ara-gara <a href="http://www.facebook.com/" target="_blank">Facebook</a>, sudah ada banyak kegiatan reuni yang terjadi. Ini karena jaringan pertemanan sosial itu memungkinkan kita bisa terhubung kembali dengan orang-orang yang pernah dekat dalam hidup kita di masa lalu. Dalam arti dan batasan tertentu, Facebook adalah sebuah eksperimen sukses dari teori <i><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Six_degrees_of_separation" target="_blank">Six-Degree of Separation</a></i>. Tentang bagaimana terjadinya dan apa yang harus kita cermati, itu adalah masalah lain, tapi saya ingin memfokuskan diri pada reuni itu sendiri. </p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/facebook.gif"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="facebook" border="0" alt="facebook" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/facebook_thumb.gif" width="210" height="102" /></a> K</b>arena pernah ada beberapa undangan untuk reuni, suatu ketika saya membatin ingin menulis status Facebook, “Apakah reuni <u>selalu</u> ada gunanya?” Kalau saya lakukan itu, nampaknya akan banyak yang berpikir yang tidak-tidak tentang saya, tapi saya begitu bukannya tanpa alasan. Yang saya lihat, ada reuni yang hanya mengumpulkan sebagian orang dari yang seharusnya lebih banyak lagi. Dengan kata lain, reuni di situ sebenarnya hanya mau mengulangi lagi kolektifisme eksklusif di masa lalu. Lalu ada pula reuni yang mempertemukan kembali orang-orang yang sebenarnya belum berpisah terlalu lama. Memang tidak ada sebuah norma yang membatasi mesti berapa lama waktu harus berlalu sebelum sebuah reuni diselenggarakan (bahkan atas dasar apa reuni diadakan). Kalau sudah begitu, saya berpikir, apakah orang sebenarnya mencari-cari alasan saja untuk berkumpul atau mau cari variasi dari kebosanan rutin sehari-hari ? Lain lagi adalah, reuni yang direkayasa atau ditunggangi kepentingan. Ini yang paling menyebalkan. Inisiatornya memang mencanangkannya sebagai reuni, tapi dia akhirnya aktif di acara itu hanya untuk mempromosikan bisnis MLM (ini yang pernah saya alami) atau barangkali untuk kepentingan pribadi dia lainnya.</p>
<p align="justify"><b>S</b>aya bukannya mau sinis, tapi justru mau membuat konsep untuk menjaga agar reuni itu bisa tetap positif. <em>Lho</em>, apakah reuni itu tidak selalu positif ? Bisa negatif ? Saya bilang: bisa! Tidak semua orang berkembang sama secara psikologis. Ada bagian-bagian dari perkembangan itu juga yang tidak selalu mengarah ke jalan yang konstruktif. Bayangkan saja, ada orang yang mungkin masih erat memendam dendam tentang sebuah peristiwa di masa lalu, yang benar-benar jauh di masa lalu. Lalu karena sebuah reuni, orang itu bertemu lagi dengan orang yang ada kaitannya dengan peristiwa itu. Apakah ada jaminan bahwa segalanya lalu akan baik-baik saja ? Ini bukan hanya menyangkut orang (bisa sikap, bisa perilaku) dan peristiwa, tapi bisa juga menyangkut tempat atau mungkin benda. Ada hal-hal yang dalam hidup ini ingin kita lupakan, tapi justru reuni malah membuat semuanya itu kembali lagi. Maka sekali lagi saya bertanya, “Apakah reuni itu <u>selalu</u> ada gunanya ?”</p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/freudenc.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="Siegmund Freud" border="0" alt="Siegmund Freud" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/freudenc_thumb.jpg" width="143" height="191" /></a> D</b>alam Psiklogi ada yang disebut dengan regresi. Salah satu pencetus awal konsep ini siapa lagi kalau bukan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sigmund_Freud" target="_blank">Siegmund Freud</a>. Regresi adalah salah satu bentuk dari mekanisme defensif untuk seolah kembali ke bagaimana kita ketika masih anak-anak menghadapi sebuah situasi, dan bukannya menghadapinya sebagai seseorang yang dewasa. Meskipun <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Anna_Freud" target="_blank">Anna Freud</a> (anak terkecil dan satu-satunya yang seprofesinya dengan Freud) memberikan aksentuasi yang lain pada pengertian regresi, tapi intinya adalah kita memberikan respon pada suatu situasi yang mungkin tidak mengenakkan kita dengan pola-pola yang dulu kita pernah tampilkan semasa kecil. Tidak semua perilaku yang regresif itu buruk. Menangis atau merajuk adalah contoh dari regresi. Akan tetapi kalau reaksi semacam itu ditunjukkan terlalu sering, maka itu akan menjadi pola respon yang jelas-jelas akan menyulitkan diri seseorang pada proses perkembangan kedewasaan berikutnya.</p>
<p align="justify"><b>B</b>uat saya, reuni adalah sebuah peristiwa yang sekurangnya potensial menjadi sebuah piknik ke masa lalu dan membangkitkan ingatan-ingatan lama tentang segala hal yang dulu mungkin menjadi pencetus dari satu atau beberapa pola itu. <em>Hmmm</em>, barangkali kalau saya sebut ‘pola’ agak berlebihan karena memang semua manusia memiliki itu. Mungkin, saya akan katakan saja secara sederhana bahwa reuni dapat membangkitkan kenangan akan pengalaman dari masa lalu dan dulu, tidak semua dari pengalaman itu kita hadapi secara dewasa. Dalam kaitan ini, Psikoanalisa mengatakan bahwa perilaku kita sekarang dipengaruhi pengalaman di masa lalu. Reuni membuat kita punya peluang untuk ingat atau mengingat-ingat segala apa yang pernah kita hadapi secara tidak dewasa di masa lalu, dan – dalam semangat tulisan ini &#8211; bertanya-tanya apakah semua itu menorehkan ‘bekas’ yang masih kita bawa sampai hari ini.</p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/annafreud01.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="Anna Freud" border="0" alt="Anna Freud" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/annafreud01_thumb.jpg" width="140" height="190" /></a> U</b>niknya, reuni itu sendiri sifatnya memang regresif (merupakan aksi kembali ke masa lalu). Bagi saya selalu ada siratan pengertian yang ditekankan oleh Anna Freud, bahwa perilaku regresi adalah kembali ke pengalaman masa lalu di mana orang merasa nyaman dalam fiksasi (<i>fixation</i>) tertentu. Biasanya memang ada asumsi bahwa reuni adalah untuk mengenang masa-masa yang menyenangkan. Padahal kita bisa pertanyakan, apakah masa lalu itu selalu menyenangkan buat semua orang ? Atau apakah reuni itu hanya pantas dilakukan bila masa lalu dari sejumlah orang itu sama-sama dipersepsi sebagai menyenangkan ? </p>
<p align="justify"><b>S</b>elain itu, reuni juga bersifat kolektif (dilakukan secara bersama-sama). Ketika saya di sini bicara tentang kemungkinan negatif dari reuni pada taraf individual, ada bahaya bahwa karena sifatnya yang kolektif itu maka reuni akan melibas subyektifitas. Kalau tidak itu, maka reuni bisa jadi hanya akan menonjolkan kesaksian-kesaksian pengalaman yang bisa sekedar saling dirujuk ke satu sama lain, alias sebagai sesuatu yang intersubyektif. Sementara, ada ‘ruang’ yang kosong, yang barangkali hanya dihayati secara pribadi. Oleh karena itu bagi seorang individu tertentu, mungkin saja reuni adalah sebuah potensi ancaman. Seseorang bisa saja datang, tapi mungkin ia akan pasang kuda-kuda dalam dirinya. Yang lain, mungkin memutuskan tidak akan datang karena yakin bahwa masa lalu benar-benar masih hidup dan masih memiliki potensi untuk mempengaruhi <i>state of mind</i> yang sekarang. </p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/cartoon1.gif"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="Rasionalisasi :)" border="0" alt="Rasionalisasi :)" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/cartoon1_thumb.gif" width="170" height="242" /></a> I</b>tu tadi yang saya maksud dengan regresi. Lalu apa itu rasionalisasi ? Ini sebenarnya juga masih terminologi dalam konteks <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Psychoanalysis" target="_blank">Psikoanalisanya</a> Freud. Artinya adalah pembenaran. Kita melakukan segala sesuatu yang membuat diri sendiri dan orang lain percaya bahwa suatu sikap, kepercayaan, atau perilaku kita adalah sesuatu yang masuk akal, padahal sebenarnya (bisa) tidak demikian. Poin dalam kaitannya dengan reuni tadi adalah, setelah bayangan regresif tentang masa lalu itu mencuat ke kesadaran, beberapa orang mungkin melakukan rasionalisasi pada persepsinya sendiri. “Segalanya memang sudah berubah, tapi siapa bisa menjamin bahwa A tidak akan mengolok-olok B dengan julukan yang sama seperti dulu, yang akan membuat A naik pitam ?” “Waktu memang sudah berlalu cukup lama, tapi dendam memang harus terbalaskan.” Atau barangkali, “Dulu ada hal yang belum sempat terlampiaskan, maka reuni sekarang ini adalah saatnya.” Bisa pula, &#8230; “Ketika itu dia melakukan hal yang amat sangat menyakitkan hati, dan ketika reuni nanti pasti dia tidak akan meminta maaf. Jadi, lebih baik tidak usah datang saja.” Lainnya lagi, “Dia dulu sudah terlalu banyak membuat masalah. Kalau dia datang ke reuni dia pasti akan bikin kacau perasaan. Mana mungkin kita menuntaskan perasaan itu dengan marah-marah di saat pertemuan yang justru seharusnya diwarnai dengan keceriaan ?” Ya, masih ada banyak variasi. Barangkali akan ada yang bilang saya berlebihan meng-<i>casting</i> suasana di sini. Tapi bayangkan saja, apa kemungkinan yang paling buruk dari sebuah reuni ? Sedia payung sebelum hujan. Kalau sebuah reuni ternyata menyenangkan dan baik-baik saja, ya syukurlah. Tapi kalau tidak ?</p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/FREIRE.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="Paolo Freire" border="0" alt="Paolo Freire" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/FREIRE_thumb.jpg" width="195" height="191" /></a> S</b>ampai di sini, apakah sebenarnya saya mau mengatakan bahwa reuni itu kalau tidak mengenakkan lebih baik tidak usah didatangi saja ? Masih ada satu istilah lagi yang harus saya paparkan di sini, yaitu konsientisasi. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Paolo Freire, tokoh pendidikan radikal dari Brazilia. Konsientisasi berasal dari kata <i>conscience</i> (sadar), maka konsientisasi (<i>conscientization</i>) artinya adalah penyadaran. Konteks penerapan istilah ini bisa luas, tapi dalam rangka tulisan saya ini, konsientisasi ingin saya maksudkan sebagai proses pembersihan diri dari residu persepsi dan pengalaman masa lalu yang tidak mengenakkan atau bersifat disonan, yang <u>boleh jadi</u> dalam bentuknya yang lain mewujud dalam diri kita yang sekarang, atau menjadi latar belakang dari kecenderungan-kecenderungan tertentu diri kita sendiri. Kalau ini diterapkan pada diri seseorang yang ikut acara reuni, maka itu harus didahului dengan sebuah konfrontasi. </p>
<p align="justify"><b>S</b>aya sebut konfrontasi, tapi ini akan dengan mudah membuat orang jadi mengira saya ini sudah kehilangan <i>sense of ease</i>. Bukannya reuni itu adalah sebuah acara untuk bersenang-senang ? Ya betul, tapi apa hanya itu satu-satunya makna dari sebuah reuni ? Yang saya maksud dengan konfrontasi adalah kesengajaan diri kita untuk menghadapkan diri pada hal-hal yang mungkin dalam situasi normal justru kita hindari. Dalam rangka konsientisasi, reuni adalah sebuah kesempatan untuk melakukan konfrontasi pada konflik-konflik batin yang berkaitan dengan persepsi pada orang atau peristiwa, serta pengalaman dari masa lalu. Tapi mengapa kita mesti melakukan itu ? Bukannya itu akan sangat tidak mengenakkan ?</p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/spin.gif"><img style="margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline" title="spin" alt="spin" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/spin_thumb.gif" width="168" height="168" /></a> S</b>aya ingin katakan, sebaiknya kita melakukan itu, karena seharusnya kita berkembang menjadi semakin dewasa dengan meninggalkan hal-hal yang buruk dari masa lalu dan sepenuhnya melepaskan diri dari ‘sampah-sampah perasaan’ yang mungkin masih tersisa. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa ini akan mudah. Konsientisasi pada acara reuni memerlukan keberanian, dan ini hanya bisa berlangsung pada taraf individu, tidak bisa diangkat ke permukaan. Dengan datang ke acara reuni, kita membiarkan diri kita menghadapi kemungkinan munculnya ingatan-ingatan dari masa lalu atau adanya reaksi / respon dari orang lain yang tidak menyenangkan, tapi bersamaan dengan itu konsientisasi membuat kita menjadi saksi bahwa segala yang mungkin tidak menyenangkan itu boleh jadi ternyata relatif saja, tidak seintens yang kita bayangkan selama ini, atau malah barangkali sudah berubah sama sekali. Kalau ternyata itu semua tidak bisa datang dari orang lain, maka diri kita sendiri yang harus melakukannya, mereevaluasi semuanya. (Memang dalam konteks terapi, konsientisasi barangkali harus dipandu, tapi kali ini kita harus melakukannya sendiri). Apakah cara pandang kita dulu tentang segala sesuatunya akan masih sama dengan yang sekarang ? Kita tidak akan tahu apa yang bisa terbangkitkan pada perasaan kita di acara reuni, tapi itu adalah kesempatan untuk berdamai dengan diri sendiri. </p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/insensitivesob.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="insensitivesob" border="0" alt="insensitivesob" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/ApakahReuniSelaluAdaGunanya_2847/insensitivesob_thumb.jpg" width="182" height="225" /></a> H</b>arus diakui bahwa akan ada orang-orang yang dulu mungkin menyebalkan, dan sekarang ternyata masih seperti itu. Ada pula orang-orang ekstrovert bodoh yang dengan pembenarannya sendiri mungkin akan mengungkapkan apa yang dipikirnya sesuatu yang kocak dari masa lalu, tapi sangat mungkin itu adalah hal yang amat menyakitkan bagi orang lain di situ. Di sini saya jadi berpikir, apa pengertian konfrontasi tadi sebaiknya harus dibayangkan tidak saja pada suasana reuni, tapi juga sekalian pada orang-orangnya ? Maksud saya, apakah baik bila reuni menjadi sebuah peluang juga bagi kita untuk secara asertif menyatakan apa yang sebenarnya selama ini kita rasakan pada atau tentang orang lain ? Saya tidak bisa membayangkan itu akan benar-benar bisa diniatkan semua orang. Selain tidak semua kepribadian bisa menangani itu, kita juga tidak akan pernah tahu bahwa orang yang kita hadapi itu akan menerima apa yang kita katakan. Agak paranoid juga kalau di sini mesti dikatakan bahwa sebelum reuni dilakukan, semua peserta harus mematuhi semacam <em>codes of conduct</em> tertentu. Masalahnya, tidak mungkin kita mengendalikan perilaku semua peserta reuni. Barangkali, reuni dengan <em>codes of conduct</em> itu malah bukan reuni sama sekali. Kalau begitu, sekurangnya ada ‘gerakan’ proaktif pada diri sendiri, hanya dalam diri kita sendiri, untuk mengevaluasi kembali semua perasaan itu. Kita katakan saja, barangkali orang-orang tolol yang tidak sensitif itu memang sudah ditakdirkan seperti itu selama hidupnya.</p>
<p align="justify"><b>O</b>K, dengan menuliskan itu semua, apakah sekarang jadi cukup alasan bagi saya untuk mengatakan bahwa reuni mungkin penting untuk kesehatan dan perkembangan psikis kita ? Semua orang pasti punya masa lalu, tapi tetap saja barangkali reuni itu tidak untuk semua orang. Tidak ada yang mengatakan baik atau buruk, karena ada suatu masa dalam hidup kita – betapapun itu sungguh berat – kita mesti bertanggungjawab untuk diri sendiri. Maka datang atau tidak-datang ke sebuah acara reuni adalah kebebasan untuk semua orang.</p>
<p align="justify"><b>S</b>emoga reuni yang memang regresif itu bisa selalu kita manfaatkan untuk melepaskan semua rasionalisasi buruk tentang masa lalu. Waktu mengubah segalanya, dan segalanya memang pasti akan berubah. Datang ke acara reuni bagi beberapa orang bisa merupakan konfrontasi, tapi itu adalah dalam rangka konsientisasi yang menyehatkan. Bagaimana itu terjadi benar-benar hanya ada dalam diri seseorang. Pada reuni, kita melakukan <i>retreat</i> pribadi di dalam hati, meski itu harus dilakukan di antara hiruk pikuk keramaian.</p>
<p align="justify"><b>S</b>eorang teolog Amerika, Tryon Edwards (1809 – 1894), mengatakan : <i>Every parting is a form of death, as every reunion is a type of heaven</i>. Setiap perpisahan adalah suatu bentuk kematian, seperti halnya setiap reuni yang adalah sejenis surga. Jadi, apakah reuni <u>selalu</u> ada gunanya ?</p>
<p align="justify"><strong>C</strong>atatan: tulisan ini tidak berlaku untuk mereka yang mengklaim bahwa masa lalunya sempurna dan terlalu membahagiakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomita.web.id/?feed=rss2&amp;p=1099</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu Komunikasi: Saatnya CMC di Indonesia? (2)</title>
		<link>http://tomita.web.id/?p=1095</link>
		<comments>http://tomita.web.id/?p=1095#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 09:08:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Komputer/Internet]]></category>
		<category><![CDATA[CMC]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[Komputer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomita.web.id/?p=1095</guid>
		<description><![CDATA[Sudah beberapa saat sejak saya terbitkan tulisan blog dengan judul itu. Karena langsung di feed ke akun saya di Facebook, maka tanggapan banyak datang dari lingkaran pertemanan di Facebook. Apalagi saya men-tag beberapa orang. Tanggapan-tanggapan pada tulisan saya itu sungguh sangat menarik buat saya, karena menggambarkan bagaimana persepsi sebagian orang tentang CMC, sembari saya jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/learning.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="learning" border="0" alt="learning" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/learning_thumb.jpg" width="280" height="188" /></a> S</strong>udah beberapa saat sejak saya terbitkan <a href="http://tomita.web.id/?p=1090">tulisan</a> blog dengan judul itu. Karena langsung di <em>feed</em> ke akun saya di <a href="http://www.facebook.com/">Facebook</a>, maka tanggapan banyak datang dari lingkaran pertemanan di <a href="http://www.facebook.com/">Facebook</a>. Apalagi saya men-<em>tag</em> beberapa orang. Tanggapan-tanggapan pada tulisan saya itu sungguh sangat menarik buat saya, karena menggambarkan bagaimana persepsi sebagian orang tentang CMC, sembari saya jadi bertanya-tanya juga dalam hati: “Jangan-jangan memang beginilah persepsi sebagian besar kalangan pemerhati / aktivis Ilmu Komunikasi di Indonesia”. Saya tidak berasumsi persepsi saya paling representatif, tapi ada beberapa hal pada tanggapan-tanggapan itu yang saya tidak sepakati. Untuk itulah saya merasa harus memberikan ulasan balik yang memadai, sekaligus menambahkan apa yang belum saya uraikan di tulisan pertama.</p>
<p align="justify"><strong>K</strong>alau saya ringkaskan per poin, ada tiga dari <a href="http://www.facebook.com/tomita?v=app_2347471856&amp;ref=profile#!/note.php?note_id=239081439377&amp;comments">tanggapan-tanggapan</a> itu yang perlu untuk segera saya bahas, yaitu :</p>
<ol>
<li>
<div align="justify">Domain Ilmu Komunikasi ada pada tataran sosial, sehingga bahasan teknis yang berkaitan dengan komputer seharusnya dikaji oleh Fakultas yang orientasinya teknik; Informatika (atau mungkin juga Elektronika).</div>
</li>
<li>
<div align="justify">CMC membahas bagaimana pesan dipilih dan disusun, bagaimana <em>feedback</em> tersampaikan melalui komputer. Belum ada kepastian apakah CMC itu merupakan sebuah bentuk komunikasi.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Teori-teori yang kini telah ada pada Ilmu Komunikasi telah memadai dan dapat diterapkan pada CMC: Teori <em>Agenda Setting</em>, <em>Uses and Gratification</em>, Difusi Inovasi, Kredibilitas Media.</div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>Y</strong>ang pertama, dengan semakin digunakannya komputer dalam kehidupan, hadirnya koneksi Internet dengan tarif yang murah, fasilitas-fasilitas interaksi yang semakin beragam di Internet, dan begitu banyaknya orang yang kian hari memiliki akses pada jaringan ini, apakah kita masih bisa mengatakan bahwa domain Ilmu Komunikasi ada pada tataran sosial? Atau, lebih tepatnya, apakah untuk melakukan komunikasi manusia harus menggunakan sisi sosialnya? Apa sebenarnya pengertian sosial di sini? Sesuatu disebut sosial manakala itu menunjukkan sifat adanya keterlibatan dari dua orang lebih dengan mengacu pada hubungan-hubungan yang lebih luas pada kehidupan kemasyarakatan. Barangkali lebih detil bisa dirujuk sebuah uraian pada file <a href="http://www.depsos.go.id/modules.php?name=Downloads&amp;d_op=getit&amp;lid=99">ini</a>. Tanpa didefinisikan pun barangkali kita sudah bisa merasakan nuansa kata itu, tapi masalahnya tidak akan sederhana manakala itu pada konteks komunikasi di Internet.</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/socialnetworking.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 10px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="social-networking" border="0" alt="social-networking" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/socialnetworking_thumb.jpg" width="218" height="218" /></a> S</strong>aya berpendapat, ada kegiatan komunikasi melalui Internet yang masih bisa dikatakan sebagai berada pada tataran sosial dari para pelakunya. Ini menunjuk pada konteks bila kita melakukannya pada orang yang telah kita kenal, orang yang sehari-hari menjadi kolega, teman yang sering bertemu, atau pernah kenal. Saya mengatakan ini karena dalam konteks itu komunikasi melalui Internet adalah ekstensi dan/atau komplemen dari komunikasi yang dilakukan secara konvensional (tatap muka). Akan tetapi bukankah melalui Internet kita bisa melakukannya dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal? Barangkali bagi mereka yang (maaf) baru menggunakan Internet pernyataan saya itu akan terdengar sebagai sekedar sebuah kemungkinan saja, yang toh mungkin akan jarang terjadi karena bukankah kita hanya melakukan kontak dengan orang yang kita kenal? Salah besar. Malah mungkin kita harus mendefinisikan ulang pengertian “kenal” itu sendiri. Pada <em>mailing list</em> atau <em>chat room</em>, misalnya, kita bisa melakukan komunikasi dengan orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal, belum pernah kita jumpai, bahkan kita pun tidak tahu mereka ada di mana, pekerjaannya apa, kalau perlu bahkan kita pun bisa tidak tahu mereka itu laki-laki atau perempuan karena mereka menggunakan ID yang uniseks atau avatar yang tidak merujuk ke gender tertentu.</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/nonsocial.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="nonsocial" border="0" alt="nonsocial" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/nonsocial_thumb.jpg" width="254" height="192" /></a> L</strong>alu komunikasi seperti apa yang kita lakukan pada mereka? Macam-macam. Saya, misalnya, malah menemukan bahwa saya sudah merasakan komunikasi seperti itu sebagai sebuah kebutuhan. Pada <em>mailing list</em>, misalnya, ada semacam etos untuk saling berbagi, diskusi, memberi informasi, saling membahas sebuah masalah yang dialami anggota, tidak peduli satu sama lain kenal secara langsung atau tidak. Ini benar-benar terjadi. Komunikasi toh terjadi juga, meski <em>social cues</em> yang ada sangat sedikit, atau mungkin tidak ada sama sekali. Selain itu, kita hanya berhadapan dengan kontingensi saja, berkenaan dengan apakah komunikasi itu hanya berhenti sampai di situ, berlanjut terus, atau entah kapan akan terjadi lagi dengan orang yang sama. Demikian pula, komunikasi yang terjadi bisa murni interpersonal tanpa referensi ke konteks-konteks sosial yang ada pada masing-masing. Kalau sudah begini, apakah kita masih&#160; mengatakan bahwa komunikasi manusia dengan sesama manusia lainnya hanya bisa dilangsungkan dalam konteks sosial? Bukankah ternyata tanpa konteks itu pun esensi dari komunikasi telah dapat dilangsungkan? Atau kita mau mengatakan komunikasi dengan orang-orang seperti itu sifatnya <em>less social</em>? Atau kita harus definisikan ulang pengertian ‘sosial’ dalam konteks interaksi di Internet? Sebagian besar dari orang-orang yang pernah saya ajak komunikasi dengan cara seperti itu, tidak pernah saya ketahui siapa sebenarnya dan di mana, hingga kini. Meski ada beberapa yang setelah belasan tahun akhirnya bertemu muka juga.</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/computer_repair.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="computer_repair" border="0" alt="computer_repair" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/computer_repair_thumb.jpg" width="242" height="222" /></a> M</strong>asih berkaitan dengan yang pertama, adalah soal bahwa CMC itu membahas hal-hal yang sifatnya teknis komputer. Ini sebenarnya yang saya tengarai menjadi persepsi banyak orang. Saya ingin menekankan bahwa CMC sama sekali tidak membahas hal-hal itu. CMC tidak berbicara tentang mengapa koneksi di jaringan jadi putus, bagaimana mengembalikan data di <em>harddisk</em> yang hilang, atau mengapa permukaan monitor bisa mengalirkan listrik bila kita sentuh. Salah satu komentar dari tulisan saya bahkan mengatakan bahwa entri tulisan blog saya yang ada di kategori Komputer / Internet sebaiknya dipindahkan ke situs tertentu. Mungkin supaya bisa lebih mudah teridentifikasi. Tapi, sebenarnya tulisan-tulisan yang ada di kategori itu kalau tidak 100% teknis komputer, adalah hal-hal yang saya mau tegaskan sebagai <span style="text-decoration: underline">tidak</span> berkaitan dengan CMC sama sekali. Karena CMC berkaitan dengan komputer dan Internet, itu tidak lantas menjadikan semua tulisan tentang komputer dan Internet bisa langsung dikategorikan ke dalam bahasan CMC.</p>
<p align="justify"><strong>L</strong>alu kalau begitu apa yang dibahas di CMC ? Saya kira ini sudah mengarah ke definisi. Saya merasa belum bisa mempertanggungjawabkannya secara ilmiah, tapi sejauh yang saya pahami, CMC adalah kajian tentang dinamika aspek psikososial dari penggunaan komputer dalam rangka Komunikasi. Kajian bisa diarahkan pada semua Komponen Komunikasi (komunikator, pesan, media, komunikan, efek), plus modus komunikasi dan konteks. Oleh karena itu maka pada tulisan sebelum ini saya mengatakan bahwa CMC adalah sebuah <em>grey area</em> antara Ilmu Komunikasi, Psikologi, Informatika, dan tentu saja Sosiologi. Barangkali tidak mudah membayangkan seperti apa contoh bahasannya. Untuk mudahnya, lihat saja sebuah situs yang representatif membahas ini. Apalagi kalau bukan <a href="http://jcmc.indiana.edu/">JCMC</a> (<em>Journal of Computer Mediated Communication</em>).</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/heads.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="heads" border="0" alt="heads" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/heads_thumb.jpg" width="307" height="190" /></a> Y</strong>ang kedua, kalau dikatakan bahwa CMC adalah tentang bagaimana pesan dipilih dan disusun dan bagaimana <em>feedback</em> disampaikan melalui komputer, saya kira itu terlalu menyederhanakan masalah. Saya kira CMC bukanlah sekedar penelaahan konten pesan dalam rangka, misalnya, Strategi Komunikasi. Untuk mudahnya, saya mau mengatakan, <em>it’s a whole new world</em>. Moga-moga saya tidak berlebihan, tapi mungkin analogis seperti kalau di bumi kita bicara gravitasi dengan segala teori Fisikanya, maka begitu kita berpindah ke planet lain, dengan gravitasi yang lain, tentu saja semua teori itu akan harus diganti. Pada CMC, kita berbicara tentang Komunikasi Manusia melalui sebuah medium komputer yang terhubungkan ke jaringan (intranet, internet, atau apapun). Tentu karena pelakunya adalah manusia, masih ada beberapa <em>common sense</em> pada konteks sosial yang normal, yang bisa diterapkan pada bentuk komunikasi ini. Akan tetapi karena kekhasannya, tidak bisa semuanya lantas relevan untuk dianalogikan. CMC bukan sekedar penelahaan konten dalam rangka pengorganisasian pesan, analisis efektifitas, atau analisis efeknya. Yang dibahas di dalam CMC bisa menyangkut semua aspek dari Komponen Komunikasi, konteks, modus, hingga prosesnya.</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/socialmedia.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 10px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="socialmedia" border="0" alt="socialmedia" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/socialmedia_thumb.jpg" width="236" height="236" /></a> L</strong>alu berkenaan dengan kepastian apakah CMC merupakan sebuah bentuk komunikasi, saya malah mau mengatakan bahwa di dalam CMC ada bentuk-bentuk lain lagi yang lebih kecil / spesifik. Untuk itu saya memilih mengatakan bahwa CMC adalah <span style="text-decoration: underline">sebuah</span> Bentuk Komunikasi, sedangkan varian di dalamnya, saya sebut modus (dari kata bahasa Inggris, <em>modes</em>). Misalnya saja untuk email, kita bisa menunjuk ada varian <em>point-to-point</em> (dengan sub-varian lagi CC dan BCC), <em>mailing list</em>, <em>distribution list</em>, dan <em>newsgroup</em>. Untuk yang menggunakan <em>browser</em> kita bisa menunjuk adanya <em>online forum</em>, <em>social networking</em>, <em>social bookmarking</em>, <em>social tagging</em>, <em>blogging</em>, <em>file sharing</em>, dan sebagainya. Untuk yang menggunakan platform <em>software</em> tertentu kita bisa menunjuk penggunaan <em>Yahoo Messenger</em>, <em>MSN Messenger</em>, <em>Blackberry Messenger</em>, &#8230;.. semua ini berasumsi adanya pemetaan dengan upaya untuk membuat klasifikasi, dan ini jelas amat sangat tidak mudah. Apapun itu, saya mau mengatakan bahwa CMC adalah sebuah Bentuk Komunikasi. Dalam hal ini, akan sangat disayangkan bila mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi tidak memberi introduksi tentang ini, atau melewatkannya begitu saja pada bahasan “Ruang Lingkup Ilmu Komunikasi”, meski sekali lagi, sulit untuk membuat klasifikasi variasi bentuk komunikasi di dalam CMC.</p>
<p align="justify"><strong>Y</strong>ang ketiga, dan yang menurut saya agak kontroversial (he, he, he &#8230;.) adalah bahwa teori-teori yang kini telah ada pada Ilmu Komunikasi telah “memadai” dan “dapat diterapkan” pada CMC. Adanya hubungan sebab akibat yang repetitif pada sebuah fenomena dan telah dapat dibuktikan secara ilmiah kausalitasnya secara universal adalah sifat dari teori, tapi apakah klaim universalitas teori lantas mesti menafikan konteks? Lokus di mana CMC terjadi adalah sebuah konteks komunikasi yang berbeda dengan komunikasi yang konvensional, di mana teori-teori yang disebutkan itu (<em>Agenda Setting</em>, <em>Uses and Gratification</em>, Difusi Inovasi, Kredibilitas Media) dikembangkan. Saya kira kata “memadai” dan “dapat diterapkan” pada CMC jadi terdengar terlalu terburu-buru. Saya juga tidak mau terburu-buru mengatakan bahwa semua teori itu irelevan dengan CMC, tapi barangkali harus ada penyesuaian, modifikasi, atau bahkan penyusunan teori dari nol sama sekali. Sebagai contoh, memang betul <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Uses_and_gratifications_theory">Uses &amp; Gratification</a></em> adalah teori yang sekilas akan langsung bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena CMC, tapi Robert LaRose &amp; Matthew S. Eastin dalam “Journal of Broadcasting &amp; Electronic Media” (Sept, 2004) menyebutkan apa yang dinamakannya <em><a href="http://www.entrepreneur.com/tradejournals/article/122763711_1.html">media attendance</a></em>, sebagai sebuah faktor yang harus diperhatikan. Dengan mengutip beberapa penulis lainnya, mereka mengatakan :</p>
<p align="justify"><em>The addition of the Internet to the electronic media environment has renewed interest in the question of media attendance: the factors that explain and predict individual exposure to the media. Much of the research has been carried out by followers of the uses and gratifications tradition, who anticipated the medium as an exemplar of active media selection that could further validate the core tenets of that paradigm (Morris &amp; Ogan, 1996; Newhagen &amp; Rafaeli, 1996; Ruggerio, 2000).</em><em></em></p>
<p align="justify">Artinya, teori yang ada tidak bisa digunakan begitu saja pada konteks baru. Demikian pula hanya dengan teori <em>Agenda Setting</em>, yang dijelaskan di <a href="http://mediaconvergence.org/blog/?p=163">sini</a>.</p>
<p align="justify"><strong>T</strong>inggal pertanyaannya, apakah semua teori Ilmu Komunikasi yang sudah ada bisa menjelaskan semua fenomena Komunikasi pada CMC? Saya kita tidak. Saya kira akan ada saatnya ditemui kebutuhan untuk membuat teori baru.</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/unsn.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="unsn" border="0" alt="unsn" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/IlmuKomunikasiSaatnyaCMCdiIndonesia2_B840/unsn_thumb.jpg" width="254" height="211" /></a> B</strong>erkaitan dengan itu, saya sebenarnya sudah melakukan eksperimen kecil, dan apa yang menjadi dugaan rahasia saya ternyata terbukti. Sebenarnya, ini berdasarkan sebuah temuan <a href="http://personalpages.manchester.ac.uk/staff/martin.lea/papers/2003%20Watts,%20Nugroho%20Lea%20INTERACT03.pdf">penelitian</a> yang akhirnya menyimpulkan bahwa bila sebuah komunitas terdiri dari orang-orang yang satu sama lain telah saling mengenal atau dapat mengidentifikasi secara sosial diajak bekerjasama secara melalui Internet, maka tingkat kolaborasi yang terjadi akan cenderung lemah. Ini berbeda jika anggota komunitas itu tidak saling mengenal dan tidak dapat mengidentifikasi satu sama lain secara sosial. Nah, eksperimen saya adalah sebuah blog di <a href="http://idcmc.wordpress.com">http://idcmc.wordpress.com</a>. Silahkan baca isinya dan reka sendiri eksperimen apa yang saya maksud. Kebetulan sekali yang saya undang ikut serta adalah orang-orang yang saling kenal dan bisa mengidentifikasi satu sama lain secara sosial (mereka yang sudah memberikan tanggapan pada tulisan saya sebelumnya di <a href="http://www.facebook.com/">Facebook</a>). Ternyata benar! Tingkat kolaborasinya rendah, &#8230; malah sebenarnya tidak ada sama sekali. Ha, ha, ha &#8230;.</p>
<p align="justify"><strong>I</strong>tu bukan (belum) sebuah teori. Tapi apakah kita bisa membayangkan itu bisa dideduksikan dari teori-teori Ilmu Komunikasi yang ada sekarang?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomita.web.id/?feed=rss2&amp;p=1095</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koneksi Internet dengan Modem CDMA (SMART &#8211; EVDO)</title>
		<link>http://tomita.web.id/?p=1094</link>
		<comments>http://tomita.web.id/?p=1094#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 07:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomita.web.id/?p=1094</guid>
		<description><![CDATA[Dengan satu dan lain cara, akhirnya saya berhasil mendapatkan modem EVDO dari salah satu provider CDMA yang kini namanya semakin banyak dibicarakan, yaitu SMART. Provider ini sendiri sebenarnya menyediakan beberapa alternatif untuk koneksi internet, tapi yang dalam bentuk modem hanya ada satu, yaitu dari produk ZTE, dengan tipe AC 2726. Frekuensi yang didukungnya hanya satu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/KoneksiInternetdenganModemCDMASMARTEVDO_C17C/smarttelecom.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="smart-telecom" border="0" alt="smart-telecom" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/KoneksiInternetdenganModemCDMASMARTEVDO_C17C/smarttelecom_thumb.jpg" width="150" height="150" /></a> D</b>engan satu dan lain cara, akhirnya saya berhasil mendapatkan modem EVDO dari salah satu provider CDMA yang kini namanya semakin banyak dibicarakan, yaitu <a href="http://www.smart-telecom.co.id/">SMART</a>. Provider ini sendiri sebenarnya menyediakan beberapa alternatif untuk koneksi internet, tapi yang dalam bentuk modem hanya ada satu, yaitu dari produk ZTE, dengan tipe AC 2726. Frekuensi yang didukungnya hanya satu, yaitu 1900 Mhz sehingga praktis karena yang menggunakan jalur frekuensi ini (sekarang) hanya <a href="http://www.smart-telecom.co.id/">SMART</a>, maka modem ini tidak bisa digunakan untuk provider lainnya, meski (katanya modem ini tidak dikunci hanya untuk <a href="http://www.smart-telecom.co.id/">SMART</a>). </p>
<p align="justify"><b>P</b>ada paket penjualannya, kita akan mendapatkan :</p>
<p align="justify">1. Modem ZTE tipe AC2726</p>
<p align="justify">2. Sebuah kabel USB Extension</p>
<p align="justify">3. Kartu SIM Card <a href="http://www.smart-telecom.co.id/">SMART</a></p>
<p align="justify">4. Manual</p>
<p align="justify">5. Kartu Garansi ZTE</p>
<p align="justify">6. Daftar Tempat Servis ZTE</p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/KoneksiInternetdenganModemCDMASMARTEVDO_C17C/ModemAC2726.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="ModemAC2726" border="0" alt="ModemAC2726" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/KoneksiInternetdenganModemCDMASMARTEVDO_C17C/ModemAC2726_thumb.jpg" width="148" height="156" /></a> M</b>enurut stiker yang ada di bungkusnya, harga paket modem ini adalah 888 ribu, maka dengan pajak 10% berarti harga jual normalnya adalah sekitar 975 ribuan. Tapi untungnya, saya bisa mendapatkannya hanya dengan 950 ribu saja, dengan jaminan bahwa isinya tetap sama, meski plastiknya sudah agak kusut dan kusam. Setelah didaftarkan dan diaktifkan, langsung bisa digunakan. Ternyata semua <i>software</i> yang dibutuhkan sudah ada di dalam modemnya, sehingga bila kita tancapkan di sebuah komputer, dia akan melakukan instal secara otomatis. Prosesnya cukup cepat, dan langsung bisa digunakan. </p>
<p align="justify"><b><a href="http://tomita.web.id/pixes/KoneksiInternetdenganModemCDMASMARTEVDO_C17C/smartpaket.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="smartpaket" border="0" alt="smartpaket" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/KoneksiInternetdenganModemCDMASMARTEVDO_C17C/smartpaket_thumb.jpg" width="182" height="190" /></a> K</b>etika itu saya mencobanya untuk pertama kali di toko dengan sebuah <i>netbook</i>. Sinyalnya penuh, dan ada tanda EVDO di sampingnya. <i>Browsing</i> sama sekali tidak ada masalah, membuka beberapa tab juga tidak ada masalah sama sekali. Tentu saja saya tidak mungkin mencoba semuanya, &#8230; tapi secara umum nampaknya memuaskan. Menurut penjaga <i>counter</i>, saya bisa menggunakannya secara gratis secara 100 hari, alias 3 bulan, dan ini adalah <i>unlimited</i>, &#8230; jadi tidak ada batasan dalam sehari saya mau download berapapun, &#8230; tapi kemudian ia bilang bahwa kalau sudah mencapai batas tertentu (saya lupa) maka kecepatannya akan menurun. Setelah itu, tentu saja saya harus membayar sesuai dengan jenis paket yang akan digunakan.</p>
<p align="justify"><b>B</b>icara soal <a href="http://www.smart-telecom.co.id/">SMART</a>, semua orang pasti jadi ingat iklan di televisi yang menunjukkan seorang polisi yang tiba-tiba muncul di kamar seseorang yang mengingatkan kalau internetnya sangat cepat, &#8230; atau adegan ketika seseorang sedang membuka <a href="http://www.youtube.com/">YouTube</a>, dan tayangan gambarnya berhenti / patah-patah, tapi ketika diganti <a href="http://www.smart-telecom.co.id/">SMART</a>, maka tayangan berupa <i>live show</i> sebuah <em>band</em> itu jadi lancar. Apakah pada kenyataannya demikian? Sayangnya, saya terpaksa bergabung dengan rombongan orang-orang yang kecewa.</p>
<p align="justify"><b>Y</b>ang gampang saja. Saya masuk ke <a href="http://www.youtube.com/">YouTube</a>, dan memilih sembarang video, lalu <i>playback</i>. Apakah tayangannya lancar? Ternyata sama sekali tidak. <i>Buffering</i>-nya juga sangat lama. Malah, mau masuk ke halaman <a href="http://www.youtube.com/">YouTube</a> saja sudah lama sekali. Berdasarkan pengalaman saya sebelum ini untuk koneksi CDMA dengan provider Flexy menggunakan modem VT-12, saya mendapatkan bahwa ternyata kecepatan bergantung pada posisi di mana kita sedang berada. Ini juga sama dengan berarti kecepatan bergantung pada posisi relatif kita dengan BTS yang terdekat dengan kita, dan (mungkin juga) bergantung pada kualitas layanan internet yang ada di BTS itu sendiri. Saya baru mencoba di dua tempat di Bandung; di sekitar Setiabudi dan Cihampelas. Dua-duanya sama-sama lambat.</p>
<p align="justify"><b>H</b>al lain adalah, katanya kalau sinyal EVDO sedang tidak ada, kita masih bisa menggunakan CDMA 1X, hanya jelas kecepatannya tidak akan sama dengan EVDO. Dari pengalaman saya, saya malah baru bisa melakukan <i>browsing</i>, hanya kalau EVDO-nya aktif dengan beberapa bar sinyal. Kalau sinyal EVDO ada, tapi bar sinyalnya tidak keluar, maka <i>browsing</i> sama sekali tidak bisa. Ini apalagi kalau yang keluar hanya CDMA 1X: lebih parah lagi! Berkenaan dengan EVDO ini, pertama kali saya mencoba di kantor adalah ketika cuaca di Bandung sangat buruk; ada hujan, angin, dan petir. Ketika itu saya melihat bahwa sinyal EVDO sama sekali tidak ada. Ketika semua reda, baru EVDO bisa muncul. Nampaknya EVDO cukup rentan dipengaruhi cuaca ?</p>
<p align="justify">Hal lain tentang paket modem (yang saya beli) ini adalah :</p>
<ol>
<li>
<div align="justify">Ada stiker yang mengatakan bahwa masa berlaku paket ini adalah hingga 31 Desember 2010. Padahal saya membelinya bulan Februari 2010. Kata penjualnya itu hanya sekedar stiker saja, dan dia sudah membuktikan bahwa memang internetnya (masih) bisa digunakan. Tapi apakah ini yang membuat saya tidak dapat menikmati <i>high speed</i> ?</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Pada modem juga ada <i>slot</i> miniSD, tapi dengan rekomendasi agar tidak dipasang <i>card</i> yang lebih dari 4G, karena katanya akan membuat koneksi jadi lambat.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Saya coba instal di laptop saya yang punya 3 sistem operasi: Windows 7 Enterprise, Windows Vista Ultimate, dan Windows XP SP3. Anehnya, modem ini hanya bisa jalan pada sistem operasi <i>default</i>. Saya buat agar <i>default</i>-nya adalah Windows 7. Modem tidak bisa jalan di Vista dan XP, meski <em>software</em> terinstal dengan sempurna. Aneh. Oh iya, saya pasang juga di Windows 7 64 bit, ternyata bisa (bukan multi operating system, tunggal saja).</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Pada manual disebutkan akan muncul tanda tertentu kalau koneksinya <i>roaming</i>. Anehnya tanda itu di saya ada. Padahal saya di Bandung, dan nomer SMART yang saya gunakan adalah area Bandung (lengkapnya BANDUNG JAVA-2). Bukankah <i>roaming</i> itu maksudnya kalau kita menggunakan layanan ini di luar kota?</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Entah saya belum menemukannya, atau memang pada kenyataannya tidak ada, &#8230; di buku manual disebutkan bahwa pada <i>software</i> modem ini ada fitur <i>manual update</i> dan <i>auto update</i>, tapi saya sudah cari-cari, keduanya tidak ada. Jadi, sebenarnya apakah ada <i>software support </i>untuk produk ini?</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Bila kita klik <i>Help</i> pada <i>software</i>-nya dan kita pilih <i>online service</i>, maka <i>browser</i> akan mencoba membuka halaman <a href="http://www.ztemt.com/ennewzte/default.action">http://www.ztemt.com/ennewzte/default.action</a> &#8211; tapi ternyata halaman itu kosong belaka, malah menunjukkan kalau halaman itu sebenarnya tidak ada!</div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><b>D</b>emikian pengamatan saya atas paket modem <a href="http://www.smart-telecom.co.id/">SMART</a> ini. Barangkali memang ada trik-trik yang harus dilakukan agar koneksinya bisa optimal. Anyway, saya berpendapat ini adalah layanan internet yang cukup murah, selain dari Flexy yang telah saya <i><a href="http://tomita.web.id/?p=1054">review</a></i> sebelumnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomita.web.id/?feed=rss2&amp;p=1094</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Data Hilang? Getdataback!</title>
		<link>http://tomita.web.id/?p=1091</link>
		<comments>http://tomita.web.id/?p=1091#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 01:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komputer/Internet]]></category>
		<category><![CDATA[data recovery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tomita.web.id/?p=1091</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah testimoni tentang sebuah perangkat lunak data recovery. Baru kali ini saya menemukan sendiri bahwa perangkat lunak yang free / gratis ternyata memang tidak memberikan semua fungsi / kinerja yang kita harapkan. Ini karena saya sudah mencoba beberapa perangkat lunak yang gratis itu, tapi sama sekali tidak menolong saya menemukan data yang hilang. Kebetulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/DataHilangGetdataback_6E5D/datarecovery.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="data recovery" border="0" alt="data recovery" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/DataHilangGetdataback_6E5D/datarecovery_thumb.jpg" width="265" height="185" /></a> I</strong>ni adalah testimoni tentang sebuah perangkat lunak <em>data recovery</em>. Baru kali ini saya menemukan sendiri bahwa perangkat lunak yang <em>free</em> / gratis ternyata memang tidak memberikan semua fungsi / kinerja yang kita harapkan. Ini karena saya sudah mencoba beberapa perangkat lunak yang gratis itu, tapi sama sekali tidak menolong saya menemukan data yang hilang. Kebetulan saya menemukan sebuah CD yang judulnya Hiren’s Boot &amp; Recovery CD Ver 9.3, yang sebenarnya adalah sebuah kompilasi dari beberapa perangkat lunak berbeda yang dibuatkan semacam menunya. Saya gunakan salah satunya di situ yang bernama <a href="http://www.runtime.org/data-recovery-software.htm" target="_blank">Getdataback</a>. Perangkat lunak ini berbayar, dan ternyata cukup ampuh.</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/DataHilangGetdataback_6E5D/hd.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="hd" border="0" alt="hd" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/DataHilangGetdataback_6E5D/hd_thumb.jpg" width="275" height="202" /></a> C</strong>eritanya, saya punya sebuah <em>harddisk</em> Seagate 80 Giga yang saya pasangkan ke dalam sebuah <em>casing</em> eksternal. Isinya adalah <em>backup</em> dari data yang saya buat di komputer utama. Dua hari lalu, tanpa sebab yang jelas, <em>harddisk</em> itu sama sekali tidak bisa diakses. Saya langsung cemas, karena sehari sebelumnya saya menyapu bersih data di <em>harddisk </em>komputer utama untuk keperluan instal ulang Windows 7. Saya langsung coba beberapa perangkat lunak gratis yang saya <em>download</em> dari Internet. Pilihan cepat saya adalah pada <a href="http://www.download.com/" target="_blank">download.com</a>. Dengan kata kunci “data recovery” lalu memilih filter “Windows 7” saya mendapatkan beberapa yang langsung saya coba, antara lain: R-Data Recovery Scanner, File Scavenger Data Recovery Utility, Power Data Recovery, Harddisk Drive Data Recovery … dan beberapa yang lain, sampai tidak ingat. Ada yang tidak bisa diinstal, ada yang dari GUI-nya saja saya sudah tidak yakin, … dan yang terakhir saya coba adalah EASEUS Data Recovery Wizard 4.8. Yang terakhir itu bisa menemukan partisi yang hilang pada <em>harddisk</em> dan bisa menemukan kembali datanya. Akan tetapi masalahnya, hanya 3 partisi yang ditemukan dari 4 yang ada di dalamnya. Justru satu partisi itu yang saya cari karena di dalamnya ada semua data dokumen penting saya.</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>aya sempat berpikir untuk mencari distro Linux yang mungkin ada yang dikhususkan untuk <em>data recovery</em>, karena saya pikir akan menunjukkan hasil yang berbeda, tapi ternyata distro itu tidak ada. Mungkin ada, tapi saya belum menemukannya. Dalam keadaan seperti ini yang saya perlukan adalah ketenangan, karena kalau tidak, saya tidak akan menolong diri sendiri, malah lebih merusak. Saya diamkan dulu urusan ini beberapa saat, sampai sorenya, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya ingat dulu pernah diberi satu kopi CD Hiren’s itu tadi. Keesokan harinya saya langsung coba itu (untung saja ketemu di antara tumpukan CD-CD lama). CD itu punya <em>autorun</em>, kalau dimasukkan ke <em>drive</em> dia langsung memunculkan menu. Menu itu pada dasarnya mengorganisasi beberapa perangkat lunak buatan pihak-pihak yang berbeda untuk kepentingan rekoveri data dan reparasi komputer. Karena itu tentu kita bisa menemukan setiap perangkat lunak itu secara terpisah di Internet.</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/DataHilangGetdataback_6E5D/menuhiren.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="menuhiren" border="0" alt="menuhiren" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/DataHilangGetdataback_6E5D/menuhiren_thumb.jpg" width="320" height="113" /></a> L</strong>angsung saya pilih menu <em>Recovery</em>, dan pilih Getdataback-FAT. Saya pilih berdasarkan intuisi saja, lalu saya pilih FAT karena memang <em>harddisk</em> itu saya format dengan FAT32. Di menu itu hanya ada pilihan Getdataback NTFS dan FAT saja. Versi yang saya gunakan adalah 2.31. Setelah <em>harddisk</em> di-<em>scan</em>, lalu klik tombol-tombol berikutnya (yang <em>common sense</em> saja), sampailah pada tahap <em>scanning</em> keseluruhan <em>harddisk</em> yang memakan waktu satu jam lebih. Yang keluar kemudian adalah pilihan untuk memulihkan kembali data berdasarkan blok sektor <em>harddisk</em>. Saya mulai dari sektor (dengan angka) kecil ke yang besar. Baru selesai dengan blok sektor pertama, ternyata berkas-berkas yang saya cari ada semua. Saya klik kanan dan pilih <em>copy</em>. Ternyata program ini meminta untuk mengkopi berkas temuannya tadi ke <em>drive</em> / <em>harddisk</em> lain. Saya lakukan itu, dan sampai sekarang hampir semua berkas / data yang hilang bisa dimunculkan kembali; meski saya belum periksa secara menyeluruh apakah isinya masih sama atau tidak. Saya bilang begini karena bisa saja sebuah berkas / <em>file </em>ditemukan tapi isinya barangkali rusak atau tidak relevan.</p>
<p align="justify"><strong><a href="http://tomita.web.id/pixes/DataHilangGetdataback_6E5D/gdb.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 5px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="gdb" border="0" alt="gdb" align="left" src="http://tomita.web.id/pixes/DataHilangGetdataback_6E5D/gdb_thumb.jpg" width="281" height="135" /></a> G</strong>etdataback, seperti telah saya singgung sebelumnya, adalah perangkat lunak berbayar, dan ternyata yang berbayar itu memang beda kinerjanya dengan yang gratis. Saya coba <a href="http://www.google.com/" target="_blank">Google</a>, ternyata sebenarnya ada versi Getdataback yang lebih tinggi dari yang saya gunakan, tapi ya itu: berbayar. Saya <em>search</em> lebih jauh, ternyata ada tempat-tempat yang menyimpan Getdataback versi lebih baru (untuk versi NTFS maupun FAT) dengan <em>serial number</em>-nya sekalian. <em>Sorry,</em> tidak akan saya tuliskan itu di sini. S<em>earch</em> saja sendiri.</p>
<p align="justify"><strong>S</strong>elain testimoni dan&#160; <em>sharing</em>&#160; soal&#160; perangkat&#160; lunak&#160; ini&#160; saya&#160; juga ingin menuliskan apa yang selama ini saya tahu tentang rekoveri data komputer: (maaf barangkali ini tidak berurutan)</p>
<ol>
<li>
<div align="justify">Semua <em>harddisk</em> PASTI akan rusak. Hanya <u>tinggal menunggu waktu</u> saja. Semua perangkat komputer dibuat dengan konsep adanya MTBF alias <em>Mean Time Between Failure </em>atau adanya waktu / usia pemakaiannya. Oleh karena itu <u><em>backup</em></u> menjadi wajib hukumnya. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Bila <em>harddisk</em> sama sekali tidak bisa diakses, kita harus memastikan apakah kerusakannya hanya karena partisinya rusak / hilang, atau kerusakan fisik <em>harddisk</em>. Kerusakan fisik <em>harddisk</em> ditandai dengan a). tidak bisa dideteksinya <em>harddisk</em> oleh BIOS, b) <em>harddisk</em> dideteksi oleh BIOS secara salah (terutama dalam hal pembacaan kapasitas – misalnya <em>harddisk</em> 80G terbaca 120G). </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Bila ada kejadian data hilang di komputer, sebaiknya kita tidak menambahkan atau mengurangi <em>file</em> lain di lokasi yang sama. Lokasi yang dimaksud bisa pada sebuah <em>harddisk</em>, sebuah <em>folder</em>, atau sebuah <em>flashdisk</em>. Pada sebuah kamera digital misalnya, bila ada sebuah foto yang terhapus dan kita ingin memunculkannya lagi, maka lebih baik kita tidak memotret lagi sebelum kita lakukan proses rekoveri pada foto yang hilang itu.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Kehilangan data pada komputer bisa berarti hilangnya sebuah berkas / <em>file</em>, bisa pula hilangnya partisi, yang mengakibatkan sebuah <em>drive</em> sama sekali tidak bisa diakses. Sama dengan hilangnya berkas, bila partisi rusak, sebaiknya kita tidak membuat partisi baru pada <em>drive</em> tersebut.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Bila <em>harddisk</em> tidak bisa diakses, lebih baik <em>harddisk</em> tersebut di ‘oprek’ sebagai <em>slave</em> pada komputer lain. <em>Harddisk</em> tersebut HARUS dipastikan tidak diubah apapun, bahkan <em>volume label</em>-nya sekalipun. Saya pernah mengubah <em>volume label</em> sebuah harddisk dari nama aslinya ke nama saya sendiri: Tom – karena kebetulan ada banyak <em>harddisk</em> serupa yang harus saya tangani. Ternyata <em>harddisk</em> tersebut sama sekali tidak bisa dikembalikan partisinya. (Soal mengubah <em>volume label</em> ini perlu konfirmasi lagi secara teknis, karena bisa saja saya waktu itu hanya sekedar sial).</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Bila sebuah berkas terhapus dari <em>harddisk</em>, itu tidak berarti bahwa berkas tersebut benar-benar hilang. Sistem operasi hanya sekedar memberi tanda pada berkas tadi sebagai tidak ada dan menandai tempat berkas tersebut pada <em>harddisk</em> sebagai spasi kosong dan bisa ditempati oleh berkas lain. Oleh karena itu, bila kita mengkopikan berkas baru pada <em>drive</em> tersebut, ada kemungkinan spasi dari berkas yang hilang sebelumnya ditempati oleh berkas yang baru. Dalam kasus ini upaya untuk merekoveri berkas yang hilang tadi bisa jadi sangat sulit atau malah tidak mungkin sama sekali.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Bila berkas yang hilang / terhapus sudah kita temukan dengan perangkat lunak rekoveri, berkas tersebut lebih baik tidak di-<em>save</em> di <em>drive</em> / <em>harddisk</em> yang sama, tapi HARUS di <em>drive</em> lain. Ini karena posisi yang ditempati oleh berkas yang sudah ditemukan bisa jadi akan menggunakan tempat berkas-berkas lain yang akan direkoveri.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Tidak semua orang memiliki <em>harddisk</em> lebih dari satu atau siap dengan situasi krisis berupa hilangnya data. <em>Backup</em> menjadi amat sangat penting, bahkan <em>backup</em> pun mungkin perlu di <em>backup</em> lagi. Karena berkas yang ditemukan HARUS di-<em>save</em> ke <em>drive</em> lain, barangkali ada baiknya kita menggunakan <em>flashdisk</em> yang ukurannya cukup besar, atau kalau tidak, minta bantuan orang lain. Ini karena men-<em>save</em> berkas yang ditemukan pada <em>drive</em> yang sama malah akan membuat berkas yang hilang jadi jauh lebih banyak daripada yang ditemukan.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Bila <em>harddisk</em> mengalami kerusakan fisik, kemungkinan rekoveri data sangat sulit bahkan bisa jadi tidak mungkin. Kemungkinan terakhir untuk ini adalah (cukup sulit) mengganti <em>card</em> <em>harddisk</em> (komponen elektronik yang menempel pada <em>harddisk</em>) dengan yang baru dari jenis yang sama.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Semua perangkat komputer yang memiliki unsur mekanik (yang bergerak) akan cenderung lebih cepat rusak. Pada <em>harddisk</em> terdapat motor yang menggerakkan komponen <em>head</em> untuk membaca pelat di dalamnya. Ada <em>harddisk</em> jenis baru yang tidak menggunakan motor, yaitu SSD atau <em>Solid State Disk</em>. Harganya sekarang masih mahal, namun demikian dapat diperkirakan bahwa MTBF-nya lebih tinggi daripada <em>harddisk</em> biasa.</div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>D</strong>emikian yang selama ini saya ketahui. Semoga kehilangan data adalah kejadian yang tidak pernah menimpa siapa pun juga; karena hilangnya data bisa berarti hilangnya sebagian dari jejak eksistensi kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tomita.web.id/?feed=rss2&amp;p=1091</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
